
"Sayang...." panggil Refandi, memasuki kamar istri dan ke dua buah hatinya, di rumah Nek Imah.
Malika lansung membeku mendengar suara sang suami, walau dia sudah tau suaminya akan datang, namun tetap saja dia masih sedikit takut dengan Refandi, dia masih kecewa, namun bagaimana pun dia juga tidak tega melihat sang suami yang sampai seperti orang tidak terurus, dia juga tidak ingin egois, anak anaknya butuh sosok seorang ayah dalam hidup mereka.
Malika menatap suaminya dengan tatapan yang sulit di artikan, Refandi berjalan ke arah sang istri, tumpah sudah air mata Refandi melihat istri dan ke dua anak yang dia rindukan itu.
"Maafin mas... Hiks..." ucap Refandi memeluk sang istri dengan sangat erat, tubuhnya bergetar menahan tangis, rasa bersalahnya semakin menjadi saat melihat ke dua anak anaknya, lahir tanpa ke hadiran dirinya, dia tidak tau bagaimana perjalanan hidup sang istri, bagaimana dia bertahan hidup di daerah orang ini, setau Refandi Malika tidak mempunyai tabungan, semua fasilitas yang di berikan olehnya, di tinggal semua oleh sang istri, mengingat itu semua, semakin besar rasa bersalah Refandi.
"Ngapain Mas kesini?" tentu saja pertanyaan yang Malika ucapkan membuat hatinya sakit, sebegitu tidak di harapkan lagi kah dirinya oleh sang istri, sungguh hati Refandi perih mendengar ucapan Malika itu.
"Maafin Mas sayang, maafin mas yang sangat banyak membuat kesalahan kepada mu, maafin mas sayang, pulang ya, mas janji tidak akan berbuat kesalahan lagi." mohon Refandi dengan mata sendunya.
__ADS_1
"Buat apa aku pulang, untuk kalian sakiti lagi, untuk kalian abaikan, untuk kalian jadikan pelampiasan kesalahan yang tidak pernah aku buat, buat apa aku kembali, aku hanya ingin tinggal di sini, dimana aku di hargai oleh mereka yang bukan kelurga ku, di sini, di tempat asing ini, di tempat orang orang baru yang aku kenal ini, aku merasa di hargai, sesibuk apapun mereka, mereka selalu ada waktu untuk ku, di sini ini aku sudah nyaman, dan tidak ingin kembali lagi, bukan kah mas sudah bisa berjalan, dan sudah bisa mencari wanita yang sepadan dengan mas, apa lah aku hanya gadis yatim piatu, di nikahi juga karena aku di beli bukan karena cinta, makanya mas bisa memperlakukan aku seenak jidat mas, pergilah aku tidak butuh mas, dan aku juga tidak melarang mas untuk menemui mereka, walau bagaimana pun, anak anakku, juga anak mas, mas boleh menemui mereka kapan pun mas mau, dan mas juga boleh menikah dengan wanita yang mas cintai, tapi. Ceraikan aku dulu." ujar Malika, dengan penuh kesakitan di hatinya.
Refandi menggeleng sangat kuat, sungguh sangat sakit hati Refadi mendengar semua keluhan sang istri, Refandi tidak akan pernah menceraikan wanita yang berstatus istri dan juga ibu dari anak anaknya itu, dia tidak akan pernah mau bercerai dengan perempuan itu, wanita yang telah dengan setia, dan dengan tulus mencintainya, merawat dia saat sakit, yang tidak pernah neko neko, tentu saja dia tidak akan pernah melepaskan wanita itu, untuk laki laki lain.
Dia tau banyak kesalahan yang dia perbuat kepada sang istri, dia berjanji akan berubah dan tidak akan mengulangi kesalahan lagi kepada sang istri, cukup sekali dia kehilangan istrinya itu, tidak untuk ke dua kalinya, dan Refandi akan ikut dimanapun sang istri tinggal, kini dia tidak perduli lagi dengan semua pekerjaannya itu, dia tidak perduli, cukup sudah dia melakukan kesalahan, jika istrinya nyaman di desa ini, dengan senang hati dia akan tinggal di sini.
