
Mona meringkuk di dalam sel. Ia tak menyangka Alex begitu tega membekam dirinya di dalam jeruji besi ini.
Pria itu sekarang begitu sangat membenci dirinya. Tatapan kagum yang dulu menatapnya kini tiada lagi.
Ini semua gara-gara Ayna. Semenjak menikah Alex berubah total. Alex jadi begitu kejam dan tak punya perasaan.
"Woi..." Panggil Aca yang tampak lebih santai. Wanita itu seperti tak ada beban berada di dalam sel.
Mona mendongak dan melihat wanita yang memanggilnya.
"Apa hubunganmu dengan Ayna? Kenapa kau mengenal suaminya?" Tanya Aca penasaran, pasti wanita ini juga mempunyai dendam kesumat pada Ayna.
Mona membuang muka, entah kenapa ia malas meladeni wanita aneh seperti Aca. Yang senyum dan tertawa sendiri.
"Apa kau pacar pria tampan itu? Jangan-jangan kau kena tikung, ya?" Aca sengaja memprovokasi Mona.
"Bukan urusanmu." Jawab Mona sinis. Aca terlalu kepo dan banyak bicara. Wanita itu juga sok akrab dengannya.
"Wuih... Biasa saja jawabnya." Aca mencibir sesaat.
"Saat itu Ayna akan menikah dengan pacarnya. Tapi aku menikungnya di lap terakhir. Ya... Bisa dibilang aku merebut Arga darinya." Aca memberitahu kisahnya pada Mona.
Mona mengalihkan pandangannya kembali pada Aca.
"Tunangan Ayna itu sudah berselingkuh denganku. Tapi masih mau menikah dengan Ayna. Sementara saat itu aku sedang hamil anaknya. Aku jadi meminta pertanggung jawabannya dan pria mengatakan kalau aku sudah menjebaknya. Menurutmu pria seperti apa itu?" Jelas Aca panjang dan lebar.
"Jadi kau-" Mona menatap Aca kesal. Secara tak langsung, wanita inilah yang menjadi jembatan Ayna dan Alex, hingga mereka bisa bertemu. Dan menikah di saat genting seperti itu.
"Kalau kau tak berselingkuh dengan tunangan wanita itu, Alex pasti masih bersamaku." Mona jadi kesal pada Aca. Ia sangat dirugikan untuk hal itu.
"Kenapa kau malah menyalahkanku? tanyakan pria itu kenapa meninggalkanmu dan lebih memilih wanita lain." Aca tak terima Mona menyalahkan dirinya.
Mona terdiam sesaat. Ia hanya mencoba mencari kambing hitam saja, atas kebodohannya mengacuhkan Alex selama ini.
"Ayna hanya membuatmu kehilangan pria itu. Tapi aku... banyak yang dirampasnya dariku." Aca menaikkan suaranya sambil memukuli dadanya yang terasa begitu sesak.
"Aku diceraikan suamiku, aku juga kehilangan anakku, lalu dipecat dari pekerjaanku. Dan sekarang... Aku membekam di penjara untuk beberapa tahun ke depan." Jelas Aca dengan wajah emosi. Ia masih sangat geram dengan Ayna. Jika Ayna ada di sini, berantem pun jadi.
"Aku hanya menikung calon pengantin prianya. Dan dia membalasku berkali-kali lipat. Dia begitu kejam. Ayna itu bukan manusia." Aca begitu emosi meluapkan kemarahannya. Menurutnya Ayna sudah menghancurkan dirinya.
"Jadi aku harus menghancurkannya. Itu akan adil, bukan."
Mona merinding melihat senyuman Aca yang seperti iblis.
'Apa dia sudah tidak waras?'
###
"Mas Alex..." Ayna mengoyangkan tubuh Alex yang sedang tidur.
__ADS_1
"Sayang, aku ngantuk. Biarkan saja mereka mendekam di sana. Jadi tak ada yang mengganggumu." Ucap Alex. Mona dan Aca sudah diamankan, kini tinggal orang itu yang perlu diwaspadai.
Alex pusing, Ayna terus-terusan merengek padanya. Untuk segera menarik gugatannya. Dan membebaskan mereka begitu saja.
Istrinya merasa kasihan jika mereka mendekam di penjara untuk beberapa tahun ke depan.
"Mas... Bebaskan saja mereka. Yang penting video itu sudah dihapus, aku sudah lega lho, sayang." Ayna terus membujuk suaminya.
Alex menutup telinganya dengan bantal. Ia tak mau menuruti Ayna, menurutnya mereka sudah keterlaluan. Mereka tidak dicampakkan ke laut saja, sudah syukur.
