Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 86


__ADS_3

Keesokan harinya Tama mengajak Ana untuk mendaftar ke sekolah SMA yang bagus di dekat sana.


"Kak, sekolahnya bagus banget, pasti biayanya juga sangat mahal, jangan di sini lah, aku takut ibu ngak bisa bayarin sekolah aku kak, lagian ibu belum dapat kerjaan juga, yuk kak, kita cari sekolah baru aja." ajak memelas, bukan Ana tidak mau sekolah di sana, tapi takut biayanya saja, kasian sang ibu semakin pontang panting mencari biaya untuk dirinya.


"Malika yang menyuruh kamu masuk di sekolah ini, Kamu tidak usah khawatir soal biaya, Malika yang akan menanggung semua biaya sekolah kamu, jadi. Tugas kamu adalah belajar dan gapai impian mu, jangan memikirkan yang lain lain ok." ujar Tama dengan lembut namun tegas, sambil mengusap kepala Ana dengan sayang.


"Ahhh.... kebaikan apa yang ibuku perbuat sehingga anaknya bisa di sekolahkan oleh orang baik seperti kak Malika, sementara bapak kandungku saja tidak mau tau tentang hidupku." keluh Ana dengan mata yang berkaca kaca.


"Jangan sedih adik kecil, sekarang belajar yang rajin, gapai cita citamu, dan tunjukan kepada mereka yang membuat kamu menderita, bahwa kamu mampu meraih cita citamu tanpa bantuan mereka." ujar Tama memberi samangat kepada Ana, jujur dia kasihan kepada anak itu, terlihat tegar pecicilan, namun pada dasarnya hati gadis cantik itu sangat rapuh, dan haus kasih sayang, dia sering melihat Ana bermanja manja sama Malika, dan kadang suka murung di kala seorang diri.


"Iya aku akan giat belajar, dan akan ku tunjukan kepada mereka, kalau aku mampu tanpa mereka, aku akan membuat ibuku bangga, dan aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan yang kakak berikan padaku, semoga kak Malika dan keluarganya selalu bahagia, di berikan rezeki yang lebih melimpah lagi." tutur Ana penuh semangat dan mendo'akan Malika dengan tulus.

__ADS_1


"Aamiin... Tapi ingat, klau sudah sukses, kamu ngak boleh sombong, dan bantu orang yang membutuhkan, selalu jadi gadis rendah diri dan baik hati." nasihat Tapi.


"Siap kak, aku juga Terimakasih sama kakak, yang sudah mau repot repot membantuku, semoga kakak cepat menikah sama kak Miranda, dan punya keluarga yang harmonis." cengir Ana.


"Heeh... bocil sok tau, tapi ngak pa apa, kakak Aminin aja, semoga Miranda mau sama kakak." kekeh Tama, yang sedikit tersipu malu, dan bocil itu tau aja klau dia menyukai Miranda.


"Makanya cepat bertindak, sebelum kak Miranda di ambil orang lain, lemot amat sih kakak jadi cowok." cibir Ana.


Tuk...


Awwwusss.....

__ADS_1


"Sakit, tau kak." dengus Ana sambil mengusap dahinya yang sedikit memerah, karena jitakan Tama.


"Lagian mulut kamu itu ngak bisa di kontrol klau ngomong, kakak bukan lemot tau, cuma lagi mencari cara agar Malika balikan sama suaminya, dan sekarang kakak lagi bangun rumah di sana, rumah impian untuk kami tempati setelah menikah, setelah rumah itu selesai, kakak lansung melamar Miranda." tutur Tama serius kepada bocah bau kencur itu, namun pemikiran sangat matang, dan asik untuk Tama bertukar pikiran, dan gadis itu dengan spontan akan mengeluarkan isi hatinya, dan fikirannya, kadang juga suka membuat Tama kesal, tapi dia suka dengan gaya ceplas ceplos Ana, makanya Tama nyaman bercerita kepada Ana.


"Wahhh.... kakak memang keren! aku suka gaya kakak, ku do'akan kak Miranda menerima kakak." ujar Ana kegirangan.


"Aamiin..... Ayo kita masuk, mau daftar sekolah kamu dulu, keburu tutup pendaftaran," ajak Tama.


Kini di sinilah Tama berada, di pendaftaran siswa baru, dengan jalur khusus, dan Tama lansung membayar segara tete* bengek untuk keperluan Ana, dan juga membeli seragam yang sudah di sediakan oleh pihak sekolah.


"Waduh.... bajunya banyak, mana setiap hari ganti, ngak kaya di sekolah lama, satu baju untuk tiga hari." gumam Ana, dengan tatapan penuh kagum.

__ADS_1


"Semua sudah selesai, yok kita ke mall cari tas, sepatu, buku dan lain lainnya." ajak Tama.


Bersambung....


__ADS_2