Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 91


__ADS_3

Dimana hari ini adalah hari lamaran Tama dengan Miranda, yangg awalnya Miranda ngak percaya klau Tama akan memakai dirinya, selama ini Tama jarang interaksi sama dia, walau klau sesekali beretugur sapa, dan suka jahil, tapi itu jarang jarang, dan kemaren malam ngomong mau ngelamar dirinya, tentu saja Miranda shok, ngak nyangka laki laki tampan itu menyukai dirinya.


"Abang mau ngelamar kamu besok malam, persiapan diri kamu, dan setelah satu bulan, kita lansung menikah, itu pas dengan rumah yanga akan kita tempati nanti selesai di bangun." ujar Tama serius, ngak ada terlihat wajah tengil dan usilnya saat bicara sama Miranda.


"Haaa... abang serius?" kaget Miranda, jujur dia kaget, karena tidak menyangka saja, dia sangat tau keluarga Malika orang kaya, dan terpandang, mana mungkin Tama mau sam dirinya yang hanya anak yatim piatu, kerja di cafe omnya.


"Abang serius Miranda, ngapain bercanda, abang ngak bisa basa basi Nda, abang klau sudah suka ya udah abang akan langsung ajak nikah, abang ngak suka pacar pacaran, selama ini abang sudah tau kamu ini seperti apa, jadi abang ngak perlu pengenalan lagi, tancap gas selesai, males abang pacar pacar." ujar Tama.


"Kenapa secepat ini, kami belum ada persiapan." sela Miranda bingung.


"Ngak usah nyiapin apa apa, semua sudah abang handel kok, kamu ngak usah banyak pikir, yang abang minta cuma satu, ya itu jawaban iya dari mulut kamu, itu saja, yang lain ngak usah kamu pikirin," ujar Tama.


Miranda hanya mengangguk pasrah, toh dia memang menyukai Tama, tapi tidak berani berhyal menjadi pacar apa lagi menjadi istri Tama, cukup dia kagumi dalam hatinya, ehh... ternyata di ajak nikah, siapa yang ngak mau.


"Ya sudah abang pulang dulu kalau gitu, kamu istirahat sana, jangan sampai ngak tidur loh, nanti pas lamaran kelihatan mata panda kamu, kan ngak seru." kekeh Tama menggoda Miranda.


"Ncek... sok tau, sudah sana pulang." cibik Miranda di goda calon suami.


"Cieee.... ayang nya babang Tama merajuk," kekeh Tama sambil mengkusuk sayang puncak kepala Miranda.


Miranda lansung menegang dengan perlakuan romantis Tama itu, belum pernah sekali pun laki laki yang memperlakukan dirinya seperti itu, selain pamannya.


"Nafas sayang, ngapain kamu tegang kaya gitu, belum nikah, sudah Innalillahi duluan, apa ngak kasian sama abang." kekeh Tama, menggoda Sang kekasih yang berdiri mematung di hadapannya.


"Iss.... nyebelin." kesal Miranda masuk ke dalam rumah tanpa permisi, karena malu di goda terus oleh calon suaminya itu.


Tama terkekeh melihat tingkah Miranda dan dia juga ikut pulang, walau hanya beberapa langkah dari rumah Nek Imah itu.


Keluarga besar Tama itu, orang tua dan abang beserta kakak iparnya sudah datang dari pagi, untuk ikut acara lamaran Tama dan Miranda.

__ADS_1


Kini di sini lah mereka berada di rumah Nek Imah, yang juga sudah ada paman Miranda.


"Begini pak, tujuan ke datangan saya beserta keluarga besar saya, ingin melamar Nak Miranda untuk anak bungsu kami, yaitu Tama." ucap sang papa penuh harap.


"Sebelumnya, kami sangat berterimakasih, karena bapak dan keluarga datang untuk meminang ponakan saya, tentu saja kami sangat senang, namun semua kami kembalikan kepada Miranda, dia yang akan menjalani rumah tangga, lebih baik kita tanya saja sama dia, gimana nak?" tanya Paman Miranda memegang tangan keponakan kesayangannya itu.


Miranda menunduk, dan jantungnya deg degan mendengar pertanyaan sang paman.


Tama tak kalah deg degan, takut pinangannya bakal di tolak oleh Miranda.