"Mas... Kasihan jika mereka punya catatan kriminal. Pasti akan sulit mencari pekerjaan. Bagaimana mereka akan bertahan hidup."
"Biarin."
"Mas Alex..." Ayna masih merengek.
"Buat apa kamu mikirin mereka, biarkan saja mereka menerima ganjarannya." Alex menarik Ayna padanya. Membuat istrinya ikut berbaring di sampingnya.
"Mas..."
Alex menutup matanya.
"Sayang..."
Pria itu mulai budeg.
Ayna duduk di sandaran tempat tidur. Ia meraih ponsel di nakas. Sudah tak ada lagi video atau berita apapun tentang dirinya. Alex pasti sudah membersihkan semuanya.
Semua sudah kembali normal, tapi bagaimana dengan nasib mereka. Membekam beberapa tahun dalam penjara. Mungkin akan lebih baik jika mereka diberi peringatan saja.
Esok harinya, Alex yang sedang memakai pakaian melirik Ayna. Istrinya itu memasang wajah datar. Sudah dipastikan, jika Ayna saat ini sedang merajuk padanya.
"Sayang, pasangkan dasiku." Alex memberikan dasinya.
Ayna menerima tanpa melihat suaminya. Ia pun akan memasangkan dasi.
Alex merangkup wajah Ayna dan menghujani wajah cemberut itu dengan kecupan-kecupan.
"Sayang, ini nggak adil. Mereka yang salah, kenapa kamu ngambeknya sama aku?" Alex menatap wajah datar istrinya.
"Mereka itu bersalah dan harus dihukum." Jelas Alex tegas.
"Tapi, Mas..." Wajah Ayna mulai memelas. Jika mereka mendekam di penjara, otomatis mereka akan semakin dendam padanya.
Yang Ayna inginkan hanya hidup damai bersama suami dan anak-anak mereka nantinya.
"Dengar sayang, aku nggak akan biarkan seorang pun menyakitimu. Jadi kamu tenang saja." Alex memegang kedua bahu istrinya.
"Baiklah, tapi biarkan mereka mendekap beberapa hari di sana." Alex mengalah, wajah memelas Ayna membuatnya jadi tak tega.
__ADS_1
"Sekarang saja, Mas." Desak Ayna kembali.
"Atau biarkan saja-"
"Iya iya iya. Baiklah... Menurut Mas Alex saja." Ucap Ayna perlahan mulai mengalungkan dasi itu.
"Mana senyumnya?" Tanya Alex.
Ayna memberikan senyuman terpaksa.
"Senyum itu yang lebar, sayang. Senyum seperti ini." Alex melebarkan wajah Ayna. Ia tertawa puas, Ayna benar-benar menggemaskan, saat pipinya diuwel-uwel.
"Lepas, Mas Alex. Atau..."
"Atau apa?"
"Aku cekik pakai dasi." Ancam sang istri.
"Ayna Ayna." Alex melepaskan tangannya dari pipi sang istri. Lalu tangan itu mengelus kepala Ayna dengan sayang.
"Anak Papa apa kabar?" Alex menundukkan badan, setelah dasinya terpasang.
"Anak Papa apaan." Wajah Ayna cemberut. Di dalam perutnya belum ada kehidupan.
"Cepat hadir kamu ya, Nak. Papa dan Mama sangat menantikanmu. Nanti apapun yang kamu mau akan Papa turuti." Alex mengelus perut Ayna, kemudian menkecupnya.
Ayna menatap sendu, pria itu sangat menginginkan adanya buah hati mereka. Tapi, mau bagaimana jika masih belum diberikan.
"Ma, Papa pergi dulu ke kantor. Mau mengumpulkan uang yang banyak." Setelah puas mengobrol dengan perut Ayna, Alex pamit untuk berangkat ke kantor.
"Papa sangat mencintai Mama." Goda Alex kemudian.
"Kumat. Papa... Mama..." Ledek Ayna, Panggilan Papa dan Mama masih risih di telinga Ayna.
"Kalau kamu nggak mau panggilan itu. Kita bisa ganti dengan Papi Mami, Daddy Mommy, Abi Umi, Ayah Bunda, Bapak ibu, Pipi Mimi atau pak-ek mak-ek. Kamu mau yang mana?" Alex memberikan banyak pilihan.
Ayna menggeleng cepat.
"Sudah sana cepat berangkat." Ayna mendorong tubuh Alex.
"Kamu suka yang mana?"
"Aku sukanya Mas Alex."
.
.
.
__ADS_1