
"Haaaiii... Bumil, apa tidurmu sangat nyenyak.?" ucap Miranda membangunkan sahabatnya itu.
Mungkin karena perjalanan yang sangat melelahkan membuat Malika tidur sangat pulas, dia lupa klau ada janin yang harus di kasih asupan di dalam perutnya.
Setelah mendengar cerita Malika kemaren. Miranda Lansung membawa Malika ke suatu desa yang jauh dari kota, walau berganti ganti mobil datang ke sini, dia sengaja melakukan itu agar orang orang suruhan keluarga dan suami sahabatnya tidak bisa melacaknya, bahkan mereka memakai gamis dan cadar agar tidak ada yang mengenali mereka.
Miranda ingin membuat pelajaran bagi mereka yang telah menyakiti sahabat baiknya itu, dia sangat tau bagaimana kehidupan Malika dengan orang tua angkatnya, sebenarnya Miranda dan Malika teman dari SMP namun tidak dekat, karena Malika sibuk mencari nafkah untuk hidupnya, dan saat kuliahnya mereka menjadi dekat, karena Malika bekerja di cafe sang paman dan Miranda pun ikut bergabung di sana.
Namun sayang kedekatan mereka harus terpisah, karena Malika harus berhenti dari Cafe dan pindah kuliah, dan jarang keluar rumah, lebih mengabdikan hidupnya kepada sang suami, cuma sesekali mereka bertukar kabar.
"Bagaimana?" tanya Tomy kepada anak buahnya, saat ini mereka lagi berkumpul di rumah Malika.
"Kami belum menemukan mereka bos, kami sudah mendatangi klinik tempat Nona Malika periksa, akan tetapi kami kehilangan jejaknya, kami hanya melihat dia masuk, tapi tidak melihat dia keluar dari klinik terebut. Di duga dia keluar lewat pintu samping, yang kebetulan cctvnya lagi rusak." ucap anak buah Tomy.
Refandi semakin terpuruk ternyata istrinya belum di temukan. Semakin besar pula penyesalannya, telah mengabaikan sang istri yang begitu baik kepadanya, dengan setulus hati menyayangi dirinya, merawat dia sampai sembuh kembali, dan istri cantiknya itu tidak pernah neko neko, selalu menurut kepadanya, tidak pernah keluar rumah seorang diri, selalu pergi dengan sang tante atau dirinya, namun dengan bodohnya dia telah menyakiti sang istri, hingga istrinya itu pergi dari rumah, tanpa jejak sedikit pun.
"Sayang.....kamu dimana hiks... hiks..." gumam Refandi duduk termenung memikirkan sang istri yang entah berada dimana, sudah makan atau belum.
"Ncek... cari saja sampai ketemu, ngak usah pada sok sok sedih, ini kan yang kalian mau, sudah pergi baru terasa, menjijikan!" ketus Tama, melihat wajah keluarganya bagi ini sangat memuakan bagi dirinya, sudah berhari hari mengabaikan Malika, dan mengasari adiknya itu, dan tidak mendengar penjelasannya, dan kini saat orangnya pergi merasa bersalah.
__ADS_1
Tama pergi dari perkumpulan keluarganya itu, masuk ke dalam kamar, dan membanting pintu dengan sangat keras, membuat orang orang di sana terlonjak kaget.
Seharusnya mereka marah dengan kelakuan Tama tersebut yang tidak sopan kepada mereka, namun apa daya, lidah mereka kelu, ini memang kesalahan mereka.
Mama Tania yang sangat cerewet saja, di buat bungkam oleh Tama saat ini, tak ada yang bisa menegur Tama, termasuk Pak Gunawan hanya bisa menghembuskan nafas dalam, semua memang salah orang orang ini, jadi mau bagaimana lagi.
Tama kembali keluar dengan memakai pakaian ala ala anak berandalan, membuat orang orang kaget alang kepalang.
"Tama kamu mau kemana?" tanya Tomy melihat sang adik.
"Mau cari adek gue, emang dengan menyuruh orang saja sudah cukup, otak pada kosong sih." ketus Tama.
Tomy hanya menghembuskan nafasnya, Tama memang lagi keluar tanduk saat ini, bukan mereka tidak ingin pergi mencari Maliaka, pasalnya mereka juga butuh istirahat, karena mereka juga baru pulang dini hari, namun hasilnya nihil.
"Ndukkk... Sini sayang, nenek bikin kan kamu rujak." ujar nenek Miranda.
"Ya ampun nek, jangan repot repot." tegur Malika, namun air liurnya ingin menetes melihat rujak mangga muda dan jambu air yang di bawa sang nenek.
Nenek Imah terkekeh melihat kelakuan Malika itu, malu malu tapi mau.
__ADS_1
"Sini duduk." panggil si nenek dari bale bale di depan rumah itu.
Malika menghampiri nenek Imah dan ikut mencocol rujak dengan bumbunya.
Hap...
Hap...
Yang tadi malu malu ucing, sekarang malu maluin, rujak dengan mulus mendarat ke dalam mulutnya tanpa jedah sedikit pun, asli rujak bikinan nenek Imah sangat enak di lidah Malika, entah karena buah buahan yang di buat rujak itu lansung di petik dari pohonnya, entah bumbunya yang pas di lidah Malika.
"Hehehe... Abis nek." kekeh Malika dengan wajah bersemu merah.
Nenek Imah pun ikut terkekeh melihat Malika yang tidak enak hati itu.
"Ngak apa apa, nenek emang sengaja bikin buat kamu, dari semalam baru datang, matamu tidak berhenti melihat buah mangga itu." ucap Nenek Imah.
Malika begitu terharu dengan ucapan nenek Imah itu, dia bersyukur di saat yang lain pergi ada orang baru yang peduli kepada dirinya, dan janin dalam kandungannya.
"Terimakasih nek." ucap Malika dia menghambur ke dalam pelukan nenek Imah.
__ADS_1
"Kenapa harus terimakasih, nenek senang kamu ada di sini, bearti nenek ngak ke sapian lagi, di sini." kekeh Nenek Imah.
Bersambung...