SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 89 - KEKHAWATIRAN ALEX


__ADS_3

Ayna mengeluarkan isi perutnya ke lantai. Wajahnya sangat pucat sekali.


"Ay, kamu nggak apa?" Tanya Arga mengusap wajahnya yang disembur Ayna.


"Hoek hoek hoek..."


"Ay..." Ucap Arga memijat tengkuk Ayna pelan. Membantu mengeluarkan muntahan wanita itu.


"Sudah?" Arga mengambilkan minum, tapi Ayna menolak.


Ayna terbaring lemas di tempat tidur dengan kaki dan tangan yang masih terikat. Air matanya juga ikut berlinang. Ia berharap Alex segera mencarinya.


Wanita itu tak percaya pada Arga yang mengatakan jika Alex sudah mati. Ia ingat bertemu Arga sebelum ia bertemu Alex. Lalu ia pingsan karena tengkuknya dipukul pria itu. Dan saat ia pingsan, Arga mengambil kesempatan untuk membawanya pergi.


"Kamu demam, Ay. Kita ke rumah sakit." Ucapnya setelah merasakan dahi Ayna yang agak panas.


"Tunggu sebentar, ya." Ucap Arga lembut lalu melangkah ke kamar mandi. Ia harus membersihkan wajahnya terlebih dahulu.


'Mas Alex, tolong aku...'


Tak lama Arga sudah keluar dari kamar mandi. Ia segera melepas ikatan tali. Ia khawatir melihat wajah pucat Ayna.


"Ay, ayo kita ke dokter." Pria itu memapah tubuh lemah Ayna untuk bangkit.


"Mas Alex... Mas Alex..." Lirih Ayna masih memanggil nama sang suami.


Arga membawa Ayna ke rumah sakit. Wanita yang terbaring lemah itu sedang diperiksa oleh dokter.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Arga segera. Ia melihat Ayna yang diam terpejam.


"Istri anda mengalami kelelahan. Jangan terlalu banyak melakukan kegiatan di masa awal kehamilan." Jelas sang dokter.


'Hamil? Ayna hamil?' Mendengar itu Arga jadi kesal. Kenapa Ayna hamil? Apa anak pria penikung itu?


"Istri anda harus diopname. Kondisinya sangat lemah-"


"Baiklah." Jawab Arga cepat memotong penjelasan Dokter. Bagaimana pun ia tak mau Ayna sampai kenapa-kenapa.


Arga menatap Ayna sendu. Ayna masih terpejam dengan infus menggantung.


"Kamu harus menggugurkan anak itu." Arga bermonolog sendiri.


"Tidak tidak. Biarkan saja dia tumbuh di sana. Aku akan menerimanya. Kamu pasti akan sedih jika menggugurkannya." Ia berniat akan menganggap anak Ayna adalah anaknya juga.


"Ay, kamu jangan sakit. Aku nggak mau kamu sakit." Arga berwajah sangat khawatir. Ia masih sangat peduli dan menyayangi Ayna. Perasaannya masih sama seperti dulu.

__ADS_1


Arga memegang tangan Ayna dan mencium pundak tangan itu.


"Nanti setelah kamu sembuh dan keluar dari rumah sakit. Kita akan pergi dan-" Arga menjeda ucapannya dan mulai berpikir.


Tiba-tiba ia baru menyadari sesuatu. Ini sudah malam dan Ayna masih bersamanya. Apa suami dadakan itu tak mencari Ayna? Atau mungkin pria itu sedang mencarinya sekarang?


Melihat sikap Alex selama ini, pasti pria penikung itu tak akan melepaskan Ayna begitu saja.


Menurutnya ia harus segera pergi membawa Ayna ke tempat yang jauh. Ini adalah kesempatannya. Jika Alex menemukan mereka, maka ia akan berpisah dan tak akan bertemu Ayna lagi untuk selamanya.


Arga tak mau membuang waktu. Ia segera memanggil perawat untuk segera melepaskan jarum infus dari tangan Ayna.


"Pak, tubuh pasien masih sangat lemah. Tunggu sampai satu botol ini habis." Perawat menyarankan. Pasien itu masih sangat pucat.


"Maaf, tapi kami harus segera pergi. Saudara kami ada yang kemalangan..." Arga memberikan alasan, seolah mereka mendadak harus segera keluar dari rumah sakit.


"Siapkan saja obat-obatnya. Akan kuberikan selama perjalanan.."


