
"Selamat ya kak Tama, Kak Miranda, semoga pernikahan kalian samawa, dan cepat punya debay ya, biar Ana makin banyak ponakannya," Kekeh Ana gadis remaja yang terlihat sangat cantik dengan memakai kebaya modern, berlengan se bahu, dan memakai songket serut, pakaian yang di pakai Ana sangat kontras dengan kulit Ana, dan bajunya caple an sama sang Ibu, yang juga terlihat sangat cantik dan awet muda, gulit gosong yang di bilang mantan lakinya dulu entah sudah hilang entah kemana, dan badan kurus kering itu sudah berubah menjadi montok.
"Makasih Ana." ujar Miranda memeluk Ana yang sudah di anggap adik sendiri itu.
"Haiii bocil... sebagai kado dari kakak, karena kamu sudah do'a in kakak dan sudah selaku suport kakak, kakak kasih kamu sepeda motor satu, biar bisa jalan jalan keliling komplek," ujar Tama.
"Ihhh.... Ngak usah kak, Ana ngak butuh." tolak Ana, kaget sekali gadis cantik itu me dengar ucapan Tama, bagaimana tidak, keluarga Malika itu tidak henti hentinya memanjakan Ana dengan barang barang mewah.
"Ngak ada penolakan, biar kamu ngak selalu bolak balik tlp Mang Karyo." ujar Tama.
"Ihhh... ngak pa apa kak, biar dekat sama calon bapak baru." bisik Ana terkekeh, dan bisikan Ana itu masih bia di dengan oleh yang lain, termasuk sang ibu.
Puk....
"Ausss... Sakit Ibu, kenapa kdrt sama anak sendiri sih." rengek manja Ana.
"Habis kamu ini ngomong sembarangan!" kesal Sang Ibu.
"Ihh... Ibu klau jodoh mah siapa yang tau, dengan senang hati Ana ibu yang cantik cetar membahana ini menerima bapak tiri kaya mang Karyo." kekeh Ana menjauh dari sang ibu agar tidak kena gaplok lagi.
"Anaa....." Geram Bu Siti mempelototi sang anak.
Yang lain ikut terkekeh melihat ibu dan anak yang seperti tom and jerry itu.
"Astaga, si Ana benar benar membuat ibunya kesal." kekeh Nek Imah
__ADS_1
"Nenek ngak tau aja, gimana proses bi Siti sampai bisa secantik sekarang," kekeh Tama yang tidak tahan menahan tawanya, dia sangat tau bagaimana Ana memaksa ibunya ini dan itu, membuat Bu Siti ingin kabur saja saat itu, bagaimana Ana mengajak ibunya senam kebugaran, sampai ngos ngosan, tapi lihat hasilnya sekarang, membuat mata orang tak bisa berhenti memandang bu Siti.
Di sudut sana Mang Karyo tak bisa tidak menatap kagum kepada janda cantik itu, yang biasa hanya dia lihat, memakai baju rumahan, itu saja sudah membuat jantungnya bergetar, dan apa lagi sekarang memakai pakaian kebaya modern, aahhh... rasanya mang karyo ingin mengajak bu Siti ke penghulu saja sekalian, kalian tidak ingat ini pesta pernikahan adik majikannya.
Dan di sudut yang berbeda, seorang laki laki metapan sendu dan penuh penyesalan, melihat ibu dan anak itu hidup bahagia, dan terlihat sangat bahagia setelah berpisah darinya, bukan dia tak cinta sama sang istri, bukan juga dia tak sayang sama sang anak, namun rasa takut kepada sang ibu lebih besar, membuat dia menjadi suami sekaligus bapak yang brengsek di buat sang ibu, dan di paksa menikah dengan wanita yang tidak sama sekali dia cintai, gara gara wanita itu orang kaya, dan suka ngasih ibunya uang, dan membelikan barang berharga, dengan tega memaksa dirinya menikahi wanita itu.
"Hooo... Berani ya kamu nginjakin kaki di kampung ini kembali, setelah kau menjual rumah milik suamiku." bentak seseorang, membuat bu Siti terlonjak kaget, yang sedang fokus mengambil makanan.
"Astagfirullah... kaget bu Siti, bukan saja bu Siti yang kaget, semua orang yang berada di sana ikutan kaget, mendengar bentakan Lilis.
"Alah, ngak usah sok sok an kaget kau, mana uang jual rumah itu, kasiin ke aku, kau tidak berhak atas uang itu." maki Lilis tak tau malunya.
