Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 105


__ADS_3

Ana naik ke atas panggung setelah mendengar namanya di panggil sebagai Lulusan terbaik dari sekolah bertaraf internasional dengan rasa haru, bangga dan semua rasa yang bercampur aduk di hatinya tidak menyangka dia akan bisa melewati semua ini.


"Assalamualaikum.. Saya Ana Andriani memanjatkan rasa syukur atas rahmat yang di beri Allah S.W.T, karenanya saya bisa berdiri di atas panggung ini, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, selama umatnya mau berusaha." ujar Ana dengan senyum manis yang tidak luput dari bibirnya.


"Dan Tidak lupa saya mengucapkan Terimakasih, kepada guru guru sekalian yang telah selalu sabar membimbing Ana, yang kadang Ana suka membuat masalah, dan kadang suka ngeyel, tanpa kalian Ana tidak ada artinya."


"Terimakasih Ana ucapkan kepada ke dua orang tua Ana, ehhh... Tidak Ada tiga, Ibu, bapak dan Ayah Ana, yang selalu mendo'akan Ana agar bisa berhasil, dan selalu mensuport Ana, kadang ada rasa lelah capek semua rasa Ana rasakan, namun mereka dengan selalu sabar selalu memberi Ana semangat, Ana yang berasal dari kampung, di sekolahankan di sekolah taraf internasional ini tentulah punya tingkat kesulitan tersendiri, yang Ana rasakan, berawal yang biasa belajar menggunakan buku dan pulpen saja, saat sampai di sini, Ana harus menyesuaikan diri harus menggunakan laptop dan elektronik lainnya, Ana kaget, Ana pusing, Ana stres, namun dukungan yang tidak henti hentinya di berikan oleh orang tua Ana, Ana akhirnya bisa berada di sini.


"Dan Ana mengucapkan beribu ribu Terimakasih kepada kakak dan abang angkat Ana, yaitu Kak Malika dan Bang Refandi, Terimakasih banyak atas semua suport kalian, Apa lah Ana, klau tidak ada kalian yang memdukung Ana, kalian membiayai sekolah Ana, kalian yang tiada henti mendukung Ana, baik moral maupun materi, kalian membuat Ana si gadis kampung ini berada di sini, klau bukan karena kalian, mungkin Ana masih sekolah dengan pakaian lusuh, tas sobek, sepatu sobek, namun kalian dengan suka rela membiayai Ana dari hal kecil hingga hal terbesar sekalipun, kalian juga selalu mengajarkan banyak hal kepada Ana. Ana janji Ana akan membalas budi kalian suatu saat Nanti." ujar Ana dengan mata yang berkaca kaca, semu ikut larut dengan ucapan Ana itu.


"Maafin Bapak Nak. Bapak mu ini yang tidak bisa menolak permintaan nenek mu, bapak yang tidak bisa menjadi sandaran bagi kalian, Maafkan Bapak Nak, sekarang Bapak janji akan selalu memenuhi kebutuhan kamu nak, walau Ayah tau, sebentar lagi ibumu akan menikah dengan laki laki mampan, dan bisa memberikan kamu apa saja, tapi bapak akan tetap membiayai kamu nak, karena kamu tanggung jawab bapak, walau mungkin bapak tidak akan mampu membiayai kamu seperti mereka." jerit pilu hati Kardi, melihat Anak gadisnya berdiri tegak di atas panggung dengan piala dan piagam di tangannya.


"Maafkan ibu nak, karena Ibu ngak bisa membahagiakan kamu seperti teman teman mu, tapi ibu akan selalu memberikan kasih sayang untuk mu sayang." gumam siti dalam hati.


"Kakak bangga sama kami dek, kakak tau apa yang kamu rasakan, kamu masih beruntung dek, dulu kakak berdiri di kaki kakak sendiri, kakak janji akan selalu suport cita citamu, kamu adalah adik kakak." gumam Malika dalam hati.


"Mas bangga sama kamu sayang, kamu bisa menjadikan Ana seperti ini," bisik Refandi, sambil memeluk sang istrinya.

__ADS_1


"Karena dia adikku mas, apa yang Ana rasakan pernah aku rasakan, dan Ana juga ada di saat masa masa tersulitku, dia menghiburku, bahkan menemaniku, walau hidupnya juga sedang tidak baik baik aja." ujar Malika menatap Refandi dengan mata berkaca kaca.


"Maafkan Mas." ujar Refandi menatap sang istri dengan rasa bersalah.


