
"Sayang, hari ini kamu periksa kandungan ya?" tanya Refandi.
"Iya Mas," sahut Malika sambil menyisir rambut di meja rias.
"Tunggu Mas ya, mas sebentar kok ke kantornya, mas mau meeting aja, selesai itu mas lansung pulang."
"Klau mas ngak sempat ngak pa apa kok, aku bisa di temanin sama Ana atau mbak Siti.
"Ngak ngak mas ikut pokoknya, mas ngak mau kehilangan momen seperti ini lagi sayang, cukup momen si abang dan si adek aja mas kehilangan momen bersejarah itu." ujar Refandi dengan menatap sendu Malika.
"Baiklah, aku akan menunggu mas pulang. baru kita ke rumah sakit, sekarang ayo turun, sebelum si kembar mengamuk." kekeh Malika, sambil menggandeng tangan sang suami.
"Sini dulu, mau vitamin penyemangat dulu sayang," Ujar Refandi menahan tangan sang istri.
Tanpa ba bi bu, Refandi lansung menyerang bibir imut sang istri.
"Umm... Sudah mas, nanti ke bablasan." ujar Malika mendorong tubuh sang suami yang memang tangan Refandi sudah merayap kemana mana.
"Hehhe... maaf." kekeh Refandi mengecup singkat bibir istrinya itu, sebelum keluar dari kamar mereka.
"Ayah sama Bunda lama sekali, kami sudah lapar tau." sungut Raya melihat ayah dan bundanya baru tiba di ruang makan.
"Maaf sayang, tadi Ayah ada sedikit kerjaan." ujar Refandi sambil mencium gemas pipi anak perempuannya.
"Ayah memang seperti itu, klau ada bunda selalu lelet, heran deh, coba klau bunda ngak di kamar, Ayah juga ngak betah di dalam kamar lama lama." cetus Rayyan.
"Sok tau kamu bang." ujar Refandi gemes melihat buah hatinya yang selalu bisa membulynya.
Malika hanya terkekeh geli melihat suami dan anak anaknya.
"Sudah sudah ayo makan, nanti Ayah telat berangkat kerjanya." lerai Malika.
__ADS_1
"Ana, kakak ngak mau loh Ana kuliah ke luar negeri, nanti kakak ke sepian, nanti klau dua bocil itu merengek siapa yang nenanginnya, Ana kan pawang mereka." rajuk Malika.
"Asal, Ana mau kuliah di sini, Abang kasih mobil keluaran terbaru, kamu boleh pilih sendiri mobilnya." ujar Refandi lagi.
"Iya kak, Ana juga ngak mau keluar negeri kok, di dalam negeri juga bagus kok kampusnya, ngak usah beliin mobil juga kali bang, tanpa iming iming mobil pun Ana juga ngak mau sekolah jauh jauh, nanti Ana sama siapa di sana, Ana ngak mau." ujar Ana.
"Adiknya kakak memang baik banget, sini cium dulu." ujar Malika merentangkan tangan, namun dua bocil yang duduk di samping kiri dan kanan Ana lansung buru buru mencium ke dua belah pipi Ana.
"Kakak memang telbaik, awas saja klau kakak sekolah jauh jauh kelual negeli kami mau mogok makan, kak Ana ngak boleh sekolah jauh ok." ujar Rayyan." mengedip ngedipkan mata lucu.
"Iya, nanti ngak ada yang ajak kami jajan es klim lagi, bunda nanti pasti sibuk sama dedek bayi, ayah sibuk cali duit, buat jajan kita, jadi kak Ana klau pelgi kami sama siapa?" cibik Raya.
"Hahaha.... baik lah baiklah, kak Ana ngak akan kemana mana, klau sekolah jauh jauh kak Ana juga nanti rindu sama kalian, kata Dilan rindu itu berat, kak Ana ngak sanggup menahannya, sakit rasanya, sakitnya tuh di sini." kekeh Ana menunjuk dada sebelah kiri.
Refandi terkekeh geli melihat tingkah Ana, dia juga menganggap Ana sebagai adiknya, maklum dia sendiri juga tidak mempunyai adik perempuan.
