Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 46


__ADS_3

Refandi tidak sedikitpun melepaskan pelukan dari sang istri, dan menciumi sang istri bertubi tubi, dia tidak bisa membayangkan hari hari yang di lalui sang istri selama ini, begitu berat perjuangan sang istri sampai bertemu dengan dirinya, beruntungnya dia tidak pernah menyakiti sang istri selama ini, walau di awal awal dia sedikit tidak terima, apa lagi tau klau orang tuanya memberikan uang yang tidak sedikit kepada orang tua angkat Malika, namun melihat sikap Malika yang baik, penurut dan tidak neko neko, tentu saja menyukai Malika tidak butuh waktu yang lama bagi Refandi.


"Sayang" ujar Tante Tania.


"Iya Tante" ujar Malika dengan wajah sembabnya.


"Kamu mau ngak tinggal di rumah kamu yang lama, berasa tante dan kakak kakakmu ini?" ujar Tante Tania, yang rasa rasanya dia tidak ingin lagi berpisah dengan sang keponakan.


Malika melihat ke arah sang suami, walau dia sangat ingin tinggal dengan keluarganya, namun itu tentu saja tidak mungkin, karena sekarang dia punya suami, tentu saja dia butuh persetujuan sang suami.


Refandi tau, sang istri masih begitu merindukan keluarga yang baru dia temukan itu, tentu saja Refandi tidak ingin menolak, apa lagi dia juga sangat tau, Mami sahabatnya yang sekarang juga naik tingkat menjadi mertuanya itu sempat sakit sakitan gara gara kehilangan keponakannya itu, dia mengangguk menyetujui permintaan tante Tania.


Melihat Anggukan Refandi itu, reflek saja tante Tania memeluk Refandi.


"Makasih sayang, makasih, kamu mau memenuhi permintaan tante" ujar Tante Tania.


"Sudah sewajarnya tante, aku juga ingin melihat istriku bahagia, dan aku juga tenang klau bekerja pulang larut malam, karena istriku ada yang menemaninya di rumah" ujar Refandi, walau nantinya dia kehilangan banyak waktu untuk berduaan bersama sang istri, itu tidak mengapa, asal dia bisa melihat wajah bahagia sang istri, dan dia juga ingin istri cantiknya merasakan kasih sayang orang tua, walau bukan dari orang tua kandungnya sendiri, tapi Refandi bisa melihat, tante Tania sangat mencintai sang istri, dan dia yakin sang istri akan lebih bahagia lagi, klau berdekatan dengan tantenya, Malika pasti tidak akan merasa kesepian lagi, menunggu dirinya pulang bekerja.


"Ahhh... Kau benar benar pengertian adik ipar" ujar Tomy, menepuk nepuk punggung Refandi.

__ADS_1


"Ncek... Kau jangan suka peluk peluk istri ku. Dan sekarang adikmu sudah di temukan kapan kau akan menikahi Lisa?, klau kau masih mengundur undur waktu lebih baik Lisa mencari pasangan baru saja" ujar Refandi.


"Kurang ajar, dia tidak akan menjadi milik siapa siapa, Lisa hanya milik aku seorang" kesal Tomy.


"Klau begitu, cepatlah nikahi kak Tania kak" ujar Malika ikut nimbrung dengan pembicaraan dua laki laki tampan.


"Dan. Ingat satu hal lagi, kamu juga mulai memimpin perusahaan" ujar Papi Indra, yang sudah lama menginginkan anaknya itu bergabung di perusahaannya itu.


"Satu lagi, setelah menikah. Mami inginnya kalian tinggal bersama sama kami, jangan berpisah dari kami, cukup Mami kehilangan adikmu dan sekarang Mami tidak ingin lagi berpisah dari kalian" ujar Mami Tania.


"Aku akan membicarakan itu dengan Lisa Mam, semoga saja Lisa mau tinggal bersama kita" ujar Tomy.


"Hah.... Tinggalah aku jomblo seorang diri di rumah, aku mau pindah ke planet mars saja kalau gitu" ujar Tama sok dramatis.


Pecah sudah tawa mereka melihat wajah nelangsa Tama tersebut.


"Jangan tertawakan aku, aku sudah kehilangan cinta pertamaku" dengus Tama.


"Ha... Kamu punya cinta pertama, siapa itu? kok Mami baru tau" ujar sang mami penasaran.

__ADS_1


"Cinta pertama ku adik ku sendiri Mami hiks... hiks... hilang sudah harapanku" ujar Tama pura pura menangis.


Hahahaha....


Kembali pecah tawa mereka melihat penderitaan Tama.


"Apa kalian begitu bahagian dengan penderitaan ku" ketus Tama.


"Ooohhh.... Kasihan anak Mami, sini sayang cup... cup...." ujar Momi.


Tama hanya mendengus kesal melihat itu, karena dia tau Maminya itu hanya meledek dirinya, bukan sedang menenangkan dirinya.


"Kalian memang kejam, aku pergi sajalah, masih banyak tugasku yang belum selesai" kesal Tama.


"Haiii.... Jangan ngambek, kita makan siang bersama dulu kak" ujar Malika dengan suara lembut.


"Baiklah, karena Malika memaksa, aku tidak jadi pergi" ujar Tama kembali duduk.


Tomy dan Refandi hanya memutar mata malas melihat tingkah Tama.

__ADS_1


Papi Indra hanya geleng geleng kepala dan dia sangat senang dengan kebahagian ini, apa lagi sang istri kembali bisa tersenyum lepas, entah sudah berapa lama dia tidak melihat senyum tulus sang istri.


Bersambung....


__ADS_2