SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 50 - KEGUGURAN?


__ADS_3

Arga berjalan menuju ruangannya. Wajahnya tampak kusut dan sangat tak bersemangat. Cuti 2 minggu yang di ambilnya hanya sia-sia saja. Ayna sudah tak tergapai lagi.


"Arga... apa maksud kamu?" Tanya Aca begitu pria itu masuk.


Arga melihat sekilas, lalu berlalu menuju meja kerjanya.


"Arga..." Pekik Aca kesal.


"Selama cuti kamu ke mana saja? kamu nggak pulang ke rumah ataupun ke rumah orang tuamu. Sebenarnya kamu ke mana, Arga?" Aca melampiaskan rasa kesal pada pria yang kembali muncul ke permukaan, setelah selama 2 minggu hilang bagai ditelan bumi.


Arga tak menggubris, ia akan memulai pekerjaannya saja.


"Arga... kamu anggap aku apa? aku istrimu." Aca benar-benar kesal pada sikap pria itu.


"Keluarlah." Arga mengkibas-kibaskan tangannya. "Aku sudah mengajukan pergantian sekretaris." Ia tak mau selalu melihat Aca.


"Arga..." Bentak Aca kesal.


"Diam kau!!!" Pria itu membentak Aca dengan wajah merah menahan emosinya. Bicara dengan wanita itu nggak bisa pelan, meski pakai otot.


Aca jadi pucat, Arga membentaknya. Wajah Arga sungguh mengerikan, seakan mau mengkulitinya hidup-hidup.


"Aku sudah jelas katakan padamu. Aku terpaksa menikah denganmu, hanya sampai anak itu lahir." Pria itu kembali mengingatkan akan hal itu.


"Jadi jangan mengharap apapun dariku. Saat bayi itu lahir aku akan membawanya dan segera menceraikanmu." Jelas Arga kemudian. Ia pun bangkit dan segera keluar ruangan.


"Arga..." Aca mengekori Arga, "Apa kita tak bisa hidup layaknya pasangan suami istri pada umumnya?"


Arga menghentikan langkahnya. "Kau mau seperti itu?"


Aca mengangguk.


"Apa kau kira kau berhak diperlakukan seperti itu?? kau itu wanita licik." Arga melihat Aca dengan tatapan menjijikkan.


Aca terdiam, ucapan Arga sungguh menyakitkan.


"Arga... Arga... aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Kenapa kamu nggak mencoba menerimaku?" Aca mengatakan hal itu sambil mengejar Arga yang melangkah begitu cepat. Ia sudah ketinggalan jauh dari pria itu.


Sepatu hak tinggi Aca menghalangi langkahnya. Ia terpeletok saat menuruni tangga. Hal itu membuatnya tak bisa menahan keseimbangan dan terjatuh terguling-guling menuruni tangga.


"Da-darah..."


Arga membalikkan badan, saat mendengar suara teriakan. Ia melihat orang-orang di kantor itu bergumun di bawah tangga.


Karena penasaran Arga menghampiri, untuk melihat apa yang terjadi.


Arga tersenyum samar melihat Aca pingsan dengan bersimbah dara.


'Apa dia keguguran? itu sangat bagus.'


"Apa yang terjadi?" Tanya Arga seolah bingung dan khawatir.


"Bu Aca terjatuh dari tangga, Pak." Jelas salah satu dari orang-orang di sana.


"Ayo bantu saya, kita harus membawa ke rumah sakit." Ucap Arga meminta bantuan mereka.

__ADS_1


Aca harus segera di bawa ke rumah sakit, agar Arga tahu bagaimana keadaan anak itu. Ya, anak yang masih dipertanyakan asal usulnya?


###


"Kamu masak apa?" Tanya Mama melihat Ayna sibuk di dapur.


"Ini, Ma. Buat makan siang untuk Mas Alex." Jelas Ayna.


"Mama, mau makan? Ayna buat banyak." Ucapnya menawarkan masakannya.


"Boleh." Ucap Mama sambil tersenyum.


Ayna pun menyajikan masakan ala rumahan. Ada ayam goreng dengan sambal terasi, plus lengkap dengan sop.


Mama tersenyum melihat menantunya yang menyajikan masakannya di atas meja.


Sikap Ayna baik dan tulus membuat Mama jadi menyukainya. Ayna juga anak yang sangat sopan. Sangat beretika, walaupun sering dilanda kegugupan.


