Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 85


__ADS_3

"Waahhh.... rumah kak Malika bagus banget" girang Ana melihat rumah baru Malika dengan mata berbinar, bagaimana tidak, rumahnya tingkat dua, yang lumayan besar iti, dan ada kolam ikan di taman depan, juga ada air mancur buatan.


Ana lihat jalan, nanti kamu ke sandung," tegur Bu Siti melihat anaknya itu berjalan dengan mata ke sana ke mari, tapi kaki ikut melangkah.


"Biarin aja bu, paling kalau jatuh nyungsep." kekeh Tama, yang memang suka menjahili remaja kesayangan Malika itu.


"Issshhh... kakak jahat banget." cibit Ana, melihat Tama dengan pandangan kesal.


"Dih... bu lihat bibirnya anak udah kaya bibir soang." kekeh Tama.


"Kak Tama...." pekik Ana kesal, sementara yang di teriakin sudah masuk ke dalam rumah lebih duluan.


"Waahhh... betah ini mah di sini, di suruh nginap di kamar mandinya aja juga boleh." kekeh Ana melihat semua ruangan dan juga kamar mandi di dalam kamarnya, yang di suruh oleh Tama, karena Bu Siti dan Ana tidak di izinkan tidur di kamar pembantu, karena Ana dan ibunya sudah di anggap keluarga oleh Malika.


"Sudah kamu tidur aja di sana, ibu mah ogah." sahut Bu Siti yang mendengar celotehan anaknya itu.


"Ana juga ngak mau bu," kekeh Ana keluar dari kamar mandi.


"Lagian kamu aneh aneh aja, mau tinggal di dalam kamar mandi." kekeh Bu Siti, Ana cuma nyengir.


"Yuk, kita ke luar, takut nak Tama lama nungguin kita." aja Bu Siti.


"Bu, nanti ibu masaknya dia belakang sana ya, dapur ini, dapur bersih sesekali aja di gunainnya." ujar Tama.


"Baik mas." ujar Bu Siti patuh.


"Yang namanya dapur ya kotor lah kak, kalau cuma bisa di lihat aja, itu namanya pajangan." sahut Ana.

__ADS_1


"Anda benar." ujar Tama menjitak gemes kepala Ana.


"Aduh, sakit tau..." ceberut Ana.


"Alah lebai gitu aja drama, padahal mah di kampung kesandung batu, kaki berdarah kamu biasa aja tuh." kekeh Tama.


"Kan beda kak, sekarang kan aku anak kota, yang manja manja syantik..." sahut Ana dengan gaya genitnya.


"Ibu, Ana aku bawa kekampung lagi ya, biar di ambil mak tirinya, takut aku bu, dia kelamaan di sini, tambah bertingkah dia nanti, ini belum sehari aja sudah begini." Adu Tama.


"Ngak ya kak, ogah aku balik ke kampung, hiii... mit amit sama mak tiri yang sendu itu." mengajar bahu tanda geli.


"Sendu, apa tuh sendu?" tanya Tama yang tidak mengerti.


"Senang duit, saking senangnya sama duit, jadi lupa mana yang hak dia, mana yang hak orang lain," gerutu Ana.


"Ncek... emang kamu ngak sendu." cibir Tama, dia tau betul bagaimana Ana, karena Ana juga bekerja selepas pulang sekolah, dan waktu libur, anak itu ngak akan mau libur sehari pun, alasannya sayang sama uang."


"Itu sih beda kak, aku usaha mati matian buat dapat uang dengan hasil usaha aku sendiri, bukan ingin mengambil hak orang lain, lagian aku kerja, ngak mau ibu kecapean kerja di sawah orang, kan aku bisa ngeringanin beban ibu, jadi ibu ada waktu untuk istirahat, dan merawat diri, ibu belum tua tua amat kok, umur ibu masih 32 th, cuma sering berjemur aja jadi gosong gini, klau di sini nanti aku akan merawat ibu biar kembali terlihat lebih muda dari usianya, mana tau aku punya ayah tiri Ceo, dan bapak ku itu akan menyesal kehilangan ibu ku ini" oceh Ana menggebu gebu.


