Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 81


__ADS_3

Eeeggghhh....


Lenguh Malika, rasanya tidurnya malam ini sangat nyenyak, dan merasa ada tangan kekar yang memeluk pinggangnya.


Malika membuka matanya, yang pertama dia lihat adalah senyum suami tampan yang membuat dia pergi dari rumah.


"Mas..." panggil Malika serak.


"Iya sayang...." sahut Refandi membelai pipi caby sang istri, dia begitu bahagia saat ini, karena bisa bangun lansung melihat wajah cantik sang istri, tidak hanya itu ada ke dua anak kembarnya di belakang sang istri.


"Sudah jam berapa?" tanya Malika yang kembali menutup mata, dia meresapi belaian tangan sang suami yang sudah lama tidak dia rasakan, dia pikir tidak akan lagi merasakan belaian ini, nyatanya hari ini kembali dia rasakan.


"Sudah mau jam enam sayang," sahut Refandi yang masih betah mengusap usap lembut pipi istri cantiknya itu.


"Astaga.... kok bisa aku ketiduran sampai jam segini," dia membalikan badannya perlahan dan melihat ke dua anaknya juga masih tidur nyenyak. "Ini anak juga biasanya jam segini juga sudah bangun, ini kenapa tumben pada nyenyak gini." gumam Malika, yang masih bisa di dengar oleh Refandi.


"Karena mereka tau, sedang tidur di temanin oleh bunda dan ayah mereka." ujar Refandi berbisik di kuping sang istri, dan dia kembali memeluk hangat sang istri.


Malika tersenyum tipis mendengar penuturan Refandi itu, dia juga tidak memungkiri itu, dia sendiri juga begitu nyaman tidur dalam dekapan sang suami, hingga bisa kesiangan seperti ini.


"Mas bangun ihh... sudah siang ini." ujar Malika yang dari tadi di tahan oleh Refandi, dia masik terus mendekap istrinya dan menyurukan kepalanya di curug sang istri.


"Bentar lagi sayang, mas masih kangen." ujar refandi tang rasanya enggan untuk melepas istri cantiknya itu.


"Klau ngak bangun, nanti malam tidur di luar saja." ancam Malika, tentu saja Refandi buru buru melepas pelukannya dari tubuh sang istri, setelah mendapatkan ancaman.


"Issss.... hobinya ngancam sekarang." gerutu Refandi tidak terima, namun tetap melepaskan sang istri, dia tidak mau nanti malam di suruh tidur di luar, dia ingin selalu tidur bersama sang istri dan ke dua anaknya itu.

__ADS_1


Melihat Refandi cemberut, Malika hanya terkekeh, dia lansung melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sebelum di sibukan dengan mengurus ke dua anaknya.


"Mandi gih mas..." ujar Malika yang terlihat sudah segar dengan rambut yang basah di lilit dengan handuk di kepalanya.


"Hmmm... baik lah, mas ke kontrakan Tama dulu, baju mas kan di sana." keluh Refandi dengan lesu.


"Iya, nanti klau ke sini, bawa aja barang barang mas, biar ngak mondar mandir." ujar Malika dengan membelakangin sang suami.


Tentu saja ucapan Malika itu membuat Refandi terlonjak girang, dan itu artinya istri baiknya sudah mau menerima dia kembali.


"Terimakasih sayang..." ujar Refandi, lansung dengan kaki panjangnya mendekat ke arah sang istri dan memeluk Malika dengan sangat erat, dan menciuminya bertubi tubi.


"Mas....ih... geli tau..." ujar Malika sambil terkekeh geli, karena ciuman sang suami yang tidak berhenti berhenti.


"Ahhh... Mas senang banget hari ini." ujar Refandi, tanpa aba aba dia menggendong Malika dan berputar putar di kamar sempit itu.


"Mas, ih..." ujar Malika walau begitu dia ikut bahagia sudah lama tidak merasakan pelukan dan juga ciuman dari sang suami, kini kembali dia rasakan, betapa hatinya juga ikut bahagia, rasa sakit yang dia rasa selama ini, hilang begitu saja, yang dia rasakan hanya rasa bahagia, bisa kembali berkumpul dengan sang suami.


