Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 37


__ADS_3

"Sayang, pulang dari kampus kamu lansung ke sworoom aja ya, Mas nanti ada makan siang sama klaen, jadi kamu ikut Mas aja ya." ujar Refandi saat Malika sedang memasangkan dasi di lehernya.


"Baik lah, Pak Boss" ujar Malika dan tersenyum manis kepada sang suami, yang menatapnya penuh kagum.


Cup....


Refandi lansung melu mat bibir manis sang istri dengan lembut.


"Ini. kenapa selalu bikin candu sih?" ujar Refandi melepaskan tautan bibir mereka.


"Isss... Mas ini. Aku sudah rapi, malah di berantakin lagi" ujar Malika cemberut.


"Habis. Dia selalu menggoda" kekeh Refandi melepaskan pelukannya.


"Sayang, ingat. Jangan lirik lirik cowok lain. Kamu sudah bersuami" ujar Refandi, saat mengantar Malika ke kampus, sesungguhnya dia tidak suka istrinya jauh jauh dari dirinya, apa lagi penampilan Malika sekarang semakin bersinar, tak jarang mahasiswa ingin mendekatinya, membuat Refandi suka kelojotan melihat setiap rekaman yang di kirim para bodyguar rahasia Refandi, yang di khususkan untuk menjaga sang istri, tentu saja Malika tidak mengetahui hal itu, bisa mencak mencak dia, serasa di mata matai.


Malika hanya terkekeh mendengar ucapan sang suami, dari kapan pula dia datang ke kampus ini, untuk tebar pesona, niat dia kuliah hanya ingin cepat wisuda, klau bisa tahun ini dia bisa wisuda.


"Ini. Di dengar sayang, bukan cengengesan kaya gini" kesal Refandi.


"Iya, iya. Klau tidak lupa, akan aku ingat" ujar Malika menggoda sang suami, dia buru buru keluar sebelum suaminya itu mengamuk.


"Ya... Sayang... Awas kamu ya" kesal Refandi melihat tingkah tengil sang istri.


Malika berbalik dan menjulurkan lidahnya, dan menaik turunkan alisnya, dan kembali melanjutkan langkahnya memasuki kampus.


Refandi yang keaal, lansung terkekeh melihat tingkah menggemaskan sang istri.


"Ya Tuhan, kenapa dia semenggemaskan itu" gumam Refandi melihat punggung sang istri yang menjauh dari dia.

__ADS_1


Tiba tiba senyum Refandi lansung surut seketika melihat sang istri di hadang oleh ibu angkatnya.


"Ada apa lagi wanita tua itu?" ketus Refandi.


"Apa. Kita harus turun Tuan?" ujar Mang Karyo, yang juga menghawatirkan Nyonya mudanya yang baik hati itu.


Sementara di depan sana Malika sedang menghadapi ibu angkatnya.


"Lika...."


Malika yang sendang berjalan santai masuk gerbang kampus, lansung menghentikan langkahnya, dia sudah kenal dengan suara orang yang memanggilnya itu.


"Malika. Kamu benar benar anak tidak tau terimakasih dan tidak tau balas budi, sudah di tampung hidup di rumah ku, selama ini. Dan di carikan jodoh orang kaya raya, aku rela anakku tidak menikah dengan laki laki kaya itu, agar kau bisa hidup bahagia, tapi apa... setelah menikah dengan suami kaya mu itu, tidak ada sedikitpun kau mengucapkan terima kasih, dan kau putuskan hubungan kita, dasar anak pungut tidak tau diri!" maki Bu Sulastri dengan suara lantang, ingin mempermalukan Malika. Rupanya perempuan paruh baya itu belum kapok kapoknya membuat ulah.


Malika terkekeh dan geleng geleng keperluan melihat Bu Sulastri itu.


"Kenapa kau diam! jawab pertanyaan ku!" kesal Bu Sulastri, dia kesal melihat Malika seperti sedang meledeknya, dia sengaja membuat ke onaran agar Malika malu dan takut, dengan begitu dia bisa memanfaatkan Malika, namun apa yang terjadi, anak yang duku patuh dan selalu mengikuti perintahnya itu, tidak gentar sedikit pun.


