Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 79


__ADS_3

Beberapa hari berada di Desa Sekar Wangi, keluarag Malika dan Refandi bisa merasakan kasih sayang warga Desa itu kepada Malika, dan mereka pun kaget melihat Malika di tengah tengah sibuknya menjaga dua buah hatinya, masih sempat mengajar anak anak desa itu, dan mereka juga melihat tawa riang Malika dengan orang orang kampung sana.


Seketika hati mereka menjadi sedih, karena selama ini Malika memang bahagia dan terluka bersama mereka, namun baru di sini lah mereka melihat tawa Malika yang benar benar lepas, rasa bersalah mereka pun semakin menjadi melihat itu semua.


Malika memang sudah mulai melunak, namun tetap ada jarak di antara mereka, Refandi benar benar tidak mau berpisah dengan anak dan istrinya, walau Malika belum mengizinkan Refandi tidur bersama Malika dan ke dua anaknya, tidak masal bagi Refandi harus tidur di ruang tamu rumah nek Imah itu, yang penting tidak berjauhan dengan istri dan anaknya.


Beberapa kali juga Malika menyuruh mereka pulang, namun satupun tak ada yang ingin pulang ke kota, selama mereka belum mendapatkan maaf dari Malika, Refandi pun tak luput di usir oleh Malika, dia tetap kekeh tidak ingin pulang, dimana anak istrinya, di sana lah dia akan berada, begitulah tekat Refandi saat ini.


"Mas, kenapa sih keras kepala sekali, pulang sana, di sini tidak cocok buat kamu." ketus Malika.


"Mas tidak akan kemana mana sayang, mas akan selalu berada dimana kamu dan nak anak kita berada, mas tidak ingin berjauhan dengan kamu lagi sayang, maafin mas yang telah melukai kamu," ujar Refandi sendu, dia tau istrinya itu masih marah sama dirinya, Refandi bertekad untuk meluluhkan hati istrinya itu, dia tidak perduli dengan perusahaannya lagi, dia butuh anak istrinya, kapok sudah dia berjauhan dari sang istri, tidak lagi lagi Refandi menulangi kesalahan yang sama.


Malika hanya mendengus kesal dengan ucapan Refandi tersebut, bukan karena Malik gila harta, klau perusahaan itu gulung tikar atau ada masalah, kasian orang orang yang mencari nafkah di perusahaan itu harus ke hilangkan pekerjaan, dan bagaimana nasib anak anak mereka yang sedang bersekolah, itu yang Malika fikirkan.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan mas, kan mas sudah susah payah mendirikannya, klau rugi atau gulung tikar, kan kasian pegawainya." omel Malika.


Refandi seketika lansung tersenyum, dia tau istrinya itu berhati lembut, dan memikirkan kesejahteraan orang lain.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, perusahaan mas sudah di handel oleh Sandi dan kepercayaan mas lainnya, dan mas masih bisa kerja dari sini." ujar Refandi.


"Kenapa sih.. mas. kekeh banget tinggal di sini." dengus Malika.


"Karena anak dan istri mas ada di sini, dan mas ngak mau lagi kehilangan kamu sayang, mas ngak perduli lagi dengan apa pun, yang penting sekarang mas berada dekat dengan kamu, jadi jangan suruh mas untuk pergi, mas ngak akan pernah pergi, tanpa kalian ikut dengan mas." ujar Refandi lembut namun tegas, dia tidak akan pernah mau berfikir dari sang istri, sekeras apa pun sang istri mengusirnya, Refandi akan tetap membatu, dia akan terus berada di sisi sang istri.


"Terserah..." kesal Malika, dan menidurkan anaknya di atas kasur, bersama dengan dirinya.


"Mas tidur di sini ya." pinta Refandi dengan memelas.


Malika lansung melotot, tidak suka kepada Refandi, namun dia tidak akan menyerah begitu saja.


Malika hanya mendengus dan bodo amat, dia lebih memilih tidur, membelakangi Refandi.


Melihat istrinya yang tidak protes dan justru diam dan tidur membelakanginya, Refandi sumringah, diam nya sang istri itu adalah tanda di izinkan oleh Malika dia tidur satu kamar dengan sang istri dan anak anaknya, tidak apa walau tidur di bawah, yang penting selangkah lebih maju.


Refandi gegas ke luar, mengambil kasur busa yang di sediakan Tama, dan di bawa ke dalam kamar tempat sang istri dan anaknya tidur, dia tidur di sana dengan tersenyum senang, karena bisa kembali tidur satu kamar bersama sang istri, tak masalah tidak satu kasur, yang penting dia bisa melihat istri dan anak anaknya.

__ADS_1


"Selamat tidur sayang, maaf sudah membuat kamu sakit hati dan marah, dan terimakasih telah melahirkan buah cinta kita, mas senang sayang, sekaligus sedih dan kecewa kepada diri mas sendiri, karena mas tidak ada di saat saat masa sulit kamu, mas menyesal sayang, sungguh mas menyesal, tapi tak apa mas akan menebus semuanya mulai saat ini, mas mohon jangan usir mas lagi, mas tidak bisa hidup tanpa kalian."


Cup....


Refandi diam diam duduk di samping sang istri yang telah pulas dalam tidurnya, dia menatap wajah nan ayu itu, sungguh banyak rasa penyesalan dalam dirinya, dia membelai wajah sang istri, dan mencium puncak kepala istrinya pelan pelan dia takut istrinya terbangun dan mengamuk kepada dirinya, dan berujung tidak di izinkan untuk tidur di kamar itu lagi.


Dia beralih kepada ke dua buah hatinya, dan tanpa terasa air matanya menetes tanpa bisa dia tahan.


"Maafkan Ayah nak, telah melukai Bunda kalian, dan abai dengan kalian yang masih dalam kandungan, ketahuilah sayang, ayah sangat menyesal, karena tidak ada di samping bunda kalian, apa lagi tidak bisa melihat kalian hadir untuk pertama kalinya ke dunia ini, maafkan ayah yang tidak bisa mengazankan kalian di saat lahir, izinkan ayah mengazankan kalian saat ini ya sayang, walau itu terlambat, tidak mengapa, biar rasa bersalah ayah sedikit berkurang nak." ujar Refandi dengan bibir bergetar dan air mata terus mengalir di pipinya, dia ambil satu persatu anaknya, dan Reafandi mengazankan dan mengqomatkan ke dua anaknya, dengan suara yang sangat pelan, takut membangunkan sang istri.


Malika menahan rasa sesak dalam hatinya, mendengar setiap ucapan yang keluar dari bibir sang suami, apa lagi mendengar dia mendengar sang suami, melantukan adzan dan IQomat, susah payah Malika menahan tangisnya, ada rasa haru di hatinya, karena buah hatinya di adzan dan di Iqomatkan oleh sang ayah, walau terlambat.


"Tidur lah sayang, jangan rewel, kasian bunda, jadi lah anak baik, jangan pernah kecewakan dan sakiti bunda kalian, seperti ayah kalian yang bodoh ini, yang telah melukai bidadari tak bersayap kita ini." ujar Refandi menatap sendu sang istri.


Refandi terus menatap lekat ke dua buah hatinya dan juga bergantian menatap sang istri dengan sendu, begitu banyak kesalahannya kepada wanita yang telah melahirkan sepasang anak kembar untuk dirinya itu.


"Tidur lah yang nyenyak sayang, sekarang giliran mas, yang menjaga mereka." gumam Refandi, sambil mengecup pipi sang istri.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2