Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 75


__ADS_3

"Haiii.... ponakan ponakan Om yang lucu lucu, enak banget lagi jemur gini hmmm..." kekeh Tama melihat bayi mungil yang sedang di jemur oleh bundanya saat mata hari, dua bayi itu tidak merasa terganggu sama sekali, matanya pun di tutul dengan penutup mata bayi oleh Malika.


"Haiii juga Om ganteng, apa Om ngak mau balik ke kota, kan aku sudah lahir ini, Bunda aku sudah baik baik saja." ujar Malika dengan berbahasa bayi.


"Kakak tidak akan pulang, klau kau tidak ikut, kakak takut kalian akan kenapa napa di sini." ujar Tama kepada Malika, sambil mengelus kepala sang adik.


Saat adiknya ini pergi menghilang dari rumahnya, Tama pergi kemakam ke dua orang tua Malika, dia berjanji akan menemukan Malika, dan akan selalu menjaga adiknya itu sampai kapan pun, dan sekarang Tama sudah menemukan sang adik, dia bertekat akan berada dimana pun adiknya itu berada, dia tidak begitu percaya kepada orang lain, buktinya tidak jauh jauh, saudara dan suami sang adik pun bisa menyakiti gadis rapuh itu, apa lagi orang lain, itu yang ada dalam fikiran Tama.


Tama pun tidak hanya ongkang ongkang kaki, dan tidak bekerja, dia bisa mengawasi usahanya dari sini, dia bisa menerima laporan lewat on line, tidak ada yang susa bagi Tama, dan dia juga mulai membuat lapangan pekerjaan di desa ini, dan tentu saja orang kampung sana menerima dengan senang hati.


Malika tersenyum mendengar penuturan sang kakak, hanya dia yang Malika percaya di antara keluarga yang lain, Tama juga rela meninggalkan kehidupan bebasnya di luar sana demi dirinya dan ke dua bayi kembar ini.


"Gimana dengan kekasih kakak, pasti dia akan merasa di abaikan." ujar Malika lagi, dia tau kakaknya sudah mempunyai kekasih.


"Kakak sudah putus." jawab singkat Tama


"Loh, kenapa?" kaget Malika.


"Kakak berniat menikahi dia, tapi dia tidak ingin hidup dengan usaha kakak sendiri, dia ingin kakak tinggal rumah besar, dan kerja di perusahaan Papa, mau apa coba, kakak ngak mau, kakak kekeh ingin saat menikah hanya tinggal di rumah sederhana yang kakak bangun dengan hasil jerih payah kakak sendiri, dan bekerja di tempat usaha yang kakak bangun dari nol, dia marah dan tidak mau terima, dan minta putus, ya sudah kakak putusin aja." ujar Tama santuy.

__ADS_1


Malika mengangguk tanda mengerti, dia tau kakaknya bukan lah orang yang bisa di kekang, dan di perintah perintah, dan tidak suka hidup mewah, dia lebih suka dengan ke sederhanaan, dan tidak suka hidup dengan harta orang tuanya.


"Dek." panggil Tama.


"Hmmm..." jawab Malika, karena dia lagi asik memandangi ke dua buah hatinya.


"Apa kamu belum mau pulang, apa kamu akan tetap tinggal di sini?" tanya Tama hati hati, walau bagaimana pun, mendengar kabar dari orang suruhannya, Refandi, Tomy dan mamanya saat ini sangat terpuruk, mereka juga terus berusaha mencari Malika sampai saat in, dan orang suruhannya, juga mengirim foto keluarga ke Tama, membuat hati Tama yang tadinya mendukung sang adik, mulai sedikit luluh, namun dia tidak akan memaksa adiknya, kalau sang adik tidak ingin pulang, dia tau, adiknya itu sangat sakit hati.


"Kenapa kakak tanya kaya gitu?" tanya Malika, melihat raut wajah kakaknya itu sedikit berubah, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh kakaknya itu.


"Dek, sebenarnya suami mu, saat ini tidak sedang baik baik saja." ucap Tama.


Malika tertegun mendengar ucapan sang kakak, namun tidak berniat untuk menyela ucapan kakaknya itu.


"Kamu mau lihat keadaan mereka sekarang?" tanya Tama hati hati, dia takut adiknya akan marah, namun Malika hanya dia, dan menatap Tama dalam diam, Tama merogoh hpnya, dan membuka foto foto Refandi dan yang lainnya, kepada Malika.


Tes....


Tes...

__ADS_1


Air mata Malika jatuh tanpa di perintah, melihat keadaan sang suami saat ini, dia kurus, rambut panjang, jambang tak di cukur, tatapan matanya kosong, tidak jauh dengan sang suami, yang lain hampir sama di lihat Malika.


Saat Malika membuka vidio suaminya, dia semakin teriris, melihat suaminya memekuli dirinya sendiri, sampai luka dan lebam, dia berteriak teriak seperti orang stres, dan memohon sang istri kembali, Malika tidak sanggup melihat vidio demi vidio sang suami, apa lagi mendengar raungan suaminya, memohon dia pulang.


Hiks... Hiks...


"Kenapa jadi begini, bukan kah ini yang mereka mau, tapi kenapa mereka malah menderita aku pergi, hiks..." pecah sudah tangis Malika, dia memang tidak tau sama sekali apa yang terjadi kepada orang orang itu, dan dia fikir dengan ke pergian dirinya mereka akan senang, tapi apa yang Malika lihat, mereka malah menderita. Malika memang tidak pernah membuka hpnya, dia memakai hp barunya, untuk bekerja dan lain lainnya.


"Jadi gimana keputusan kamu dek?" tanya Tama.


"Aku ngak ingin kembali, aku sudah betah di sini, klau kakak mau memberi tahu keberadaan ku, aku ngak pa apa." putus Malika pada akhirnya, memang dia orang yang berhati lembut, sudah di sakiti, namun melihat orang yang telah menyakitinya menderita, dia kembali luluh.


"Baik lah, kakak akan kasih tau mereka, dan apa pun keputusan ada di tangan mu, kakak tidak akan memaksa kamu pulang, dan tenang saja, kakak akan selalu ada di belakangmu, jangan takut." ujar Tama, dia tau adiknya itu masih bimbang, namun hatinya tidak tega melihat orang orang yang dia sayangi semenderita.


Ting....


Satu pesan masuk ke dalam hp Refandi, dari nomor tidak di kenal.


"Apa....." pekik Renfandi dengan wajah sudah tidak bisa di tebak, semua yang berkumpul di rumah itu, ikut kaget melihat wajah kaget refandi, yang sedang menatap hpnya, dengan tangan bergetar.

__ADS_1


Bersambung...


Haduuhhh.... maaf ya, kemaren outhor tidak bisa up, saking capek nya bolak balik dengan segudang aktifitas di dunia nyata, sampai tidak sempat up kemaren, semoga para Rayders mengerti๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ˜ฌ terimakasih, yang selalu menunggu waktu up outhor๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


__ADS_2