"Gimana sayang, kasih jawaban, kamu menerima atau tidak itu urusan kamu, kami tidak bisa memaksa, yang menjalani rumah tangga itu nantinya adalah diri kamu sendiri, jadi jawab sesuai isi hatinya, paman yakin, sebelum mengambil ke putusan, kamu pasti sudah meminta petunjuk kepada Tuhan." ujar Paman Miranda lagi.


"Bismillah... Aku menerima lamaran bang Tama." jawab Miranda malu malu.


"Alhamdulillah...." sahut mereka serempak, Tama akhirnya bisa bernafas lega, karena lamaranny di terima oleh Miranda.


"Karena lamaran sudah di terima, jadi kita lansung saja, menentukan hari pernikahannya mereka." ujar Papa Tama.


"Waduhhh... apa itu ngak kecepatan? kita belum menyiapkan apa apa." tanya Paman Miranda.


"Kalau soal itu tenang saja, ada tim yang akan melakukannya, kita tinggal beres saja." jawab papa Tama.


"Baiklah, klau gitu kami ikut saja." pasrah Paman Miranda itu.


"Ayo kita maka dulu, ini perut nenek dari tadi sudah keroncongan." kekeh Nek Imah.


"Ahhh... iya ayo nek, ayo semua," ujar Paman Tama, semalam Miranda menelpon pamannya, pamannya ngak ingin Tama yang manghendel soal masakan, jadi masakan lansung di kirim dari Cafe sang paman.


"Wahhh... masakannya enak enak semua ini." kekeh papa Tama melihat girangan di atas meja makan itu.

__ADS_1


"Ini masakan Cafe saya Pak, maklum acaranya dadakan, jadi saya bawa yang dari Cafe saja, sekalian promosi." kelakar paman Miranda.


Di tempat Lain, karena belum waktu masuk sekolah, Ana membantu ibunya beres beres rumah, dan membuat kebun sayur di belakang rumah Refandi yang cukup luas itu, Ana membeli beberapa tanaman dan bibit sayuran dan buah buahan lewat media on line."


"Bu Semoga aja lamaran bang Tama sama Kak Miranda lancar ya bu." ujar Ana.


"Iya, semoga aja" ujar Sang ibu.


"Bu semalam si ulat bulu telpon ibu ngapain?" tanya Ana kepo.


"Huu... nanyain uang renovasi rumah kita." desah bu Siti.


"Hii... dasar, katanya orang kaya, kok masih merampas hak orang sih, dan lagian rumah itu di renovasi saat aku masih SD bukan kemaren, dia kan belum nikah sama bapak, kenapa dia yang napsuan pengen uang." gerutu Ana.


"Ya namanya orang serakah mah ngak tau itu sayang yang penting dapat uang, mau dari mana aja asalnya." ujar Bu Siti.


"Dia takut ya ibu pulang ke kampung, sampai ngancam ngancam ibu?" tanya Ana lagi.


"Iya dia ngak bolehin ibu pulang, katanya ibu sok cantik sekarang, trus pergi ke kota ngabisin uang dia." ujar bu Siti.


"Eee... kok dia tau klau ibu sudah cantik." bingung Ana."


"Mas Refan yang kasih lihat foto ibu ke dia."


"Hahaha... mampus kau ulat bulu, aku mau pulang kampung saat bang Tama sama kak Miranda nikahan, aku mau bikin ibu lebih cantik dari ini, ibu harus mau perawatan ala ala aku, dan minum colagen biar perawatan dari dalam, kulit ibu makin bercahaya, biar copot itu mata mandangin ibu nantinya." kekeh Ana.


"Kamu ini ada ada saja, tapi ibu mau juga lah, biar mereka semaput lihat ibu, ibu juga ingin lihat reaksi ayah kamu, apa katanya dulu, kulit ibu hitam legam, ngak bakal laku, iiihhh... lihat saja dia setelah sebulan nanti, sampai berjumpa kau manta laki durjana." kesal Bu siti.


Ana terbahak mendengar kekesalan sang ibu, ini yang dia mau, ibunya melawan saat di sakiti, ngak diam saja, trus menyendiri dan nangis diam diam, Ana ngak suka itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2