Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 102


__ADS_3

"Wiiihhh... Di kira setelah berhasil merampas suami orang, hidup kamu udah enak Lis, ternyata sama aja, cuma status saja yang ganti dari perawa tua, dengan istri perawan hahaha..." ledek ibu ibu yang memang tidak suka dengan Lilis, bukan tidak suka karena Lilis seorang pelakor, tapi dari gadis memang mereka tidak menyukai Lilis yang selalu berkata pedas, suka merendahkan orang lain, makanya tidak laku, cuma Bu Ratmi yang mata duitan saja yang matanya tertutup karena di iming imingi uang sama Lilis, tega memisahkan anak dan bapak, menjandakan menantunya, karena di kasih uang sama Lilis.


"Walah, masih bersegel dong, masa nikah sudah mau dua tahun si Kardi ngak nafsu lihat kamu Lis,"


"Belum ngerasain indahnya surga dunia dong Lis, kasian sekali kamu, sudah memisahkan anak sama bapaknya, berhasil membuat istri pertamanya bercerai dengan Kardi, namun sayang, hati Kardi tetap milik Siti, lah kamu cuman dapat raga yang tidak sudi kau sentuh, syukurin jahat sih."


"Karma itu lansung di bayar tunai ya Lis,"


"Di kira kamu benar benar sudah bahagia Lis, setalah berhasil merebut Kardi dari istrinya, dan seolah kamu itu nyonya Kardi yang seutuhnya, ternyata semua hanya semu semata, ka si haaannn..." ledek ibu ibu di sana, saat Lilis berjalan ingin pergi ke pasar, hanya bisa menunduk menahan malu dan sesak di dadanya, ke angkuhan dan ke sombongannya selama ini hilang entah kemana, setelah fakta yang di ungkap oleh Kardi di depan orang banyak, membuat dia malu sejadi jadinya.


"Lis, kok diam aja sih, nyahut dong, biasanya kamu selalu merendahkan kami, kok sekarang diam aja sih Lis," ejek seorang perempuan sebaya Lilis itu.


"Sudah sudah, jangan di ganggu terus, Lilis itu lagi puasa bicara tau, dan lagi mikirin gaya apa untuk malam pertama yang tidak ada manis manisnya itu." ejek yang satu lagi.


Lilis mempercepat langkahnya, agar tidak mendengar ejekan ejekan dari ibu ibu itu lagi.


"Sialan kenapa sekarang semua orang sangat berani sama gue, padahal dulu mereka membisu klau ngoceh, ini semua gara gara laki sialan itu, ngapain coba buka aib gue segala." kesal Lilis.


"Ehhh ada Lilis, mau kemana Lis, mau abang temanin ngak, kasian jalan sendiri," goda tukang ojeg.


"Ngak usah, gue bisa sendiri." ketus Lilis.


"Cieee.... galak amat sih Lis, udah punya laki tapi ngak di jebol juga ya Lis, kasian banget sih Lis, udah capek capek ngerebut laki orang, nyatanya tetap ngak di pandang sama suami, suami masih belum move on dari apem sang mantan." kekeh tukang Ojeg.


Sungguh Lilis ingin memaki semua orang hari ini, tapi mulutnya serasa terkunci, tak mampu membalas satu pun kata kata pedas yang di lontarkan orang orang kepadanya.


"Di, lu cerah amat hari ini, keknya muka lu sudah ngak kusut lagi, sudah lu jebol gawang si Lilis." keke temannya.

__ADS_1


"Sialan lu pada, ogah gue," ketus Kardi.


"Lah trus kenapa wajah lu berseri seri gitu, apa lu menang lotre." bingung temannya.


"Mana ada gue main lotre." kesal Kardi.


"Lah trus kenapa lu senang amat, ngak seperti biasanya?" bingung temannya itu, semua pertanyaan di tepis oleh Kardi.