"Tapi Abang tetap kasih mobil dek, karena ngak mungkin Ayah kamu akan mengantar kamu kemana pun kamu pergi sekarang, apa lagi nanti sudah ada Ibu mu yang jadi ratunya, jadi abang tetap beliin kamu mobil, sebagai hadiah ke lulusan kamu," ujar Refandi.
"Aku ngak bisa berkata kata lagi, semua ku serahkan padamu wahai abangku, dan Do'a penolak rezeki juga tidak ada, ya sudah aku terima dengan tangan terbuka." tutur Ana mendrama.
"Mas berangkat ya, kamu jangan banyak kegiatan di rumah, mas ngak mau kamu kecapean, anak anak biar sama suster dan Ana saja, kamu istirahat ya sayang, mas takut ini balon meletus." kekeh Refandi mengusap sayang perut buncit sang istri.
PUK...
"Ncek, ini ulah siapa coba." ketus Ana.
"Iya, ini ulah mas, kan mas pengen kita punya banyak anak, Tuhan mengabulkannya, nanti hamil lagi, kembar lagi, betapa senangnya hati mas."
"Ngak ada ya, udah cukup empat saja, aku ngak mau lagi punya anak, klau mas mau, mas hamil aja sendiri." sewot Malika.
"Hahaha... iya iya, mas juga udah cukup kok empat anak, tapi klau ke bablasan itu anugrah." kekeh Refandi.
__ADS_1
"Tau ah... ngomong sama mas, bikin kesel, sana kerja, cari uang yang banyak, kami butuh shoping, ke salon." ujar Malika.
"Siap bu boss."
"San, ini kenapa perempuan ini lagi sih yang jadi klaien kita." kesal Refandi melihat nama orang yang akan mereka temui.
"Gue juga baru tau boss, klau tau mah sudah gue tolak kali, males banget ngeladenin lampir satu ini." ujar Sandi ikutan kesal.
"Haa... sudah lah, kita harus hati hati, dia licik." ujar Refandi.
"Iya," sahut Sandi mengikuti langkah Refandi.
"Maaf kami telat." ujar Refandi memasuki ruang vip di sebuah restoran untuk menemui klaiennya.
"Ahhh.... kami juga baru datang kok Ref, ngak usah sungkan gitu." ujar perempuan **** di depannya, membuat Refandi dan Sandi bergidik ngeri melihat perempuan itu.
"Ya sudah mari kita lansung saja," ujar Refandi tak mau berbasa basi dengan dua perempuan di depannya itu.
"Santai dong Ref, kita pesan makan dulu. sekalian nostalgia dulu, secara kita sudah lama ngak ketemu." ujar Lea.
"Kami sudah sarapan, jadi kita lansung saja, saya ngak bisa lama lama, soalnya masih ada pertemuan lagi." ujar Refandi tegas. Membuat Lea mendengus sebal.
"Baik lah," ujar Lea dengan sedikit kesal, dia sudah lama menunggu momen ini, bisa ketemu dengan Refandi tanpa istrinya, namun Refandi malah tidak mau di ajak makan bersamanya.
"Kami mau mengajukan kerja sama, dan ke untungan yang banyak untuk perusahaan kamu," ujar Lea, dengan memberikan sebuah map ketangan Refandi.
"Maaf, ini ngak masuk akal banget semua anggaran dan juga keuntungannya, saya ngak bisa bekerjasama." ujar Refandi, dia memang tidak berminat berkerjasama dengan Lea, dia tau wanita itu menyukainya, dan dia tidak ingin membuat istrinya salah paham, karena Lea termasuk orang yang nekat, berbuat semau dia.
"Ah... Kamu jangan lansung tolak, kamu pelajari dulu dengan baik, ini bagus loh prospeknya," bujuk Lea ingin memegang tangan Refandi.
Refandi reflek menarik tangannya dan lansung berdiri, "Maaf saya tidak bisa, kami permisi dulu, masih ada meeting lainnya." ujar Refandi berlalu dari sana.
__ADS_1
"Akk.....sial sial, susah banget sih naklukin dia, di ajak kerjasama pun ngak mau" kesal Lea.
Bersambung....