Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 92


__ADS_3

Hari ini Ana mulai masuk sekolah, pagi pagi sekali dia sudah bangun, dan membantu sang ibu beberes rumah yang lumayan luas dan lantai dua itu, namun tidak begitu kotor, lagian Refandi tiap satu minggu sekali selalu menyuruh orang untuk membersihkan rumah itu, jadi kerjaan bi Siti tidak terlalu berat di sana.


"Waahhh... anak ibu cantik banget pakai seragam sekolah ala ala gadis korea." ujar Bi Siti memuji sang anak, yang terlihat sangat cantik dengan rambut di ikat dua, namun tidak di ikat semua, dandan tipis tipis pakai bedak baby dan pakai lip glos yang di belikan oleh Malika, tentu saja harga ngaknya kaleng kaleng, Ana mana tau harga produk yang dia pakai, bisa menciutnya nyali melihat harga satu lip glos nya itu.


Ana memakai baju putih sekolah biasa, rok kotak kotak di atas dengkul sedikit, pakai jas, tidak lupa pakai dasi dan kaos kaki panjang warna putih, sepatu kets warna hitam, tas di punggung dan laptop di jinjing, bagaimana ibunya tidak terpesona melihat penampilan sang anak, dulu di kampung hanya memakai rok hijau biasa dan tas lusuh, sepatu hampir sobek.


"Gimana udah cantik belum anak ibu," ujar Ana memutar mutar badannya dan setelah itu duduk menopang dagu dengan mata di kedip kedipin, membuat bi Siti tertawa renyah, melihat tingkah sang anak.


"Anak ibu pasti cantik dan pintar." bangga Bu Siti.


"Iya dong, ibunya saja cantik, dan juga pintar, coba saja ngak nikah sama bapak tedekuk itu pasti hidup ibu ngak kaya gini." cibik Ana yang belum juga bisa melepas sakit hatinya, wajar sih, bertahun tahun dia melihat penderitaan sang ibu, yang selalu di tindas oleh keluarga bapaknya, bapaknya itu tidak sama sekali membela sang ibu, dia sakit atau ibunya sakit, bapaknya lebih memilih tidur di rumah orang tuanya.


"Huss... ngak boleh gitu, klau Ibu ngak menikah sama ibu kamu belum tentu ada di dunia ini." ujar Sang ibu.


"Ahhh... iya ya bu, ya sudah lah, lupakan saja dia, mari kita bersenang senang di sini, do'ain Ana jadi orang sukses ya, nanti klau Ana sudah sukses dan punya banyak uang, kita pergi keliling dunia berdua, kita naik haji, minimal umbroh, tetap selalu du samping Ana ya bu, sehat selalu." ujar Ana jadi melow memeluk sang ibu.


"Pasti nak, pasti ibu do'ain kamu jadi anak yang sukses, dan ibu aka selalu ada untuk kamu sayang, belajar lah dengan baik, jangan pacar pacaran dulu ya, jangan seperti ibu, yang termakan janji palsu laki laki, raih cita citamu setinggi langit, baru pikirin laki laki, jadi lah wanita mandiri, jangan bergantung sama laki laki, ingat kamu juga harus bisa membanggakan Malika dan keluarganya nak, jangan bikin mereka kecewa, bersyukur kita bertemu mereka, kalau tidak, ibu ngak tau hidup kita akan seperti apa." ujar Sang ibu, membalas pelukan Ana, dan menepuk nepuk bahu Ana.


"Iya bu..." sahut Ana mengangguk dalam dekapan sang ibu.


"Yuk, sarapan. Nanti kamu telat loh, ibu sudah menyediakan bekal kamu." ujar Bu Siti mengajak Ana sarapan, Ana sarapan dengan nasi goreng ke sukaannya, dan segelas susu.


"Ana berangkat ya bu, ibu hati hati di rumah, jangan lupa kunci pagar dan pintu, takut orang asing masuk, jangan porsir tenaga ibu ok," ujar sang anak.


"Iya bawel, nanti kamu terlambat, sana berangkat." omel sang ibu, sambil tersenyum manis.


"Dada... Ibu..." Ana melambaikan tangannya dan di balas oleh bu siti dengan senyum haru nya.

__ADS_1


"Dengan Nona Ana?" tanya sopir yang sudah mangkal di depan pagar rumah Refandi itu.