"Huooaaa.... lalu siapa yang berhak atas rumah itu, Tankor..." balas Ana dengan menatap remeh Lilis, kini anak itu ngan ada takut takutnya sama Lilis, tidak seperti dulu, yang hanya bisa diam, atau memilih pergi, namun tidak untuk sekarang, karena dia sudah tidak punya hubungan apa apa lagi sama mereka, pikir Ana.
"Tante pelakor maksudnya..." cibir Ana.
"Hahaha... emang tankor itu anaknya nenek aku, sampai sampai tante merasa rumah nenek aku itu milik tante, dan satu lagi, suami tante itu merenovasi rumah ibu aku sudah lama sekali, dan tankor belum jadi istri, kenapa, dan itu memang kewajiban suami tante, saat itu dia masih jadi suami ibu saya satu satunya, kenapa tankor terlalu berambisi ingin menguasai rumah ibu saya, apa tankor sudah kekurangan uang buat manjain mertua, takut di depak ya jadi menantu," cibir Ana dengan mulut pedesnya.
Sementara semua tamu undangan malah asik menonton opera yang di bawakan Ana dan Lilis, sambil menikmati hidangan, sudah serasa nonton di layar tancap saja mereka, dan pengganti itu bukannya merasa marah dan kesal pernikahan mereka jadi acara ribut ribut, mereka juga menikmati opera itu.
"Kurang ajar sekali kau bocah ingusan, aku bukan pelakor sialan!"
"Bukan pelakor apa dong, maling" kekeh Ana.
"Ana jangan ngomong kaya gitu sama ibu tirimu nak dia juga sama seperti ibu, dia juga ibu kamu, sopan bicara sama dia nak," ujar si kardus membela istrinya.
__ADS_1
"Cih.... ibu saya cuma ibu Siti, tidak ada yang lain, dan saya tidak pernah punya ibu lain, cukup satu ibu buat saya, sekaligus merangkap ayah bagi saya, dari dulu saya hanya hidup dengan ibu saya, anda juga tidak berarti buat saya." ujar Ana dengan tatapan bengis, bisa bisanya bapak kardus itu membela istrinya, jelas jelas tankor itu yang salah.
"Lihat Yang, didikan mantan istri kamu yang ngak laku itu, anaknya jadi kasar, pantas saja kamu minta cerai sama dia, gimana bisa kamu bertahan sama orang kaya gitu, ngedidik anak saja ngak bisa, serakah pula, mana ada laki laki yang mau sama dia, anak nya kasar dan apa yang bisa dia banggakan, rumah saja ngak punya, percuma saja merubah diri, tetap saja akan jadi janda tidak laku." cibir Lilis.
"Kamu benar Lis, selama jadi menantu dia itu hanya bisa memoroti laki, ngak pernah ngasih apa apa sama mertua, malang sekali anak saya nikah sama perempuan kaya gitu, saya bersyukur anak saya lepas dari perempuan itu, siapa juga yang mau sama dia, cuma anak saya saja yang bodoh, mau menikah sama perempuan matre itu, bisa bisanya jual rumah, dan ngak ngasih suami sepersen pun." sinis mantan mertua Bu Siti.
Ana sudah mangap ingin menjawab hinaan dari keluarga bapaknya itu, namun sudah di dahului oleh laki laki tampan di samping bu Siti.
"Siapa bilang Siti ngak laku, justru anak anda yang menyesal kehilangan istri dan anaknya, apa anda tidak melihat wajah anak anda yang tidak ada gairah hidup, karena tuntutan anda." cibir Mang Karyo, panas hati mang Karyo dari tadi mendengar kata kata kasar dari istri mantan suami dan mantan mertua Bu Siti itu, dia tidak rela orang yang sedang ingin dia perjuangkan di hina orang lain.
"Haiii... anda siapa, berani beraninya menyela saya." garang Bu Ratmi karena ada laki laki tampan yang membela Siti, mana lebih tampan dari anaknya.
"Ana... sini nak," panggil Mang Karyo dengan suara lembut.
Ana lansung mendekat, dengan perasaan riang gembira, ini laki laki yang dia suka, tanpa banyak cakap lansung membantu, tanpa di minta.
"Apa Om...?" ujar Ana bergelayut manja di tangan Karyo, dia lansung mengganti panggilan mamang agar keren jadi Om, dasar si Ana ratu drama.
"Saya siapa kamu?" tanya Mang karyo lembut ke arah Ana.
"Calon Ayah aku..." ujar Ana santai dengan suara lantang tanpa beban.
Duar.....
"Apaaa....."
__ADS_1