Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 70


__ADS_3

Di seberang sana, Refandi memukul mukul dadanya begitu sesak mendengan curahan hati sang istri, dan mendengar ucapan istrinya, dia hanya di nikahi karena dia di beli, bukan di nikahi karena cinta, memang benar itu adanya, tidak di pungkuri akan hal itu, namun seiring waktu berjalan Refandi sangat mencintai istrinya itu, cuma karena dia gila kerja, dan istrinya tidak pernah protes kepadanya, Refandi anggap istrinya tidak ada masalah, namun nyatanya Malika menyimpan luka sendiri, di tambah dengan dia marah saat Lisa pingsan, bukan maksud hati ingin melukai istrinya, hanya dia terlalu khawatir terhadap Lisa, sahabat baiknya itu, namun dia lupa akan istrinya, nyatanya dia menambah luka sang istri, justru ikut menyalahkan Malika saat itu, dan kini istrinya tidak ingin lagi bertemu dengan dirinya, bahkan keluarganya sendiri pun dia tidak mau menemuinya, begitu sakitnya hati istrinya itu.


"Maaf. Maafkan Mas sayang, bukan maksud hati mas menyakiti kamu, dan mas kerja siang malam juga demi kamu dan anak anak kita nanti, mas salah sayang, mas telah abai dengan dirimu, mas melupakan janji mas yang ingin membahagiakan dirimu, namun nyatanya mas menyakiti hati mu, mas mohon maafkan mas sayang, hiks... hiks..." Refandi meraung pilu di ruang kerjanya, Sandi sang sahabat tidak dapat berkata apa apa lagi, nyatanya, sahabatnya itu memang sudah keterlaluan kepada sang istri.


"Abang dengar kan. Malika tidak ingin di temui sama kalian, dia lebih memilih hidup di luar rumahnya sendiri, dia malah mencari kenyamanan di luar sana, dengan orang yang bukan siapa siapa untuk Malika, namun mereka selalu ada untuk Malika, abang lihat bukan. Bagaimana orang orang di sini memperlakukan Malika, itu jauh dari perlakuan kalian kepada dirinya." sinis Tama.


Dia masih begitu kesal kepada Refandi dan keluarganya, kenapa dulu di cari cari, dan di puji puji, dan datang orang baru, Malika hilang begitu saja, seperti makhluk tak kasat mata, wajar klau Malika sudah tidak ingin lagi bertemu dengan keluarganya dan sang suami, hatinya begitu sakit, dan di sini dia di perlakukan bak tuan putri, padahal dirinya bukan siapa siapa, namun Malika di sayang oleh begitu banyak orang. Tama melihat semua itu, saat mengikuti Malika dari jauh, semua orang menyayanginya, baik tua maupun muda mengenal Malika.


"Biarkan adikku bahagia dengan caranya, jangan lagi ganggu hidupnya, klau kalian hanya mampu menorehkan luka di hatinya, lebih baik kalian tidak usah bertemu dengan dirinya." ketus Tama.


"Tidak. Dia istri ku, aku berhak atas dirinya dan anak yang ada di dalam kandungnnya." pekik Refandi di seberang sana.


"Hahaha....."

__ADS_1


Tama tertawa sumbang, mendengar ucapan Refandi tersebut.


"Berhak untuk apa?, berhak untuk di sakiti, berhak untuk dia abaikan, atau berhak untuk di benci, karena abang sudah membeli adikku. Tenang bang, aku akan membayar semua uang yang sudah abang keluarkan untuk membeli Malika, biar aku yang menebusnya, asal kau tau bang, Malika pun tidak menerima uang hasil menjual dirinya kepada abang, dia hanya korban, dengan keserakahan orang orang picik itu, itu bukan salah Malika, jadi. Lepaskan saja adikku, biarlah tanggung jawab Malika dan anaknya aku yang tanggung, kau tenang saja, anakmu itu, akan ku besarkan dengan kasih sayang, dan akan ku kembalikan senyum adikku yang hilang, jadi. Tolong lepaskan adikku." pinta Tama, tanpa basa basi.