"Cieee.... ada apa ini, kayanya bahagia banget." goda Tama, yang memang sudah tau apa yang membuat kakak iparnya itu begitu senang pagi ini.


Semua keluarga menatap bahagia juga melihat wajah bahagia Refandi, mereka juga sudah tau, kenapa Refandi seperti itu, karena Tama sudah menceritakannya kepada mereka, dan juga melarang mereka ke rumah Nek Imah, klau belum melihat Malika keluar rumah.


"Syukurlah... Malika sudah mau memaafkan Refandi, kasian juga dia selama ini sudah tersiksa, hukuman yang di berikan Malika sudah dia lewati, aku tau menantu ku itu orang baik." gumam Mami Refandi ikut senang dengan kebahagian anaknya.


"Kamu mau kemana Refan...?" tanya Mamanya saat melihat Refandi membawa semua barang barangnya.


"Mau pindah rumah, biar dekat sama anak istri." ujar Refandi tersenyum riang.

__ADS_1


Saat sampai di dalam kamar Malika, Refandi melihat sang istri sedang memandikan sang anak dengan begitu telaten.


"Eehhh... anak ayah lagi mandi ya...?" ujar Refandi mendekat ke arah sang istri dan anaknya.


"Iya ayah... ayah juga mandi sana, kami sudah tampan dan cantik, ayah masih bau joging." ledek Malika.


"Ooo... bunda minta di cium sama ayah lagi ya, biar tau rasa wanginya jigong ayah..." kekeh Refandi mencium sayang pipi sang istri, Malika hanya terkekeh merasakan geli di pipinya, yang di dusel disel oleh Sang suami.


"Sudah mandi sana, abis itu ajak anak anaknya ke luar." titah Malika.


Refandi menurut patuh kepada sang istri.


Sementara di kota yang berbeda di rumah orang tua angkat Malika terjadi keributan.


"Ini semua gara gara papa yang ngak becus, makanya pabrik bisa bangkrut." kesal sang istri.


"Hoo... jadi mama nyalahin papa, apa mama ngak salah, semua itu salah mama dan anak kesayangan mama itu, coba saja kalian ngak ganggu Malika lagi, mungkin kita ngak akan seperti ini, semua ke salahin ada sama kalian, malah menyalahkan orang lain, selama ini keluarga Malika sudah berbaik hati tidak mengganggu kita, tapi. Kalian masih saja mencari gara gara sama Malika, sekarang rasakan pabrik sudah di ambil alih oleh kakak sepupu Malika." sinis Ayah angkat Malika itu.


"Ini semua gara gara anak sialan itu, kenapa dia ngak mati saja, ikut dengan orang tuanya, menyusahkan saja anak itu." gerutu ibu angkat Malika.


"Jangan pernah menyalahkan Malika! selama ini kalian sudah hidup dengan uang anak itu, tapi kalian ngak sadar diri." sinis sang ayah.


"Ahhh... sial. kamu harus bisa mendekati sepupu malika itu nak, luluh kan hatinya, jadiin dia sebagai tambang uang mu." ujar Sang Mama yang semakin menjadi jadi.


"Mama pikir dia laki laki yang gampang di goda, aku hampir saja di berikan sama pria hidung belang." gerutu Sabrina, dia masih ingat dimana dirinya menggoda Tama, bukannya tergoda, dia malam di lempar kepada laki laki hidung belang yang juga sahabat Tama itu. Sabrina sampai bergidik ngeri mengingat kejadian itu.


"Mama ngak perduli, bagaimana cara kalian bisa mengembalikan pabrik kita, mama ngakau hidup susah!" pekik bu sulatri.

__ADS_1


Ayah dan anak itu, hanya menatap jengah kepada Bu Sulastri, yang bicara hanya sesuka hati.


Bersambung....


__ADS_2