Tentu saja, Bu Sulastri gelagapan mendengar ucapan sang anak angkat.


"Bukan aku yang tidak tau di untung, kacang lupa kulitnya Bu, Tapi kamu!" tunjuk Malika dengan wajah bengisnya.


"Apa maksudmu!" pekik Bu Sulastri berupa pura tegar, padahal hati sudah ketar ketir.


"Kau itu orang kampung, yang di tolong oleh orang tua ku, dan orang tuaku juga yang mengangkat derajat kalian, bukan maksud hati ku, ingin mengungkit kebaikan orang tua ku, tapi aku tidak bisa kamu tindas terus terusan Bu. Aku, selama ini tinggal di rumah mu. Hanya menumpang tidur, itu. juga tidak gratis, aku mengerjakan semua tugas pembantu di rumah kalian, aku ini jadi babu gratis di rumah kalian, aku. bisa sekolah mengandalkan otakku, untuk memenuhi kebutuhan hidupku, aku rela kerja serabuta di luar sana, demi bisa makan tiga kali sehari, dan untuk membeli peralatan sekolah ku, lalu di mana salah ku! oh... karena aku menikah dengan suamiku yang kaya itu! itu yang kamu ungkit wahai ibu angkat! apa kamu lupa. Anakmu yang tidak ingin menikah dengan laki laki cacat itu, karena kamu sudah mengambil uang atas menjual anak mu itu. Kau paksa aku menikah dengan dia, dan uangnya kalian nikmati tanpa sepersenpun kalian berikan ke aku! aku ikhlas menerima itu! anggap aku membayar tempat tinggal ku selama ini. Lalu apa lagi yang kau mau!! bukannya kau sudah bikin perjanjian dengan mertuaku, klau kau tidak akan mengusik hidup ku lagi!" ujar Malika berapi api. Dengan dada naik turun menahan emosi dan air mata, klau boleh jujur, kenapa dia tidak di masukan ke dalam panti asuhan dari dulu, malah di bawa ke rumah bak neraka itu, namun apa lah daya, nasi sudah menjadi bubur.


Semua orang yang mendengar kata demi kata yang Malika keluarkan, ikut teriris mendengar penderitaan gadis manis itu, jangan lupa sang suami ikut sesak mendengar penderitaan sang istri.


Bu Sulastri tidak dapat berkata kata lagi, dia tidak bisa membalas serangan dari Malika.

__ADS_1


Dia hanya diam seribu bahasa, tidak menyangka Malika akan berani melawan dirinya, yang dia tau Malika adalah gadis yang lemah, penurut, gampang di tindas, namun kali ini dia benar benar terkejut melihat Malika mengeluarkan taringnya.


"Pergilah Bu, sebelum aku suruh suamiku, menghancurkan usaha suamimu itu, dan mengembalikan kalian menjadi gembel" ancam Malika yang sudah tidak main main.


Bu Sulastri lansung pergi terbirit birit mendengar ancaman Malika, mana mau dia tinggal di kampung, di gubuk reok dan makan bisa sehari sekali, bahkan pernah tidak makan nasi selama dua hari, membayangkan itu saja dia sudah ngeri, bagaimana klau ke jadian.


"Sayang...?!" panggil Refandi merangkul, pundak sang istri yang masih menahan tangisnya.


Malika langsung menghambur ke dalam pelukan sang suami.


"Mas. Hua..... hiks... hiks..." tangis yang Malika tahan dari tadi pecah sudah dalam pelukan sang suami.


Refandi mengelus punggung istrinya itu, dia diam membiarkan sang istri menumpahkan segala rasa di dalam dadanya.


"Mau kuliah, atau mau ikut Mas?" tanya Refandi setelah Malika tenang dari tangisnya.


"Ikut mas aja, aku malu, muka ku jelek" ujar Malika manja.


Refandi terkekeh mendengar keluhan sang istri.


"Istri mas, ini mana pernah jelek" kekeh Refandi.


"Mas..." rengek Malika karena terus di goda sang suami.


Refandi dengan sigap menggendong sang istri seperti bayi koala, Malika jadi malu dan menyembunyikan kepalanya di curug sang suami.


Huaaa.....


Histeris mahasiswi di sana melihat ke romantisan se pasangan suami istri itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2