
"Sayang... kamu dimana? pulang lah, Mas Rindu." gumam Refandi menelusuri jalan raya dengan mobilnya, matanya kesana kemari mencari istri cantiknya, barang kali dia bisa menemukan sang istri di sana.
"Agggkkkk.... Bodoh, bodoh...." gara gara kerjaan sialan ini gue lupa memberi perhatian sama istri gue, gue pikir istri gue diam, dia baik baik saja, ternyata dia memendam kesepian dan kesedihan sendirian, haa... suami macam apa gue ini." pekik Refandi di dalam mobil memukul mukul stir mobil.
Sungguh dia sangat lalai dengan sang istri, apa lagi mendengar ucapan Bi Jum kepadanya tadi.
"Mas... harusnya bersyukur punya istri cantik baik hati, masih muda lagi, mau menerima ke kurangan Mas, coba lihat mantan mas, dia tau mas ngak bisa jalan lansung ninggalin mas, walau di bilang nak Malika itu nikah di paksa sama mas, buktinya dia berbakti banget sama mas, mana pernah dia neko neko, hari harinya dia habiskan untuk merawat mas di rumah, padahal dia masih muda, masih butuh bermain bersama teman sebayanya, tapi dia memilih untuk merawat mas sampai sembuh, ehhh... masnya ngak tau diri lupa sama perjuangan gadis manis itu."
"Apa mas, tau dia pernah ngidam ngak kan, padahal dulu mas janji klau dia ngidam bilang saja sama mas, semua akan mas turutin, pada kenyataannya setiap nak Malika telpon Mas, jawaban mas lagi sibuk, dia mengalah, dia berusaha memenuhi ngidamnya seorang diri, mas pulang selalu larut malam, berangkat subuh, seolah olah Nak Malika tidak ada artinya bagi mas, padahal dia sedang mengandung anak mas, tapi mas begitu kejam sama dia, apa mas tau, wanita hamil itu butuh perhatian suami mas."
"Apa mas tau, setiap makanan yang mau dia makan tidak masuk ke dalam mulutnya, ingin dia muntahkan, dia selalu mengajak anak yang dalam perutnya bicara, mas tau apa obrolannya, [adek mau di suapin papa ya, maaf ya sayang sekarang papa belum bisa suapin adek, adek jangan marah, papa kan lagi kerja cari uang buat adek, sekarang di terima ya nak makanannya, sambil lihat foto papa aja.] begitu mas obrolan nya, saya ini cuma pembantu di sini mas, hati saya sakit mendengar ucapannya nak Malika, sakit mas, sakit hiks... Andai dia anak saya, sudah saya bawa dia pergi dari rumah ini, buat apa tinggal di rumah megah, tapi ngak dapat kasih sayang, dulu semuanya perhatian sama dia, tau neng Lisa hamil, seolah olah hanya neng Lisa yang terlihat, nak Malika hanya debu."
"Saat Neng Lisa jatuh dengan teganya kalian menyalahkan dirinya, padahal niat dia baik untuk menolong, tapi kalian semua marah sama dia, ok lah. Klau nak Tomy dan Bu Tania marah, wajar suami dan menantunya, lah mas suami nak Malika pun tidak perduli dengan istri sendiri, malah mementingkan orang lain, apa itu ngak sakit mas, andai saya tau bakal terjadi seperti ini, saya tidak akan pernah izinin nak Malika pergi kerumah Bu Tania saat itu, hati saya makin hancur melihat dia keluar dengan langkah tertatih tatih menahan perutnya sakit, ngak ada yang perduli hiks... hiks..."
"Apa mas, tau. Dia selalu menunggu mas pulang kerja di teras sampai larut malam, ngak kan mas, mas ngak tau itu, klau mas ngak percaya ucapan saya ini, yang terkesan mengada ngada, tanya sama semua orang di rumah ini." ujar Bi Jum dengan wajah kecewanya.
"Yang lebih parahnya, nak Malika sudah susah payah memasak untuk mas, dengan perut besarnya, namun mas tidak menyentuhnya, mas keterlaluan!!" pekik Bi Jum, ingin sekali dia memukul kepada Refandi saat ini, namun dia sadar, dia hanya pekerja di rumah itu, dia juga tidak ingin du pecat saat ini, dia mau menunggu sampai Malika pulang ke rumah ini, memastikan majikan baiknya itu pulang dalam keadaan baik baik saja.
__ADS_1
Deg....
Refandi benar benar merasa tertohok dengan ucapan si bibi, sungguh dia sangat menyesal, banyak sekali kesalahannya kepada sang istri.
"Sayang... Maafkan mas... hiks... hiks..." Refandi menangis tersedu sedu di ruang tamu itu, dia tidak marah kepada Bi Jum, walau bi Jum membentaknya, dia terima semua itu, memang dia yang salah, telah lalai kepada sang istri, dia tidak becus menjadi suami sekaligus calon ayah untuk sang anak.
Andai waktu bisa terulang, dia tidak akan menyakiti hati istrinya, dia akan selalu meluangkan waktu untuk istrinya itu.
Refandi terus mencari sang istri berkeliling kota, entah sudah berapa kali dia memutar jalan itu, namun dia tidak menemukan yang dia cari.
"Eee.... Neng cantik, kok malah ikut ke kebun sih, nanti capek loh..." tegur ibu ibu di sana memang sudah mengenal Malika.
"Hehehe... Iya bu aku ikut, habis di rumah terus aku bosan bu, mending ikut le sini." kekeh Malika.
"Ya sudah hati hati ya neng, dekat dekat sini aja jangan jauh jauh." ucap Si ibu dengan ramah.
"Iya bu aku di sini aja, aku bantu metik cabenya ya bu." ucap Malika.
__ADS_1
"Boleh boleh, klau capek duduk di sana ya, jangan di paksain." ucap si ibu.
"Iya bu." ucap Malika senang.
Malika begitu senang bisa bergaul dengan orang orang kampung itu, semuanya menerima Malika dengan ramah.
"Kak Malika, di sini toh, tadi tak cariin ke rumah, ngak ada." ucap anak umur sembilan tahun itu.
"Iya dek. Ada apa cari kakak?" tanya Malika lembut.
"Ini si mbok bikin manisan, takut kak Malika pengen." ucap anak itu.
"Waahh... makasih ya..." ucap Malika dengan mata berbinar, namanya orang hamil di kasih buah buahan ya pasti ngacai lah.
Gimana ngak senang Malika tinggal di kampung itu, penduduknya ramah ramah, dan Malika suka di kirimin makanan oleh mereka, ada saja setiap hari yang mereka antar.
Bersambung....
__ADS_1