Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 64


__ADS_3

"Lika, apa kau suka di sini?" tanya Miranda memastikan kenyamanan sahabatnya itu.


"Hmmm... Aku sangat menyikainya, di sini udaranya masih sangat segar, belum ada polusi udara, aku suka." ucap Malika, yang memang menyukai tempat itu.


Rumah Nenek Imah memang berada di lereng gunung, jadi Malika sangat suka pemandangan di sana, dia juga bisa melihat air terjun dari rumah nenek Imah.


"Syukurlah klau kamu betah." ucap Miranda bernafas lega.


"Kamu kapan akan pulang ke kota?" tanya Malika kepada sahabatnya itu.


"Aku tidak akan pulang ke sana, aku mau di sini bersama mu." ujar Miranda.


"Lalu, bagaimana dengan kerjaan mu?" tanya Malika tidak enak hati, karena sudah melibatkan sahabatnya itu.


"Kau tenang saja, paman sedang membuat usaha di sini, aku akan tinggal di desa bersama nenek, kau tau kan, nenek itu ngak mau klau di ajak ke kota, dia ngak mau meninggalkan rumah kenangannya bersama anak anak dan suaminya." ucap Miranda.


Malika menagangguk tanda mengerti.

__ADS_1


"Oh... Iya, nanti kalau kau mau ke kota untuk belanja pakai kartu ini aja." ujar Malika, menyodorkan katu ATM ke tangan sahabatnya itu.


"Kau mau ketahuan, memakai kartu itu." omel Miranda, tentu saja suami sahabatnya itu akan tau pelarian mereka, kalau memakai kartu ATM itu.


"Kau tenang saja, itu kartu ku, saat kita masih bekerja, bukan dari siapa siapa, jadi aman." ucap Malika, dan memang itu adanya.


"Emang masih ada tabungan kamu? kan sudah lama ngak kerja?" tanya Miranda.


"Masih banyak di dalam sana, kau tau kan, klau Mas Refan selalu memenuhi kebutuhanku, jadi. Aku ngak pernah pakai uang hasil kerjaku dari sejak itu, dan kau tau kan, klau aku trauma bergantung sama orang, walau pun aku diam di rumah, kadang aku menulis novel, untuk menghalau ke jenuhan, ngak ada yang tau tentang itu, hasilnya aku bermain saham, walau aku jauh dari mereka, aku ngak takut, karena semua sudah ku persiapkan dengan matang." ujar Malika.


"Oohh....Iya, kau tau aku baru saja melamar kerja di luar negeri." ucap Malika santai.


"Apaaa.....!! pekik Miranda tidak percaya dengan ucapan temannya itu, apa temannya ini benar benar sudah muak menjalani hidup patuh selama ini, makanya dia jadi pembangkang luar biasa saat ini, apa bawaan dari bayi yang ada dalam perutnya itu.


"Isss... Kau ini, membuat telingaku budeg saja." kesal Malika.


"Kau benaran bakal pergi ke luar negeri kalau di terima kerja?" tanya Miranda.

__ADS_1


"Ncek... Tidak harus ke sana dodol, aku bisa bekerja dari sini, tanpa harus kemana mana, yang penting aku punya hp dan laptop." ujar Malika.


"Huufff... Aku pikir." ujar Miranda menghembuskan nafas lega.


"Tapi.... Ngak tau nanti, klah dia sudah lahir, bisa jadi aku ingin kesana." ujar Malika lagi.


"Aahhh... Tau lah, nanti lagi pikirin, jangan sekarang, bisa stres aku." keluh Miranda, dia tau sedikit banyak wanita pendiam kalau selalu di tindas atau terluka bisa saja nekat, apa lagi wanita seperti Malika, sudah sering di sakiti, dan sudah biasa hidup susah, bisa jadi wanita hamil itu sudah berada di titik jenuh, dan ingin bebas, tanpa perduli apa pun lagi. Hati orang siapa yang tau, wanita berhati lembut, itu bisa saja menjadi sekeras batu kalau sudah sering di sakiti.


Bukan hanya Refandi dan Keluarga tante yang kalang kabut mencari Malika, rupanya kepergian Malika juga sudah sampai ke telinga Orang Tua Refandi.


"Astaga, apa yang terjadi di kepala anak itu, apa kepalanya habis terbentur, bisa bisanya dia menyakiti menantuku." dumel Pak Aksa, yang di beri tau oleh orang suruhannya, namun sayang, orang suruhan Pak Aksa tidak bisa mengikuti kemana Malika pergi, saking pintarnya dua wanita itu menyamar, tanpa bisa di temukan oleh semua orang.


"Tolong temukan mereka Pi. Bagaimana cara menantu Mami bertahan hidup di luar sana hiks... hiks..." pecah sudah tangis Mami Retno, walau dia tidak pernah menemui menantunya, namun dia selalu memantau ke adaan menantunya itu, melewati Bi Jum.


"Iya Mi, tenanglah. Papi sedang menyuruh orang suruhan Papi untuk mencari menantu kita." ucap Pak Aksa menenangkan sang istri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2