
"Jeng nanti kita berdua saja yang melakukan persiapannya, saya yakin kedua makhluk yang sedang belah duren itu, tidak akan bisa di andalkan, lihat lah, pernikahannya saja kudu di buat drama dulu baru nikah, ini resepsi juga saya rasa mereka ngak perduli, yang penting sudah nikah" keluh Bu Tania.
"Iya benar Jeng, lebih baik kita yang mengurusnya, mereka memang tidak bisa di andalkan, mengesalkan memang anak anak itu, ya sudah besok pagi kita janjian ya, berhubung sudah malam, kita juga butuh stamina untuk hari esok, lebih baik malam ini kita pulang saja" ujar Bu Rika.
"Baiklah, kalau gitu besok kita lanjut pembahasan ini" ujar Tante Tania, saat mereka keluar dari lift dan menuju mobil masing masing.
Sementara di dalam apartemen sana, pergulatan semakin panas, Tomy benar benar melampiaskan apa yang sudah sejak lama dia tahan, selama ini bukan dia tidak berna*su melihat sang kekasih, namun lebih tepatnya dia ingin menjaga kekasihnya itu dengan baik, dia hanya ingin mengambil haknya saat sang kekasih sudah dia halal kan seperti malam ini, sudah tidak ada lagi larangan bagi Tomy untuk menyentuh wanita yang sudah berstatus istri sahnya, baik dalam agama mau pun dalam negara, jadi tidak ada penghalang lagi.
Tomy begitu menggila di atas tubuh sang istri, membuat Lisa sedikit kewalahan dengan suaminya itu, dia tidak menyangka suaminya sebuas ini, biasanya dia tidur di kasur yang sama. Tomy paling jauh mencium bibirnya dan memeluk tubuhnya sampai pagi, tidak lebih dari itu, namun malam ini, suaminya itu tidak ubahnya bagai singa lapar.
"Ahhh... Sayang...." gumam Lisa sambil meremat spray menahan hentakan demi hentakan yang di lakukan oleh Tomy.
"Ini enak, sayang..." desis Tomy mempercepat tempo kuda kudaanya.
Di tempat lain, di kamar tidur Refandi dan Malika, mereka yang baru selesai bersih bersih, lansung menaiki peraduannya, tanpa melakukan apa pun, walau Refandi sangat ingin, namun dia takut klau di dalam rahim sang istri sudah tumbuh bibit unggulnya. Refandi takut menyakiti sang istri dan bibit unggul nya.
"Tidur lah sayang, sini peluk Mas" ujar Refandi, menarik sang istri ke dalam pelukannya.
"Mas yakin ngak mau?" tanya Malika, dia tau suaminya itu menahan hasratnya untuk tidak menyentuh dirinya.
"Ngak sayang. Mas ngak mau menyakiti kamu dan kita belum tau di sini sudah ada dia, mas ngak mau menyakiti kalian" ujar Refandi membelai pipi sang istri.
"Apa mas, mau aku bantu dengan cara lain?" tanya Malika dia kasihan melihat suaminya menahan sesuatu di bawah sana, pasti sangat sakit.
"Emang kamu bisa?" kaget Refandi tidak percaya dengan ucapan sang istri, yang dia tau istrinya sangat lah polos, tidak tau apa apa, dulu mungkin Malika adalah gadis polos, dia ngak tau saja, klau sang istri sekarang punya suhu, tante Tanianya, yang selalu mendidik Malika, dia tau bagaimana punya suami tampan dan kaya raya, selalu di kelilingi oleh wanita wanita cantik, tidak pandai pandai menjaga dan menyenangkan suami, sudah pasti banyak ulat bulu yang mau menempeli sang suami.
"Bisa lah, mau praktek" ujar Malika dengan wajah bersemu merah menahan malu, ini sungguh memalukan sebenarnya, namun dia harus menahannya, agar suaminya tidak berpaling sama wanita lain.
