SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 1 - HARI PERNIKAHAN


__ADS_3

"Apa ini aku?" Tanya Ayna menatap dirinya dalam pantulan cermin. Ia menutup mulut dengan kedua tangan, tak percaya pada sosok cantik dalam pantulan itu yang ternyata adalah dirinya.


Benar kata orang-orang. Menjadi pengantin memang membuat pangling. Seperti Ayna sekarang. Kebaya berwarna putih sangat cocok di tubuh rampingnya. Ditambah sapuan make up yang makin menunjukkan sisi menawannya. Ayna kini tampak begitu cantik, seperti bidadari yang turun dari langit.


Ayna menghela nafas saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8.40 pagi. Sekitar 20 menit lagi, lebih tepatnya pukul 9 pagi, akan dilakukan proses ijab kabul. Dan disaat itu pula ia akan berubah status, dari seorang kekasih menjadi seorang istri.


Ayna Renata, wanita yang berusia 27 tahun. Bagi Ayna hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya. Karena di hari ini dia akan menikah dengan Arga, pria yang sangat dicintainya. Pria yang sudah menjalin hubungan selama 5 tahun dengannya.


Berkali-kali Ayna menghembuskan nafas pelan, sudah jam segini berarti keluarga Arga pasti telah sampai, kan. Mereka pasti sudah sampai di rumahnya.


Tiba-tiba saja perasaan Ayna mulai gugup. Sebentar lagi akan dilakukan proses ijab kabul. Ayna kini mulai gelisah dan tak sabar mendengar satu kata Sakral itu. Yakni kata Sah, yang berarti resminya mereka menjadi pasangan suami istri.


"Jangan gugup begitu, senyum dong." Ucap sang tukang make up yang melihat dengan jelas kegugupan di wajah cantik itu. Ia pun memaklumi, perasaan pengantin pasti campur aduk sekarang.


Ayna mencoba untuk tersenyum. Dia harus tersenyum lebar, karena hari ini ia akan menikah. Ia akan menjadi ratu sehari, jadi ia harus selalu tersenyum.


Seorang wanita paruh baya masuk ke kamar pengantin dengan raut muka sedih.


"Bun-da kenapa?" Tanya Ayna gugup. Melihat raut wajah Bunda membuat pikirannya jadi takut. Kenapa wajah Bunda tidak bahagia, apa terjadi masalah?


Ayna menepis pikiran negatif yang menghinggapinya.


"Apa Arga sudah meneleponmu?" Tanya Bunda dengan tatapan mata sendu melihat sang putri. Putrinya begitu sangat cantik dengan balutan kebaya putih. Melihat itu rasanya Bunda ingin menangis. Tapi Bunda berusaha menahan air mata.


"Belum Bun. Kena-?" Ucapan Ayna terhenti saat mendengar ponselnya berdering. Ia segera mengambil ponsel yang terletak di atas meja nakas.


"Arga telepon Bunda." Ayna memberitahu, ia menunjukkan layar ponselnya.


"Angkatlah, Nak." Bunda menyuruh sang anak untuk mengangkat panggilan telepon itu. Arga harus berbicara langsung pada Ayna.


"Halo... Mas sudah sampai, kan?" Tanya Ayna saat panggilannya sudah tersambung.


"Maafkan aku, Ay." Ucap Arga dari seberang sana. Suaranya seperti ada penyesalan.


Ayna mengkerutkan dahi mendengar kata Maaf. Kenapa Arga meminta maaf?

__ADS_1


Apa Arga telah berbuat salah?


"Ma-maaf untuk apa? Mas sudah sampai, kan?" Tanya Ayna lagi. Kini pertanyaannya penuh penekanan. Perasaan Ayna mulai tak enak. Tapi ia mencoba untuk tenang.


"Kamu jangan tunggu aku lagi. Kita tak akan menikah. Aku tak bisa menikah denganmu. Tolong maafkan aku, Na." Ucap lirih pria itu.


Ayna bagai tersambar petir mendengar perkataan tiba-tiba dari pria yang dicintainya. Perkataan yang membuat dunianya terasa terbalik.


"Maksud Mas apa? hari ini kita akan menikah. Kita akan menikah Mas!" Ucap Ayna penuh penekanan. Tanpa terasa air mata sudah berlinang.


