
"Ma, pa, aku mau ngomong serius." ucap Tama saat sampai di rumahnya, kebetulan ke dua orang tuanya ada di rumah.
"Mau ngomong apa sih Tam." tanya sang mama melihat wajah anaknya yang biasa banyak canda tawa itu, namun sekarang sudah mulai hilang semenjak ke jadian Malika pergi dari rumah, ada rasa sedih dan sesal di hati sang mama, karena kesalahannya semua jadi berantakan, anaknya dan keponakannya, yang tadi berkumpul di rumah, kini memelih hidup di luar kota, tidak mau bersatu dengannya, namun apa lah daya semua harus dia terima, dan tidak bisa terulang lagi, berharap di hari tua bisa berkumpul bersama anak cucunya, yang ada sekarang malah memilih mencari kehidupan masing masing.
"Aku mau melamar Miranda," ujar Tama lansung ke pokok masalah.
Deg....
"Maksud kamu gimana ya?" tanya sang mama mulai ketar ketir, niat hati dia mau menjodohkan Tama sama Alena anak sahabatnya, karena belum pernah melihat Tama mempunyai kekasih, namun tiba tiba anaknya mau melamar anak orang, mana dia sudah berjanji akan menikahkan Alena dengan Tama.
"Aku mau melamar Miranda, dan setelah satu bulan lamaran aku akan mengadakan akad nikah, karena aku rasa cukup waktunya, sampai rumahku siap huni." tutur Tama.
"Tapi Tam, mama mau menjodohkan kamu sama anak teman mama, namanya Alena, pasti kamu kenal, dia dulu satu kampus sama kamu." ucap Sang mama.
"Apaaannn...!!! aku ngak mau ma, aku sudah ada miranda, dan aku tidak akan pernah menerima siapa pun, dan aku tidak suka di jodohkan, walaupun aku tidak mempunya kekasih sekalipun." tegas Tama.
"Tapi gimana, mama sudah terlanjur mengiyakan permintaan teman mama itu, ini malam kita mau menemui mereka." ujar Tante Tania panik.
"Aku ngak akan pernah mau menemuinya, yang akan aku nikahi adalah Miranda, bukan yang lain, terima atau tidak, datang atau tidak mama dan papa ke acaraku, aku tidak perduli, yang penting aku sudah bilang sama kalian, baik lah, semua sudah selesai, aku balik ke desa, klau mama dan papa mau datang aku terimakasih, klau tidak juga tidak apa apa." ujar Tama berdiri lansung mengambil barang barangnya ke dalam kamar pribadinya, mengambil barang barang pentingnya, dengan wajah tanpa ekspresi entah apa yang dia pikirkan.
"Aduh... gimana nih pa?" panik tante Tania itu.
__ADS_1
"Mama, mama... ngak belajar belajar dengan kejadian yang sudah sudah, baru juga baikan, sekarang mama sudah membuat kegaduhan lagi, papa ngak habis pikir dengan mama, itu urusan mama, papa ngak ikut ikutan," ujar Pak Indra meninggalkan sang istri, kesal sudah dia sama sang istri, baru juga berbaikan dengan anaknya itu, kini sudah bikin ulah lagi.
"Tam, tama... setidaknya kamu lihat dulu gadis itu, jangan main tolak begitu saja, dia beda sama Miranda, cantik dan pintar berdandan." bujuk sang mama.
Tama terkekeh mendengar ucapan mamanya itu.
"Mama pikir aku menyukai gadis gadis cantik saja, yang tanpa kwalitas, tidak ma, definisi cantik mama dan aku beda ma, aku melihat kecantikan orang dari dalam dan bukan dari luar, buat apa yang pintar danda, tapi ngak punya kwalitas sedikit pun ma, Miranda adalah gadis cantik setelah adikku Malika, jadi jangan pernah atur aku ma, klau mau menjodohkan Elena, jodohku saja sama Bang Tomy atau sama papa, kan mama suka sama Elana, jadi tinggal bareng lah sama perempuan itu." ujar Tama, dan lansung berlalu ke luar rumah, dan hari itu juga Tama lansung pulang ke desa sekar wangi, sebelum itu dia tidak lupa membeli cincin untuk melar Miranda.