"Tidak apa, semua sudah lewat, tapi jangan pernah larang aku membantu Ana, dan jangan izinkan Ana pergi dari rumah ya mas, walau mbak Siti sudah menikah nantinya, dan tinggal dengan suaminya, aku ngak mu Ana pergi dari rumah, aku yakin Ana tidak ingin mengganggu kebahagian ibunya, dan aku juga tidak mau dia sekolah di luar negeri, dan aku juga tidak mau Ana memilih ngekost, aku mau dia di rumah kita karena dia sudah aku anggap adik kandungku." pinta Malika dengan muka sendunya.


"Tentu saja tidak, bisa di gorok mas sama anak anak, tau sendirikan bagaimana anak anak klau sama Ana, mas saja yang Ayahnya tidak di anggap klau ada Ana." cemberut Refandi, Malika terkekeh melihat wajah sewot sang suami.


"Sudah sudah mukanya jangan cemberut gitu, nanti gantengnya ilang." kekeh Malika.


"Kamu mah gitu Yang." rengek Refandi yang lupa tempat dimana mereka berada saat ini.


"Astaga..." ujar Refandi dan kembali ke setelan awal dengan muka datarnya, membuat Malika terkikik geli melihat tingkah sang suami.


"Jadi Bapak benaran ngak mau cerai in tante itu, kan jelas jelas dia sudah selingkuh, Bapak lepasin aja dia, Bapak juga harus bahagia, masa ibu sudah bahagia Bapak masih diam di tempat," celetuk Ana, saat mereka sedang makan di restoran yang sudah di booking oleh Refandi untuk merayakan kelulusan Ana.


"Biarkan saja, Ayah ngak perduli, biarkan nenek kamu melihat dengan mata kepalanya sendiri, sudah males Bapak ngasih tau nenek, tapi dia tidak percaya, dan entah apa yang dia kasih sama nenek kamu, sampai nenek kamu begitu patuh sama dia, dan jangan pikirin Bapak nak, kebahagian bapak itu ada di kamu, sekarang hanya kamu prioritas bapak, tidak ada yang lain, bapak takut menjalin hubungan sama wanita lain nak, takut membuat mereka menderita lagi, cukup bapak melukai kalian, tidak dengan yang lain." ujar Kardi.

__ADS_1


Orang orang yang mendengar ucapan Kardi itu, di buat gemes sendiri oleh kelakuan bu Ratmi, bisa bisanya dia tidak memperdulikan kebahagian sang anak.


"Kasian Bapak." ujar Ana berkaca kaca, dia tau bapaknya juga sangat menderita, tapi apa dayanya, andai dia sudah sukses Ana akan membawa ayahnya itu tinggal bersamanya, cukup Ana melihat kasih sayang bapaknya yang tulus selama tiga tahun ini, bapaknya tidak salah, yang salah adalah neneknya.


"Jangan risaukan bapak Nak, bapak baik baik aja, klau kamu juga baik, kamu sumber kekuatan bapak sekarang nak." ujar Kardi mengelus rambut sang anak.


Ana hanya mengangguk dan tersenyum kepada bapaknya itu.


"Sayang. mandi dulu baru tidur." bisik Refandi saat melihat sang istri merebahkan tubuhnya di kasur.


"Sebentar mas, aku capek banget." keluh Malika, sambil memejamkan mata.


"Ya sudah. Biar mas saja yang gantiin baju kamu." namun sayang ucapannya sudah tidak di dengar sang istri, karena sudah masuk ke dalam dunia mimpi.


"Ya ampun, capek banget ya kamu, sampai ***** gini." kekeh Refandi.


"Maafkan Mas sayang, sudah pernah menyakiti hati kamu, melihat Ana tadi, mas ngak kebayang apa yang terjadi dengan anak anak kita sayang, maafin mas, mas janji tidak akan mengulangi kesalahan mas lagi, cukup sekali saja mas buat kesalahan sama kamu dan anak anak kita," bisik Refandi, menatap sendu sang istri di tidur damainya, Refandi terus meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu dan menciumi wanita hamil itu bertubi tubi dengan lembut, agar tidak mengganggu tidur pulas Malika.

__ADS_1


Bersambung...


Haduuuhhh... maaf yang sebesar besarnya ya sayang sayangku, dunia nyata ku, betul betul belum bisa di ajak kompromi untuk duduk manis agar bisa up rutin, maaf ya, jangan marah ya sayang, ini baru pulang dari rs kontrol anak gadisku, habis operasi usus buntu dan TB usus, maaf ya sekali lagi jangan marahπŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2