Sementara di luar sana, semua keluarga Malika dan juga mertuanya menahan sesak mendengar ucapan Malika tersebut, sungguh kesalahan mereka membuat gadis nan lembut itu, berubah menjadi orang asing, dan tidak memandang keberadaan mereka.
"Bagaimana, bagus bukan perbuatan kalian, membuat gadis manis, dan berhati lembut itu jadi berhati sekeras batu, dan tidak ingin kembali kerumah orang tuanyaka, kalian berhasil merubahnya, selamat untuk kalian." sinis Tama, memandang abangnya, namun kata kata tersebut tentu saja dia tujukan untuk ke semua orang yang ada di sana, termasuk mamanya, bukan karena Tama tidak hormat kepada orang tua dan kakaknya, cuma rasa kesalnya lebih banyak.
"Dek..." ujar Tomy.
__ADS_1
"Apa... Mau minta maaf, bukan ke aku kalian minta maaf, dan maaf kalian mungkin sudah terlambat, kalian dengarkan, bagaimana dia, sudah tidak ingin pulang kerumah peninggalan oran tuanya, malah memilih di tempat yang sama sekali asing baginya, namun dia nyaman di sini." turun Tama dengan sinis.
Ucapan Tama itu, berhasil menohok semua hati orang orang di sana, sungguh perbuatan mereka membuat Tama murka.
"Nak..." Nek Imah lansung memegang tangan Tama, dan menggeleng, agar Tama tidak bicara yang membuat orang sakit hati lagi.
"Biar Nek, biar mereka tau bagaimana rasa hati di lukai, agar suatu saat nanti, tidak akan berlaku seperti itu lagi, terlebih kepada keluarga sendiri, apa ngak bisa mendengar alasan orang, sebelum mengambil kesimpulan, biar mereka tau kalau di abaikan itu sakit, membuat orang tidak ingin lagi mendekat, nenek taukan, bagaimana perjuangan aku meluluhkan hati adik aku itu, gara gara mereka, sangat sulit membuat adik aku itu menerima keberadaan aku di sini nek, aku harus ngumpet ngumpet memberikan makanan agar dia tidak tau, seandainya dia tau aku yang memberikannya akan dia buang, sakit nek. Sakit, melihat adik yang aku sayangi menderita dan trauma, mereka tidak tau itu hiks... hiks..." ujar Tama meraung mengingat saat saat dia mendekati sang adik.
"Sudah nak, sudah, semua sudah lewat, jangan di ingat lagi, yang penting Malika sekarang sudah kembali percaya sama kamu kan, jadi nenek mohon tolong kamu jaga dia, jangan sampai kamu berbuat sama dengan yang lain lakukan, cukup sudah dia merasakan penderitaan nak," tutur Nek Imah.
"Itu pasti nek, aku akan selalu berada di sisinya, aku tidak akan ingin jauh darinya, agar aku bisa melindungi adik ku itu." ujar Tama.
__ADS_1
Mereka yang mendengar keluh kesah Malika dan ucapan tajam Tama itu, semakin merasa bersalah, mereka tidak tau harus berbuat apa, begitu ke sakitan orang yang mereka cintai itu, tidak hanya keluarga Tama saja yang merasa bersalah, mertuanya pun ikut merasa bersalah, niat hati ingin melindungi menantu dan anaknya itu, malah membuat sang menantu semakin terluka, andai tau akan seperti ini, mereka tidak akan membiarkan Refandi dan Malika keluar dari rumah mereka, dan akan mencari cara lain untuk mneyadarkan anak mereka yang lain, namun apa lah daya, nasi sudah menjadi bubur.
Bersambung....