Tidak seperti Mona. Tiba-tiba Mama mengingat saat pertama bertemu dengan wanita itu.


Dulu saat Mama mendengar, bahwa Alex menyukai salah satu karyawannya. Sebagai seorang ibu, Mama jadi penasaran dan kepo sendiri untuk mencari tahu. Wajar, Alex anak semata wayangnya. Ia tak mau Alex salah pilih.


Menurut kabar yang beredar. Mona itu wanita baik-baik. Tak ada tingkah lakunya yang aneh atau bermasalah.


Hingga akhirnya, Mama ingin berkenalan langsung. Sebab, Alex tak pernah memperkenalkan wanita itu padanya.


"Apa ibu mencari saya?" Tanya Mona ketika sampai di lobi. Ia bingung siapa wanita paruh baya itu.


"Iya." Jawab Mama menatap Mona.


Kesan pertama, wanita muda itu sangat sombong dan angkuh. Tak seperti kabar yang beredar.


"Saya... Mamanya Alex." Mama pun memperkenalkan diri.


"Oh... ada apa Bu?" Tanya Mona dengan wajah terpaksa tersenyum. Ia meruntuki sikapnya tadi.


Kesan kedua, Mona kurang beretika. Bukannya seharusnya Mona menyalami dirinya?


Mama sudah ilfill pada wanita itu.


"Saya cuma mau mengatakan, jangan pernah mendekati anak saya lagi. Alex sudah saya jodohkan dengan wanita yang selevel dengannya." Ucap Mama segera. Lalu berlalu setelah mengatakan itu.


Tadinya Mama mau mendukung hubungan mereka agar segera terjalin, tapi melihat sikap wanita itu, Mama tak rela putranya dekat dengan wanita yang kurang ber-etika.


"Mama, lagi mikirin apa?" Tanya Ayna yang membuat Mama tersadar dari lamunannya.


"Nggak ada. Mama, makan ya."


"Silahkan, Ma." Ucap Ayna, ia juga menuangkan air dalam gelas.


"Alex, baikkan sikapnya sama kamu?" Tanya Mama segera.


"I-iya, Ma." Jawab Ayna gugup dan malu.


"Apa Alex pernah membentak atau memarahimu?" Tanya Mama kembali.

__ADS_1


Ayna menggeleng. "Nggak, Ma. Mas Alex, pria yang sangat lembut."


Mama mengangguk. "Kamu harus hidup bahagia dan sabar dengan anak bandal Mama itu."


Ayna tersenyum sambil menganggukkan kepala.


###


"Mas... ayo dimakan dulu." Ucap Ayna menyajikan bekal yang dibawanya.


Semenjak ia datang, pria yang bernama Alex itu terus menempel padanya.


"Sebentar lagi." Ucap Alex masih betah membenamkan wajah di tengah pergunungan itu.


"Mas Alex... ayo cepat dimakan." Ayna mengangkat wajah yang kecewa itu.


"Suapi, sayang."


Ayna terkekeh, Alex begitu sangat manja. Ia seperti bocah yang merengek.


"Terima kasih." Ucapnya menerima suapan demi suapan.


"Sayang, nanti kamu pilih pakaian mana yang kamu suka untuk foto prewed kita."


Ayna merasa aneh. Mereka sudah menikah, tapi membuat foto prewed.


"Baiklah, sayangku. Ayo makan lagi." Ayna kembali menyuapi bayi raksasanya.


"Cup... cup anak pintar." Ledek Ayna mengelus kepala sang suami.


"Kamu ini, ya." Alex menyentil dahi sang istri pelan.


"Sakit, Mas." Ia memengangi keningnya dengan wajah cemberut.


"Cup... cup... cup... sini, sayang." Alex pun menkecup kening Ayna berkali-kali.


"Ini.... juga sakit?" Tanya Alex menunjuk bibir Ayna.


"Minum, Mas." Ayna menyodorkan minuman lalu mengkibaskan tangan, tiba-tiba suasana di ruangan ini seakan panas.


"Kalau kamu kepanasan, buka saja baju kamu." Goda Alex memainkan alisnya sambil membasahi bibirnya dengan lidah. Ekspresi pria itu seperti melihat santapan lezat.


"Mas Alex, jangan mesum."


"Siapa yang mesum? aku cuma suruh kamu buka baju kalau kepanasan."


"Aku nggak kepanasan, kok."


"Ya sudah, kalau begitu mendekatlah biar aku membuatmu kepanasan.."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2