"Gue sudah menemui Siti dan anak gue, gue sudah minta maaf sama mereka, walau gue ngak bisa lagi balikan sama Siti, setidaknya, gue sudah minta maaf atas kesalahan gue sama mereka berdua, dan gue kasih anak gue duit, Alhamdulillah... dia terima, anak gue sudah ngak marah sama gue, dia memaklumi keadaan gue, dia juga izinin gue nelpon dia kapanpun itu, kalau gue rindu sama anak gue, gue bisa menemui Ana." ujar Kardi dengan senyum manisnya, matanya berkaca kaca, ada berbagai rasa yang di rasakan oleh kardi, walau ada sedikit rasa sedih tidak bisa mempertahankan orang tercintanya, setidaknya mereka masih bisa berhubungan baik mulai saat ini.


"Syukur lah, gue ikut senang mendengarnya," ujar teman Kardi, dia senang melihat wajah temannya itu sudah tidak semurung biasanya, wajah penuh tekanan, yang di buat oleh ibunya, dan merasa bersalah kepada anak istri, entah klau dia berada di posisi Kardi, entah apa yang dia lakukan, dia tidak bisa memikirkan hal itu.


"Makasih, gue harus giat bekerja ngumpulin uang buat anak gue, dan bisa nemuin dia ke kota sesekali." samangat Kardi.


"Ncek, yang ada duit lu bakal di sita mak lu lagi." cibir teman Kardi.


"Ahhh iya, gue lupa." kekeh temannya itu, klau Kardi sudah naik pangkat, otomatis gaji juga nambah, di tambah Kardi lebih suka menghabiskan waktu untuk lembur, karena malas pulang ke rumah, ketemu Lilis dan Ibunya, membuat dia semakin kesal.


"Gue juga ambil part time di kandang ayam Den Tama." ujar Kardi, memang orang orang di sana memanggil Tama dengan sebutan Aden, tapi Kardi klau berdua Tama akan memanggil nama Tama saja.


"Jangan kecapean lu, duit banyak penyakit juga banyak nanti." tegur temannya.


"Tenang aja, klau gue capek, gue istirahat kok, gue mau melihat anak gue sukses, lagian klau di rumah juga males, berisik sama omelan ibu gue, sama si Lilis, makin pusing kepala gue, se enggak enggaknya klau gue kerja di peternakan Den Tama, gue bisa cari ilmu, dan dapat uang, bisa istirahat pula di mes karyawan sana" ujar Kardi.


Teman kardi hanya mengangguk tanda mengerti.


Dretttt....

__ADS_1


Drettt...


Drettt....


Hp Kardi berbunyi, menandakan ada yang menelpon dirinya, Kardi merogoh saku celananya melihat siapa yang menghubunginya, seketika senyum Kardi mengembang.


"Hallo.... Assalamualaikum... Nak, kenapa tlp Bapak?" tanya Kardi lembut.


...


"Iya Nak, hati hati ya, belajar yang rajin di sana, jaga diri baik baik, nanti klau ada kesempatan bapak mengunjungi kamu." ujar Kardi dengan mata yang berkaca kaca.


......


"Iya Nak, salam sama Ibu dan Ayah mu." ujar kardi.


......


"Wa'alaikum salam." ujar Kardi menutup telpon dan melihat walpaper hpnya, yang terpampang foto dirinya dengan sang anak, ya kemaren kardi sempat berfoto bersama Ana dan Siti, namun tidak mungkin dia memajang foto mantan istrinya itu, itu akan membuat dia semakin bermasalah saja sama sang ibu nantinya, klau sama Lilis dia sih masa bodo, egp lah.


"Ana?" tanya temannya.


"Iya, dia bilang. Klau dia sudah mau berangkat ke kota." ujar Kardi.


Temannya mengangguk tanda mengerti.


"Yuk kerja," ajak Kardi dengan langkah pasti, tidak ada lagi beban di pundaknya, hari Kardi begitu cerah saat ini, dia tidak perduli dengan yang lain, selain anaknya Ana, itu prioritasnya saat ini, yang lain masa bodo, cukup sudah dia mengalah selama ini, dan cukup sudah dia kehilangan satu wanita kesayanganya, tidak untuk Anaknya, dia tidak mau ke hilangkan Anaknya lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2