Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 62


__ADS_3

"Sayang.... Malika, sayang... kamu dimana sayang?!" panggil Refandi mencari keberadaan sang istri.


Dia kembali masuk ke dalam kamar tidur mereka, namun nihil sang istri tidak ada di sana, sampai Refandi mencari ke dalam kamar mandi, namun tetap nihil, dia tidak menemukan Malika sama sekali.


Deg....


Jantung Refandi makin makin tidak karuan melihat lemari pakaian sang istri berkurang, dan juga melihat surat surat penting sang istri tidak ada lagi di dalam lemari mereka.


Refandi berlari dari kamar dan menuju halaman rumah, mencari keberadaan sang istri.


"Lika, Malika, kamu dimana sayang...." Refandi semakin berteriak lantang karena tidak menemukan sang istri di luar sana.


Mendengar suara Refandi semakin kencang memanggil Nama Malika, membuat Tomy dan Tante Tania berlari ke rumah Malika itu.


"Ada apa Fan? kenapa teriak teriak." panik Tante Tania.


"Malika Tan, Malika ngak ada." ujar Refandi frustasi. Sungguh dia menyesal telah berlaku tidak adil kepada Malika, bukan maksud hati seperti itu, karena Lisa sudah seperti saudara baginya, namun dia lupa perlakuannya melukai perasaan sang istri.


Deg....


Jantung Tomy dan tante Tania, ikut tak beraturan mendengar ucapa Refandi itu.


"Lika Maafin tante sayang, tante salah." gumam Tante Tania, tumpah sudah air matanya.


"Dek. Kamu dimana, maafin kakak, kakak salah." ujar Tomy mengingat perlakuan kasarnya tadi, bagaimana tidak dia sempat mendorong sang adik, agar menjauh dari sang istri.


"Aaggg.... Lika, kamu di mana sayang." Refandi berlari ke sana kemari mencari sang istri dan memeriksa setiap kamar yang ada di dalam rumah itu.


"Bi. Bik Jum...." panggil Tante Tania.

__ADS_1


"Iya, bu..." sahut Bi Jum menghampiri tante Tania.


"Bi. Lihat Malika ngak?" tanya Tante Tania.


"Tadi. Nak Malika keluar dari rumah Ibu dengan keadaan tertatih tatih, dia minta tolong saya untuk masuk ke dalam rumah, trus minta di kemasi beberapa pakaian dan juga surat surat pentingnya, lalu minta di carii taxi." ucap BI Jum yang tidak sepenuhnya berbohong, karena dia sendiri yang mengatar Malika ke klinik, dan di suruh pulang oleh Malika.


Deg....


"Maksudnya istri saya pergi dari rumah Bi?" tanya Refandi panik.


"Iya." jawab Bi Jum seadanya, memang benar majikannya itu pergi dari rumah.


Tanpa ba bi bu. Tomy melacak GPS sang adik, yang pernah dia pasang, namun sayang GPS nya sudah tidak aktif.


Mereka lupa siapa Malika. Malika memang penurut tapi Malika bukan anak bodoh, dia mahasiswi terbaik di kampusnya, apa lagi dia bukan gadis yang gaptek, gampang baginya mengutak atik hpnya.


Refandi menelpon nomor Malika, berkali kali hanya operator yang menjawab.


Tomy pun tak ingin kalah, dia ikut mencari Malika memutari kota tempat mereka tinggal, Refandi sampai mengecek, ke terminal, stasiun, sampai bandara namun hasilnya nihil, dan dia ingat klau Bi Jum bilang sang istri ke sakitan, dia membelokan mobil ke setiap rumah sakit dan klinik yang dia temui. namun apa hasilnya nihil.


Menyesal sungguh menyesal atas perlakuan dia kepada sang istri.


Dia kembali ke rumah dalam ke adaan kacau, berharap sang istri sudah kembali ke rumah.


"Kenapa ini bisa terjadi?' tanya Om Indra, mengingat keponakannya tidak pernah seperti ini, dan semua baik baik saja selama ini, tapi kenapa tiba tiba sekarang keponakannya pergi dari rumah, dan dia belum bisa bertanya apa apa, karena sang istri dari tadi hanya mengis dan menangis, Tama pun tadi ikut mencari sang adik, karena di kasih tau papanya.