"Kita tidak bisa meneruskan pernikahan ini. Aku tak bisa menikah denganmu. Kamu lupakan saja aku. Aku bukan pria baik untukmu." Jelas Arga.


Kaki Ayna kini mulai gemetaran, ia perlahan terduduk di lantai karena kakinya sudah tak sanggup menopang tubuhnya.


Bunda segera menghampiri, wanita paruh baya itu mengelus pundak putrinya.


"A-apa yang terjadi Mas? kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? Mas sudah sampai, kan? aku sedang tidak berulang tahun, jadi jangan mengerjaiku." Ucap Ayna dengan suara yang mulai lirih. Ia merasa Arga tidak serius dengan ucapannya.


"Aku sudah bilang, kita tidak akan menikah. Aku tidak akan bisa menikah denganmu." Ucap pria itu tegas.


"Mas... Mas Arga, hallo..." Ayna melihat layar ponselnya, Arga sudah memutuskan panggilan teleponnya.


Ayna mencoba menelepon ulang Arga. Tapi panggilannya tak dijawab pria itu.


"Mas Arga... kamu kenapa?"


Ayna memijat pelipisnya, Arga tak menjawab panggilannya.


Ting


Ayna langsung membuka pesan masuk. Pesan yang Arga kirim. Hati Ayna seperti teriris sembiluh melihat video berdurasi kurang dari semenit kiriman Arga. Video berisi ijab kabul Arga dengan seorang wanita yang dikenalnya. Wanita itu adalah temannya.


Tangan Ayna gemetaran membuat Hp yang berada di tangan pun terjatuh di pangkuannya. Ayna tak mengerti kenapa Arga malah menikah dengan temannya itu.


"Bunda, kenapa Arga begini?" Ayna menunjukkan video itu pada Bundanya.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya Nak." Bunda memeluk putrinya. Ia sangat sedih atas kejadian ini. Arga begitu tega melakukan hal ini pada Ayna.


"Nak.." Ayah yang baru masuk menghampiri Ayna.


"A-ayah. Arga jahat. Arga jahat Ayah." Adu Ayna sambil memeluk Ayah.


"Kenapa Arga tega Ayah? aku salah apa?" Tangis Ayna pun pecah. Arga yang tiba-tiba saja memutuskan tak melanjutkan pernikahan dan lebih memilih menikah dengan wanita lain, yang tak lain temannya sendiri. Sungguh ini seperti mimpi tapi inilah kenyataannya.


Ayah menghembuskan nafas sambil memeluk putri kesayangannya. Tadi juga keluarga pihak pria sudah menelepon dan meminta maaf pada keluarga Ayna. Perihal Arga yang tidak bisa menikah dengan putri mereka, lantaran Arga harus menikah dengan wanita lain.


"Sudahlah, Nak." Ayah mengelus punggung sang putri yang sedang menangis terisak dalam pelukannya. Ia marah melihat anak semata wayangnya menangis. Jika saja Arga ada disini, mungkin ia akan menghabisi pria itu.


Sebagai Ayah, ia tak sanggup melihat putrinya yang menangis. Itu membuat perasaannya terenyuh.


"Yah, gimana pesta ini?" Bisik Bunda pelan tak mau Ayna mendengarnya.


Bunda bingung, undangan sudah disebar bahkan keluarga besar serta para tamu sudah pada berdatangan. Tuan kadi dan para saksi juga sudah menunggu di ruang tamu.


Ayah memejamkan mata sambil menghembus nafas kasar, lalu membuka mata perlahan.


"Tak ada pernikahan, kita harus sampaikan pada para tamu bahwa pernikahan putri kita dibatalkan."


"Kita akan menjadi bahan gosipan tamu dan tetangga." Bunda menghela nafasnya.


"Biarkan saja Bun. Ayna yang terpenting." Ayah makin mengeratkan pelukannya.


Ayna yang mendengar samar ucapan kedua orang tuanya, meremas tangannya. Ia marah dan kesal dengan tindakan Arga yang membuat malu keluarganya.


'Aku tak akan membiarkan Orang tuaku menerima malu.'


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir di novel baru. Semoga suka ya.


Happy reading 🤗


__ADS_2