Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 84


__ADS_3

"Yang, mas ingin beli tanah yang di dekat kantor desa itu deh, itu tadi mas lihat ada plang di jual, tempatnya strategis tau, di ketinggian, trus pemandangan di bawahnya sangat bagus, enak deh klau kita bikin rumah di sana." ujar Refandi yang baru selesai mandi dan duduk di samping sang istri, yang sedang memberi ASI si dedek.


"Loh, itu rumah bu Siti mau di apain?" tanya Malika, tak habis pikir dengan sang suami.


"Biarin aja seperti itu, paling klau ada kerusakan kita renovasi aja, biarlah bentuknya seperti itu, kita jangan rombak, itu rumah kenangan orang tua bu Siti, mas ngak mau mengambil rumah itu, mas lihat bu Sini kaya ngak ikhlas gitu rumah orang tuanya di jual, biar nanti klau Ana sudah sukses kita kasih ini sebagai kado untuk anak itu." ucap Refandi yang mendusel disel di leher sang istri.


"Ooo... suami aku baik banget deh." ujar Malika mengelus kepala sang suami.


Refandi rasa melayang mendapat pujian dari sang istri, dan dia tersenyum senang dengan itu, sudah lama istrinya itu tidak pernah memujinya, dan kali ini Malika memuji gara gara dia berbuat baik sama orang lain, rasanya ingin sekali setiap hari dia menolong orang agar di puji sang istri.


"Yang, masih lama ya masa nifasnya?" cibik Refandi mengelus elus paha sang istri.


"Emang kenapa?" tanya Malika pura pura bodoh.


"Issshhh.... pura pura ngak tau, padahal tau banget, tiap malam pasti merasakan tegangan tingginya." sewot Refandi.


Malika sampai terbahak mendengar gerutuan suaminya itu.


"Sudah selesai kok, dari dua hari kemaren." ujar Malika enteng.

__ADS_1


"Apaaa... tega kamu yang,ngebiarin suami tersiksa." dengus Refandi, ingin rasanya siang ini dia memangsa sang istri, tapi apalah daya, dia tinggal di rumah orang, tidak enak sekali melakukannya takut orang lain mendengar suara suara merdu mereka.


"Mas ngak minta, dan aku sengaja." kekeh Malika santai.


"Iisss... Dasar, pokoknya nanti malam mas minta jatah." gerutu Refandi.


"Kenapa ngak sekarang aja, mumpung nenek dan Miranda ngak ada di rumah, mereka lagi ke kecamatan pulang sore." ujar Malika.


Tentu saja ucapan Malika itu membuat mata Refandi berbinar, dia lansung mendekati sang istri, dan tanpa basa basi Refandi lansung melahap bibir sang istri, dan tangannya berkelana di balik baju sang istri.


Dan terjadi lah buka puasa yang sangat panjang, bagi ke dua orang tua baru itu.


"Ahhh.... Makasih sayang" ujar Refandi setelah pelepasan mereka untuk ke sekian kalinya, tau orang tua mereka sedang buka puasa, ke dua bocah itu sangat anteng dan tidur nyenyak tanpa terganggu dengan ke giatan ke dua orang tua mereka.


"Aaa... Mas." pekik pelan Malika, karena kaget.


"Mandi dulu sayang, takut si kembar bangun, kamu belum bersih." tutur Refandi.


Benar kata suaminya itu, Malika lansung membersihkan tubuhnya dengan sedikit agak lama, karena dia mengguyur tubuhnya di bawah sower agar badannya enakan.

__ADS_1


"Sayang, jangan lama lama, nanti masuk angin." ujar Refandi dari luar kamar mandi.


Dia telah selesai membersikan kamar yang sudah kapal pecah akibat pertempuran mereka dia siang itu, baju yang berserakan di kamarnya, sudah Refandi masukan ke dalam tempat kotor, Sepray juga dia ganti dengan yang baru, takut ada sisa sisa percintaan mereka tertinggal di sana.


"Mas mandi gih." ujar Malika, setelah dia keluar dari kamar mandi, dengan kepala yang di gulung dengan handuk.


"Minum dulu air susu hangat sayang, takut kamu masuk angin dan biar tenaga kamu kembali pulih." Refandi lansung memberikan gelas ke tangan sang istri.


"Makasih mas..." ucap Malika mengambil gelas berisi susu yang di sodorkan oleh sang suami.


Cup....


"Ini upahnya." ujar Refandi mencuri satu kecupan di bibir manis sang istri.


"Dasar, ngak pernah puas." kekeh Malika, dan itu tidak di dengar oleh sang suami, karena sudah keburu masuk ke dalam kamar mandi.


Refandi mandi sambil senyum senyum bahagia, membayangkan apa yang mereka lakukan tadi, karena sudah sekian purnama laharnya tersumbat dan tadi bisa meletus sampai beberapa kali, membuat kepala atas dan bawah jadi plong.


"Aku harus berterimakasih sama si kembar, tau aja ayahnya butuh belaian dia tidur dengan anteng, kalian benar benar anak anak pengertian." kekeh Refandi.

__ADS_1


"Heee.... Ooo... Astaga, bini gue kan belum kb, kalau tekdung lagi gimana, panik Refandi, bukan tidak ingin mempunyai anak lagi, namun dia lebih kasian sama sang istri, capek hamil yang kemaren saja belum hilang, di tambah mempunyai bayi kembar, kebayang rasa capek sang istri oleh Refandi, dia ngak ingin istrinya tersiksa mengurus buah hati mereka, anak bisa di bikin lagi saat si kembar sudah besar nanti, bukan saat ini, dia buru buru menyudahi mandinya.


Bersambung....


__ADS_2