Kini mereka sudah berkumpul di ruang keluarga rumah Malika, termasuk semua pelayan, tukang kebun dan juga penjaga rumah.


"Tadi itu..." mengalir lah cerita dari Bi Jum, dia sudah tau apa yang terjadi sama Malika.

__ADS_1


"Kurang ajar..."


Bug...


Bug...


Plak...


"Bajingan kalian semuanya, pantas Malika pergi dari rumah ini, tega kalian sama Malika, tidak perduli dengan ucapannya, malah mengambil kesimpulan sendiri, apa pernah selama ini dia mencelakai orang ha....!" bentak Om Indra setelah puas memukul anaknya.


Om Indra benar benar murka, karena anaknya dengan tega mendorong wanita hamil itu, tidak habis pikir dia sama keluarganya saat ini.


Apa lagi kepada sang istri, sungguh dia kecewa, kenapa begitu tega kepada Malika, dan tidak mendengar penjelasan Malika, padahal selama ini sang istri sangat menyayangi keponakannya itu.


"Loe bang, kenapa loe tega sama bini loe, dan kenapa loe ngak perduli sama istri loe, malah memilih melihat orang lain, sementara istri loe kesakitan tapi loe ngak perduli, apa loe lupa gimana Lika merawat loe, apa loe merasa jika Malika itu sudah bahagia hidup sama loe, apa loe tau, akhir akhir ini bini loe suka murung, karena loe lebih suka dengan pekerjaan loe, dan jarang ada waktu untuk Malika, loe mengabaikannya, dia selalu ngertiin loe, dan ngak pernah merengek seperti wanita lain karena di abaikan, tapi loe malah makin sibuk sendiri, loe lupa dengan janji loe sama dia, loe janji akan membahagiakannya, mana bukti nya, dia hamil anak loe aja, loe ngak perduli, di awal awal aja tuh loe yang bersemangat, dan sekarang apa buktinya, mentang mentang Lika ngak banyak nuntut loe lupa daratan." sinis Tama, matanya berkaca kaca, hatinya sesak mengingat sang adik.


Deg....


Hancur hati Refandi mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Tama itu, benar, memang dia lalai akhir akhir ini, jujur memang Refandi orang gila kerja, sama seperti Tomy yang suka lupa akan semua hal, klau menyangkut pekerjaan, di tambah sang istri yang tidak banyak menuntut, dia pikir itu biasa saja, dia lupa wanita hamil itu selalu ingin di manja, ingin di perhatikan, tapi apa yang dia lakukan, dia membuat wanita itu terluka, kesepian, menikmati masa hamilnya seorang diri, otak nya yang tidak jauh jauh, ingin membuat usahanya semakin maju dan di kenal banyak orang, di akui dunia, jadi lupa dengan wanita yang selalu mensuportnya dari dulu, tanpa Malika belum tentu dia bakal bisa berdiri dengan gagah seperti ini, dia lupa semua itu.


"Maaf..."


Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Refandi, dia tak mampu berkata kata lagi, tubuhnya serasa tidak mempunyai tenaga lagi, dia kehilangan gairah hidupnya, dia kehilangan separoh nyawanya.


Lisa turut menyesali dirinya, andai dia tadi tidak pingsan, mungkin semua tidak akan terjadi, pasti semua akan baik baik saja.


Tomy hanya bisa menunduk, rasa sakit di tubuhnya tidak dia rasakan, dia menerima semua pukulan sang papi, semua memang salahnya, dia akui itu, andai dia tadi bisa berfikir jernih, pasti semua tidak akan terjadi.


Tante Tania pun merasa bersalah, dan dengan ucapan sang anak, Tama, dia merasa tertohok, dulu dia sampai sakit sakitan memikirkan keponakannya itu, begitu perhatian dengan kehamilan sang keponakan, saat tau menantunya hamil dia lupa klau keponakannya juga butuh perhatian, malah dengan tidak tau dirinya, dia membentak Malika tadi, dan tidak mendengar penjelasan keponakannya itu.

__ADS_1


Om Gunawan tidak tinggal diam, dia mengerahkan seluruh anak buahnya, untuk mencari Malika.


Bersambung...


__ADS_2