"Tidak.... Jangan bicara seperti itu, aku tidak akan pernah melepaskan istriku, aku sangat mencintai dirinya, aku mohon jangan pisahkan aku dengan istriku." pekik Refandi ketakutan, dia tau Tama sangat lah nekat, dia bisa melakukan sesuka hatinya, saat orang yang sangat berharga di hidupnya di sakiti, dan itu terbukti, bahkan keluarganya sendiri tidak di eprdulikan oleh Tama, apa lagi dulu sebelum tau, klau Malika adalah adik sepupunya, Tama sangat menyukai Malika, dan kini gadis itu sedang terluka hatinya, tekatnya semakin besar untuk melindungi sang adik, bukan lagi cinta, tapi. Kasih sayang seorang kakak terhadap sang adik.


"Cih... Cinta, jangan ngomong cinta dengan ku. Aku muak mendengarnya, nyatanya kau hanya mencintai dirimu sendiri, bukan mencintai adikku." cibir Tama, hatinya begitu sakit mengingat kisah masa lalu sang adik yang begitu menyedihkan dari saat kehilangan orang tuanya, dia angkat anak oleh orang yang berkedok penyelamat, dan nyatanya orang itu hanya memanfaatkan sang adik.


Dia juga begitu kesal kepada keluarganya, akan membalas orang orang yang telah menyakiti diri sang adik, dan nyatanya, sampai sekarang tidak ada yang terlaksana. Tama berjanji kepada dirinya, dia lah yang akan membalas setiap kesakitan yang dirasakan oleh sang adik, dia tidak perlu meminta bantuan kepada keluarganya, maupun suami sang adik, dia yakin. Dirinya sendi pun mampu untuk membalas orang orang itu.


"Tama, jangan begitu nak, kasihan Refandi, dia sampai sakit memikirkan istrinya nak, bagaimana bisa kamu sejahat ini sama Refandi, kamu Lihatkan, bagaimana fristasinya dia saat kehilangan Malika," bela sang Mama, Tama hanya geleng geleng kepala mendengar ucapan sang Mama.


Hahaha.....

__ADS_1


Tama tertawa lepas mendengar ucapan sang mama, begitu perduli dengan Refandi, kenapa yang dia pikirkan Refandi, bukan keponakan yang selama ini dia cari, demi keponakannya itu dia sampai sakit sakitan, dan sekarang setelah ketemu, kenapa jadi begini, malah membela Refandi, oohhh... Iya, bukan kah mereka sama, sama sama menyakiti Malika saat itu.


"Kenapa kamu tertawa nak?" ujar Tante Tania, kebingungan.


"Ohh... yang kasihan cuma Refandi sialan itu, bukan adikku! kalian lupa adikku seperti ini karena ulah kalian, dia selama ini terluka karena kalian semua, kalian bilang sayang kepadanya, nyatanya semua hanya omong kosong, dan sekarang terang terang mama membela si Refandi itu! oh... Iya, aku lupa adikku terluka ulah kalian semua, si alan!" ujar Tama menggebu gebu, dia melupakan hormatnya kepada orang tuanya, begitu sakit hati Tama mendengar pembelaan sang mama kepada Refandi.


Deg...


Tante Tania lansung di buat bungkam oleh sang anak, memang dirinya ikut andil menyakiti hati keponakannya itu, bukan maksud hati dirinya, semua tidak sengaja dia lakukan, karena memang dia begitu senang, bakal punya cucu pertama, namun dia sedikit lalai kepada sang keponakan, yang memang butuh perhatiannya juga.


"Tama....!!! jaga cara bicara kamu, yang kamu bentak adalah ibu kandung kamu." bentak Tomy di seberang sana.


"Maaf aku khilaf, dan tolong jangan pernah cari aku dan Malika lagi. Aku janji akan membahagiakan adik dan keponakanku, kalua dia mau pulang ke kota, syukur Alhamdulillah... Tapi, klau tidak, jangan pernah mencari dirinya, anggap saja dia sudah mati, bersama orang tuanya. tut..." sanbungan telpon lansung di matiin oleh Tama, dia tidak ingin semakin durhaka kepada keluarganya, karena dia anak yang paling kecil di antara mereka.

__ADS_1


Malika yang diam diam, mendengar perdebatan sang kakak dengan suami dan keluarganya, meneteskan air matanya, apa dia bearti oleh kakaknya itu, bukan seperti yang lainnya, buktinya sang kakak, bisa mencarinya dengan sendiri ke setiap penjuru, tidak mengenal lelah dan mengenal berapa banyak biaya yang dia keluarkan, bukan menyuruh orang lain, seperti yang lainnya, bahkan Tama tidak memaksa untuk menemuinya, dia membiarkan Malika untuk menenangkan dirinya.


Bersambung....


__ADS_2