"Haaa... Iya saya sendiri." ujar Ana.


"Mari Non, saya anter ke sekolah." ujar sang sopir


"Heee... saya ngak pesan taxi on line." bingung Ana, karena memang tidak merasa memesan taxi, tapi kenapa ada yang mengenal dirinya, Ana menjadi takut sendiri.


"Hehehe... maaf saya menakuti anda Nona, kenalkan, saya supir Nyonya Malika, hari ini mulai seterusnya saya di suruh mengantar jemput anda sekolah dan pergi kemana pun, lagian mana ada mobil mewah gini di jadiin taxi on line Nona." Kekeh mang Karyo.


"Hiii... ngak mungkin deh, mana ada gitu, kak Malika kan ngak nelpon saya." tolak Ana.


"Baiklah kita vidio call nyonya saja." ujar mang karyo.


"Ya mang..." jawab Malika dari sebrang sana.


"Ini Nya, nona Ana ngak percaya sama saya." ujar mang Karyo.


...


Setelah melakukan Vidio call baru lah Ana percaya dengan mang karyo.


"Hidup saya sudah kaya Nona muda saja mang." kekeh Ana saat mereka sudah di dalam mobil.


"Kenapa begitu Nona?" bingung Mang Karyo.


"Gimana ngak kaya Nona muda coba, semua kebutuhan saya dia lengkapi oleh kak Malika, sekolah di sekolah mahal, bergengsi pula, di kasih tempat tinggal mewah, dan sekarang di anter jemput pakai mobil mewah, plus ada sopir lagi, sedangkan selama ini bermimpi pun saya tidak berani, bisa makan dan sekolah di sekolah Nageri saja saya sudah bersyukur, dengan bapak saya saja saya tidak pernah di manja seperti ini, sama orang lain yang baru saya kenal, saya di perlakuan bak tuan Putri." kekeh Ana dengan mata yang memerah menahan tangis.

__ADS_1


"Nona orang baik, ibu anda juga orang baik, selama ini, sudah di buat menderita sama bapak anda, dan sekarang waktunya anda bahagian Nona, kenapa harus sedih?" tanya Mang Karyo.


"Saya tidak sedih, cuma serasa semua seperti mimpi saja, hidup saya bagai membolak balikan telapak tangan, kemaren sengsara banget, sekarang bagai orang kaya, semua yang saya mau bahkan belum sempat terfikirkan, namun sudah tersedia." kekeh Ana.


"Anda bersyukur Nona, jangan sia siska ke sempatan yang ada, banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisi anda sekarang ini, namun anda sudah di sini, memanfaatkan dengan baik, apa yang sudah anda miliki, jangan kecewakan orang yang telah menolong anda." nasehat Mang karyo.


"Iya mang, pasti itu, tegur saya klau saya salah mang, maklum saya baru melek." kekeh Ana.


"Siap nona." ujar Mang karyo ikut terkekeh.


"Sudah sampai Nona, nanti saya jemput lagi, semangat menjemput mimpi," ujar Mang karyo.


"Baik mang, makasih.." ujar Ana.


"Mang..." ujar Ana, menujulurkan tangannya.


"Iya Nona," bingung mang karyo melihat tangan Ana yang terjulur ke arah dia.


"Salim mang, biar berkah hari hari saya, sudah di do'akan oleh orang tua." kekeh Ana.


Deg....


"Ahhh... iya," gugup Mang karyo memberikan tangannya dan menyalim mang karyo dengan takzim.


"Da... Mang, Ana masuk." Ana melambaikan tangannya dan berjalan masuk ke dalam sekolah dengan langkah riang.


"Anak baik, nasib saja yang tidak baik, punya bapak durjana, semoga kau berhasil nak, perlihatkan nanti sama bapak durjana mu itu, masa anak secantik dan sebaik ini di sia siakan, nanti menyesal kau baru tau, aku yang tertawa duluan." gumam Mang Karyo, melihat Ana sampai hilang dari pandangannya, yang sudah berbaur dengan murid murid baru di sekolah itu, barulah dia pergi ke tempat usahanya sendiri, semenjak tidak bekerja lagi saat Malika pergi, dia membuk usaha supermarket sendiri, di modalu oleh Refandi, namun tetap akan menjadi sopir Malika walau sudah jadi bos sendiri, sekarang jadi sopir Ana untuk sementara waktu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2