
Hari hari yang di jalani Malika makin berwarna setelah kehadiran keluarga kandungnya, dia tidak hanya mendapatkan kasih sayang dari sang suami, kini dia mendapatkan dari Tante, Om dan Ke dua Kakak sepupunya.
Kebahagian yang dulu terenggut dari Malika kini kembali kepadanya, Malika kini bisa menampakan sisi manjanya, sisi jahilnya kepada keluarganya tanpa ragu, Namun itu membuat Refandi bahagia, dia menyukai Malika yang mau bermanja manja kepadanya.
"Haiii.... Gadis manja, bangun sudah siang kenapa masih tidur hmmm..." ujar Refandi membangunkan sang istri, tidak tau kah dia, klau badan Malika sakit semua, gara gara ulah mesemunya itu, yang menggepur Malika sampai tengah malam.
Refandi memang suka khilaf, klau sudah berhadapan dengan sang istri, apa lagi semakin kesini tubuh istrinya semakin montok dan berseri, karena sang tante selalu mengaja Malika ke salon untuk perawatan, yang dulu ogah ogahan klau di suruh ke salon, sekarang ada sang tante yang selalu menemaninya.
"Mas...." Rengek Malika sambil berpindah tidur di pangkuan sang suami.
Refandi terkekeh melihat tingkah sang istri.
"Mau di mandiin ngak?" tawar Refandi.
"Ngak mau nanti di hajar lagi, ini tulang tulangku sudah mau rontok semua ini" ujar Malika, membuka selimut, dan berjalan santai tanpa menggunakan sehelai benang pun.
"Sayang.... kau memancing Mas" pekik Refandi melihat tingkah sang istri, yang berjalan melenggak lenggok, tanpa dosa di depannya.
Malika menjulurkan lidahnya, dan masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi, sebelum Refandi mengejarnya.
Dug...
Dug....
__ADS_1
Dug...
"Malika buka pintunya, Mas mau ikut mandi" pekik Refandi menggedor pintu kamar mandi, bukan hanya ingin mandi, tapi ingin celap celup sakalian di dalam sana, namun sayang, sang istri lebih memilih mandi sendiri dan mengunci pintu kamar mandi dari dalam.
"Sayang.... Awas kamu ya..." kesal Refandi, kembali naik atas tempat tidur dengan wajah kesalnya.
Malika terbahak di dalam kamar mandi, karena sudah berhasil mengerjai sang suami.
"Emang enak, siapa suruh semalam ngerjain aku ngak kira kira, sekarang aku yang ngerjain" kekeh Malika, dia masuk ke dalam Bethup dan merendam dirinya di sana, untuk menghilangkan rasa pegal di tubuhnya.
"Huufff... Dasar istri menyebalkan" gerutu Refandi berguling guling di atas kasur.
"Kenapa tuh muka, kecut kek jeruk purut" kekeh Tomy yang pagi pagi sudah nangkring di rumah Malika, dia tau pasti Refandi habis di kerjai sama sang adik, mengingat adiknya itu sekarang memang suka usil.
"Tau ah, kau tau sendiri, istri ku itu, selalu saja bisa bikin mood ku ini turun naik, dasar menyebalkan, untung cinta, kalau ngan sudah ku karungin dan aku tarok di kandang buaya" kesal Refandi.
Sementara itu Malika turun dengan santainya, memakai gaun rumahan sederhana, namun saat Malika memakai gaun itu terlihat sangat ****, membuat kepala Refandi semakin mabuk kepayang.
"Sayang, apa kau bisa mengganti pakaianmu itu?" frustasi Refandi.
"Emang apa masalahnya, bajunya tidak ketat pun dan juga tidak terlalu pendek" ujar Malika masa bodo, dia tau suaminya itu sedang menahan sesuatu, biarin aja, ini hukuman untuk dia, dasar perempuan itu benar benar pendendam.
"Otak kau saja, yang berfikir ************, perasaan baju adikku tidak ada masalah" bela Tomy.
__ADS_1
Malika mengangguk polos membenarkan ucapan sang kakak.
Dengan sengajanya dia meminum teh manis yang sudah tersedia di atas meja itu dengan sangat elegan, membuat leher jenjangnya yang telanjang itu naik turun saat meminum air, tentu saja Refandi makin kelimpungan.
"Astaga dek, kelakuan kamu ini ya, pantas saja Refandi frustasi melihat kamu" ujar Tomy terkekeh dalam hati melihat tingkah sang adik yang sedang mengerjai sahabatnya itu.
"Malika, sana ganti baju, jangan berulah klau tidak ingin mas kurung di dalam kamar seharian" tegas Refandi habis kesabaran melihat tingkah sang istri membuat imannya yang setipis tisu itu hampir runtuh, klau tidak mengingat ada Tomy di rumah ini, sudah dia lahap istrinya habis habisan saat ini juga.
Malika terbahak dan berlari menaiki tangga, karena sudah berhasil mengerjai sang suami, dan memang itu tujuannya membuat suaminya mengamuk.
Tomy terkekeh dan geleng geleng kepala, melihat kelakuan sang adik.
Rupanya bukan hanya Tomy yang berada di sana, ada tante Tania, Om dan juga Tama yang baru datang, melihat kelakuan Malika itu.
"Astaga Mi. Kenapa keponakan mu itu semakin hari semakin usil saja sih" kekeh Papi Tomy itu, ikut terkekeh.
"Papi lupa, mamanya lebih parah dari ini" ujar Tante Tania mengingat sang kakak.
"Aa... iya kenapa Papi bisa lupa, dia turunan siapa" kekeh nya.
Aku baru melihat tingkah menggemaskannya sekarang Mi, dulu saat baru ketemu, selalu sok dewasa, dan sekarang aku baru melihat tingkah tengilnya" kekeh Tama ikut nimbrung.
"Sebenarnya, ini lah dirinya nak, dulu dia banyak tekanan, dan tidak ada tempat dia bersandar, dia menangung beban hidup sendirian, kini dia ada kita, yang membuat dia nyaman, makanya sifat sirat aslinya keluar" ujar Mami Tania menatap sendu punggung sang keponakan yang sudah hilang di atas sana.
__ADS_1
Papi dan Tama lansung memeluk punggung Tante Tania yang mulai bersedih hati mengingat masa lalu sang keponakan kesayangannya.
Bersambung....