Tante Tania di buat tidak berkutik dengan anaknya itu, yang dia pikir anaknya itu akan menurut dengan dirinya namu apa ada keinginannya malah di tolak mentah mentah oleh sang anak.
"Bagaimana ini?" gumam tante Tania.
"Ada apa jeng, kok mau janjian sekarang, bukankah nanti malam kita akan ketemu?" tanya jeng Linda dengn penasaran, Alena sang anak pun tidak kalah penasarannya.
"Begini Jeng. Maaf sebelumnya, Tama tidak mau menerima perjodohan ini, dia sudah mempunyai ke kasih, dan dia akan melamar ke kasihnya besok lusa, jadi saya minta maaf sama Jeng, perjodohan yang jeng minta ngak bisa saya kabulkan." ujar Tante Tania.
"Apaaa...!! ngak bisa gitu dong Jeng, kami ngak terima, pokoknya perjodohan ini harus terlaksana, enak saja mau main batal batalin gitu aja." ujar Jeng Linda tidak terima.
"Loh, kok Jeng nyolot sih, kan waktu kemaren aku bulang cuma kenalan dulu, kalau Tama cocok baru kita lanjut ketahap yang lebih tinggi, bukan paksaan kaya gini." ujar Tante Tania ikut emosi.
"Saya tetap mau menikah sama Tama tante, bukan kah tante menyukai saya, klau jadi menantu tante, tapi kenapa tante jadi ngebatalin gitu aja, saya sudah menyukai Tama dari masa kuliah dulu, pokoknya saya mau nikah sama Tama, masa maksa anak satu aja tante ngak bisa sih." ujar Alena melihatkan siapa dia sebenarnya, gadis egois, yang berpura pura jadi lemah lembut selama ini, agar mendapat simpati Tante Tania.
__ADS_1
"Waahhh... pantas anak saya menolak kamu Alen, jadi ini sifat asli kamu, bisa bisanya kamu bicara kasar sama saya, ohh.... saya tau sekarang, apa kamu mendekati saya, karena Tama sendiri tidak menyukai kamu, dan kamu juga berharap hidup enak di keluarga saya." tebak Tante Tania.
"Ee-e bu bukan gitu Tante," gagap Alina, apa yang ada dalam pikirannya bisa di baca oleh tante Tania.
"Mampus kenapa bisa keceplosan sih, jadi ketahuankan." gumam Alina salah tingkah.
"Adu... anak bodoh, kenapa bisa ke pancing sih, bukannya pura pura mewek kek, malah ikutan marah marah, jadi repotkan, awas saja ngak bisa dapatin si Tama, jadi gagal hidup enak ini." gumam Linda ikutan panik.
"Ehh... Jeng, bukan gitu maksud Alina, mungkin dia tadi kaget saja, makanya dia khilaf, jadi bentak bentak jeng." bela jeng Linda untuk sang anak.
"Maaf, ini bukan khilaf, tapi ini lah sifat aslinya, saya tetap pada pendirian saya, saya tidak jadi mengenalkan Alina sama Tama, karena Tama akan menikah dengan wanita pilihannya, permisi." ucap Tante Tania lansung berlalu pergi.
"Akk..... sial, kamu bego apa gimana sih, pak segala teriak teriak, sekarang dia benaran pergikan, hih.... ngak jadi lah dapat ikan kakap." kesal jeng Linda mengomel kepada sang anak.
"Ahh... mama juga oneng, kenapa juga mama tadi ke bawa emosi, kan aku juga ikutan emosi, ahh... sudah lah, aku mau pergi sama Bian, lagi Tama juga ngak mau sama aku, ya sudah aku mau bersenang senang dulu sama Bian." ujar Alina santai.
"Haaiii... anak kurang ajar, bisa biasanya mama mu di bilang oneng, dasar anak si alan kau." pekik jeng Linda.
Sementara Tama melihat drama yang terjadi di restoran itu, dengan senyum mengejek, bisa bisanya mamanya itu tertipu sama duo sundel bolong itu.
Bersambung....
__ADS_1