###


'Tenanglah, Ay. Aku akan menghabisi dia.' Alex benar-benar tersulut emosi, mendengar ternyata Arga membawa Ayna ke sebuah hotel.


Pikirannya sudah bercabang. Arga mungkin akan melakukan pelecehan terhadap istrinya.


'Sayang, kuharap dia tidak menyentuhmu.' Alex mengusap sudut matanya. Ia sangat menyesal, jika sesuatu sampai terjadi pada Ayna.


"Apa? Baiklah. Kita ke rumah sakit sekarang." Pinta Jo pada sang supir.


"Ada apa?" Tanya Alex bingung saat mobil berbalik arah.


"Arga membawa Ayna ke rumah sakit." Jo memberitahu informasi yang didengarnya.


"Apa yang terjadi?!" Bentak Alex, membuat orang yang berada di dalam mobil bersamanya ketakutan.


Alex memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Mendengar Arga membawa Ayna ke hotel saja, membuat hatinya terasa perih. Dan kini mereka ke rumah sakit.


Pikiran Alex sudah kemana-kemana. Untuk apa mereka ke rumah sakit? Apa istrinya sedang sakit? Atau apa mungkin mereka mengalami kecelakaan?


Alex berpikir, mungkin Arga tahu mereka sedang mencarinya. Lalu Arga membawa Ayna ke tempat lain. Karena tahu sedang dicari, Arga mengemudi dengan ugal-ugalan. Mengingat lokasinya terus berpindah-pindah. Tadi di pantai, hotel dan sekarang rumah sakit.


Hati pria itu benar-benar tidak tenang dan sangat kebingungan. Hanya bisa berharap sang istri baik-baik saja, di manapun berada.


'Ayna...kamu baik-baik saja kan, sayang? Aku nggak mau kehilangan kamu, jadi tolong jangan tinggalkan aku.' Harap Alex setulus hati.


Alex segera merogoh saku mengambil ponsel. Mungkin saja Ayna yang menghubunginya.

__ADS_1


"Ya, Ma..." Jawab Alex lemah, saat bukan orang yang dipikirkan.


"Bagaimana Ayna? Apa kamu sudah menemukannya?" Tanya Mama dari seberang sana.


"Alex masih mencari Ayna, Ma."


"Alex, kamu harus segera menemukan Ayna. Mama takut terjadi sesuatu-"


Papa mengambil ponsel Mama. Dan mengambil alih bicara dengan sang anak.


"Lex, Papa yakin kamu pasti bisa membawa Ayna pulang.."


Setelah bicara sebentar, pria paruh baya itu mengakhiri panggilannya.


"Bagaimana? Apa Ayna sudah ditemukan?" Tanya Bunda sambil mengusap air matanya.


Tadi begitu mendengar Ayna menghilang dan diculik Arga, mereka segera datang ke rumah Papa dan Mamanya Alex.


Ayah dan Bunda sangat sedih dan khawatir, mendengar kabar berita tersebut.


"Alex masih berusaha mencari. Alex pasti akan menemukan Ayna." Jawab Papa menenangkan besannya.


"Ayah, Bunda takut Ayna kenapa-kenapa? Kenapa Arga bisa setega itu. Sudah dia yang meninggalkan Ayna di hari pernikahan mereka, dan sekarang malah dia menculik Ayna." Bunda sedih bercampur marah pada mantan menantunya. Rasanya ingin mengkuliti Arga saja.


"Tenanglah, Bun. Alex pasti akan segera menemukan putri kita." Ayah menepuk pelan tubuh Bunda.


"Bun, ayo kita pulang dan menunggu kabar Ayna di rumah saja." Ajak Ayah merasa segan. Hari sudah malam, tak baik berada di rumah orang.


"Bapak dan ibu menginap saja di sini. Kita akan menunggu mereka bersama." Mama melihat wajah Bunda yang sedih dan sangat khawatir.


"Tidak usah, Bu." Tolak Ayah lembut.


"Tak apa, Pak. Kita akan menunggu mereka di sini saja. Ini juga sudah malam." Papa juga membujuk.


Pikiran orang tua Ayna, pasti sedang kacau. Jika mereka pulang malam ini, mereka bisa saja tidak fokus pada jalanan dan itu sangat berbahaya.


Ayah melihat Bunda yang menganggukkan kepala, menjawab supaya Ayah bersedia.


"Baiklah, kami mohon maaf jika merepotkan Bapak dan Ibu." Ayah masih merasa segan.


"Kenapa merepotkan. Kita keluarga. Ayna adalah putri kami juga.."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2