Tama terkekeh melihat wajah serius bocah yang besok hari baru akan masuk sekolah menengah atas itu, begitu berambisi ingin membuat ibunya kembali cantik, memang tidak di pungkiri bu Siti sebenarnya memang lah cantik, namun karena tinggal di kampung, memenuhi kebutuhan keluarga, dia harus rela berjemur di bawah terik matahari, bekerja agar mendapat uang, makanya dia terlihat tua dari usianya.


"Tenang lah, nanti kakak cariin Ceo duda untuk ibumu." kekeh Tama.


"Aakkk... kakak yang terbaik, aku akan tunggu waktu itu, dan aku akan pamer ke keluarga bapakku, biar makin jadi mereka, jadi gila..." semangat Ana.


"Astaga, istiqfar nak, kamu ini ada ada aja." omel ibunya.

__ADS_1


"Loh, emang mimpiku memang itu kok, ibu juga juga bukan wanita bodoh, buktinya ibu walau tinggal di kampung, tetap sekolah sampai SMA, masih ibu aja yang kurang beruntung dapat suami, yang katanya sayang sama ibu, cinta sama ibu, setelah nikah malah di sia siakan, di ancam dikit mau nurutin permintaan orang tuanya untuk nikah lagi, dasar bapak bapak labil." cibik Ana, yan masih sakit hati sama bapaknya itu.


"Ngak boleh gitu, walau bagaimana pun dia tetap bapakmu nak," nasehat bu Siti.


"Iya, aku tau, dia bapakk, tapi.... cuma di kk, dan akte doang, selebihnya aku anak ibu, buktinya, hanya ibu yang berjuang untuk aku, bapak mana, dia malah lebih milih selalu di bawah ketek ibunya, dan pulang cuma ngecas doang, sekarang sudah dapat casan baru, yang lama di buang gitu aja." rutuk Ana.


"Astagfirullah... kamu ngomong apa sih nak." ucap Bu Siti dengan wajah yang sudah merona malu, malu sama Tama, Tama pun ikutan malu mendengar kicauan bocah itu.


"Huuuh.... aku juga bukan anak yang cupu bu, teman teman ku bahkan sudah ada yang nikah, istilah begituan aku juga tau, tapi aku juga tau batas, ya kali aku mau ikut ikutan sama kaya teman teman aku, sekedar tau itu ngak pa apa, agar kita ngak kolot kolot amat." santai Ana, dia tidak tai bagaimana wajah sang ibu dan Tama.


Ingin rasanya bu Siti masuk ke dalam lobang semut, namun apa daya, ngak muat sama badannya, Tama pun sama, ingin sekali dia mengarungi Ana, namun kasian, nanti bu Siti kehilangan anak semata wayangnya.


"Sudah, sudah, kamu klau ngomong selalu ngaco, sekarang yuk, keliling dapur." ajak Tama, agar Ana tidak lagi berceloteh semakin menyesatkan.


"Ini kulkas bu." ucap Tama, yang lupa mau ngomong apa gara gara kelakuan Ana tadi.


"Semua orang juga tau ini kulkas kak, klau mesin cuci ngak mungkin naroknya di dekat meja makan gini." sahut Ana.


Gemes sekali rasanya Tama sam anak satu itu, ada aja yang membuat dia kesal.


"Iya, maksud kakak, kalian gunain aja semua bahan bahan yang ada di dalamnya., kak Malika sudah memberikan untuk kalian," terang Tama membuka pintu kulkas yang segede gaban itu.


"Wuaaahhhh.... isinya full, aku bisa gemuk tinggal di sini mah," pekik Ana kegirangan melihat isi kulkas, yang padat itu, walau dia tinggal di desa yang sedikit terpencil itu, bukan bearti dia juga ikutan udik, karena Malika di sana lah yang sudah menerangkannya sama Malika, sebab semua barang barang mewah ada di rumah Nek Imah, dan Ana si ratu kepo pasti akan bertanya apa saja, dengan otak encernya dia dapat belajar sekali saja, untuk segala makanan dan berbagai minuman, sudah pasti dia tau dari televisi, dan sesekali dari Malika, karena Malika sering membelinya.


"Dasar maruk, makan banyak tapi badan tetap kurus, makanan kamu di tarok dimana? apa kamu cacingan." ledek Tama.


Ana hanya mengangkat bahu acuh.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2