__ADS_1
"Boleh. Mas ingin tau, kamu bisa ngapain aja" ujar Refandi bersemangat, jujur dia sangat penasaran, ap yang akan di lakukan oleh sang istri kepadanya.
Refandi di buat tercengan denga kelakuan sang istri, sungguh dia di buat meram melek, oleh sang istri, benar benar tidak di percaya sama sekali istrinya bisa menyenangkan dirinya dengan cara di luar nalar.
"Sayang...." panggil Refandi menarik lembut rambut sang istri yang lagi berada di bawahnya.
******
Pagi menjelang, para pengantin baru, pengantin lama, dan pengantin basi masih berada di atas peraduannya dengan beda beda ekspresi.
Pengantin baru, matanya berbinar binar menatap sang istri yang masih betah memejamkan matanya, karena kelelahan habis dia gempur sampai dini hari.
Tomy tidak menyangka klau, apa yang dia lalukan semalam begitu nikmat, klau tau senikmat ini, kenapa tidak dari dulu saja dia menikah dengan kekasihnya ini, persetan dengan usaha yang sedang dia rintis, ada rasa kesal sendiri dia klau mengingat itu semua, namun tidak masalah, sekarang dia bisa melakukan setiap saat dimana pun berada bersama sang istri. tentunya di dalam kamar yang hanya ada mereka berdua, bukan di tempat ramai, bisa bisa habis mereka di maki banyak orang.
Sementara itu, di kamar yang berbeda Refandi terkekeh, melihat sang istri yang dari tadi menutupi wajahnya, karena malu ulah aksinya semalam, untuk menyenangkan sang suami.
"Mas... Aku malu" rengek Malika, yang berusaha mempertahankan selimut yang di tarik oleh Refandi.
"Kenapa harus malu, ini kan suami kamu, mas bangga loh, sama istri mas ini, bisa nyenangin suami, mas jadi makin cinta loh" ujar Refandi.
"Tapi kaya ja*lay" rengek Malika.
"Heyy... Jadi ja*lay suami ini pahala loh sayang" bujuk Refandi.
"Buka ya selimutnya, nanti istri mas ini, ngap loh" bujuk Refandi.
"Tapi aku ngak akan di ledekin kan?" tanya Malika yang masih betah di balik selimut.
__ADS_1
"Ngak akan sayang" ujar Refandi.
Sementara di rumah Tante Tania. Tante Tania lagi mengomel kepada sang suami.
"Makanya klau sudah tua, jangan suka aneh aneh deh, encok kan, emang enak!" omel Tante Tania.
"Mi, di pijitin dong Mi, jangan cuma di omelin, sakit ini" ringis Papi Indra menahan sakit di pinggangnya, gara gara bersemangat bergoyang dumang.
"Masa bodo, salah sendiri" omel Tante Tania, namun tetap membantu sang suami.
"Besok besok ulang lagi, sekalian aja patah itu pinggang" oceh Tante Tania.
"Dih... Si Mami, jahat banget sih do'anya." sungut Papi Indra.
Sementara Tama di meja makan hanya bisa bersungut sungut sendirian, karena tidak ada yang menemaninya sarapan, Papi dan Maminya, belum juga keluar kamar, dia pergi ke rumah Malika pun Sama.
"Nasib nasib, gini amat jadi jomblo" keluh Tama yang tidak bersemangat sarapan pagi ini, membuat si mbok yang melayaninya terkekeh geli, melihat wajah nelangsa Tama Itu.
"Udah deh mbok, jangan tertawa mulu, mendingan temani saya sarapan" rajuk Tama.
"Mbok nanti saja sarapannya Den, mbok temanin aja Aden sarapannya ya" ujar si mbok duduk di kursi seberang Tama.
"Mbok juga ikut sarapan mbok, jangan tontonin saya aja emang saya artis" sewot Tama, menyodorkan piring kedepan si mbok.
Mau tidak mau si mbok akhirnya ikut sarapan dengan laki laki jomblo itu
Bersambung....
__ADS_1