SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 14 - MEMULAI


__ADS_3

Ayna sarapan bersama sang suami. Senyuman di wajah cantik itu terbit melihat Alex makan masakannya dengan begitu lahap.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Ayna penasaran.


"Ini sangat enak. Chef-chef terkenal bisa kalah denganmu." Goda Alex mengkedipkan mata genitnya.


Ayna pun segera mencubit pipi Alex. Pria itu terlalu berlebihan menilai masakannya.


"Silahkan dimakan." Ayna menyodorkan piring berisi makanan yang telah dimasaknya.


"Enak nggak nih?" Tanya Arga melihat piring yang diberikan Ayna.


"Enak dong, Mas coba saja."


Arga mencobanya, seketika wajahnya tersenyum terpaksa.


"Gimana?" Tanya Ayna.


"Rasanya enak. Cuma masih kurang sedikit garam."


Ayna menarik nafas dalam, kenangan saat bersama Arga kembali terlintas di kepalanya.


'Kenapa aku jadi membandingkan mereka?' Ayna meruntuki pikirannya tersebut.


"Tiap hari dimasaki kamu, badanku bisa melebar, nih." Ledek Alex setelah menghabiskan sarapan. Piring Alex bersih tanpa sisa.


Ayna tersenyum simpul.


"Kamu kenapa belum habis makannya? apa mau aku suapi?" Alex menyanggahkan dagu dengan tangan di meja makan.


"A-aku bisa makan sendiri." Dengan gugup Ayna menyendokkan makanan ke dalam mulut. Ayna mempercepat suapannya melihat Alex yang masih tersenyum lebar padanya.


Setelah selesai makan, Ayna mencuci piring di wastafel.


"Mas, sudah jam berapa ini? nanti terlambat ke kantor." Ayna memperingatkan dengan tangan yang sibuk pada piring-piring kotor.


"Iya sayang, sebentar lagi."


Ayna menghembuskan nafas kasar. Saat ini Alex menyanggahkan dagunya sambil memeluknya dari belakang. Sungguh perlakuan Alex membuat Ayna jadi sulit mencuci piring.


Alex juga ikut bergeser tatkala Ayna meletakkan piring ke rak piring.


"Mas, ini sudah jam 9 lho." Ayna sudah selesai mencuci piring, tapi pria itu masih betah pada posisinya.


"Mas, tidur ya?" Tanya Ayna.


Alex menggeleng. Dari tadi ia memandangi pemandangan pegunungan yang begitu indah. Pegunungan yang membuatnya ingin menjadi seorang penjelajah.


"Ay..." Alex perlahan membalikkan tubuh Ayna. Kini wanita cantik itu berada dihadapannya.


"Mas, aku akan ambilkan sepatu." Ucap Ayna akan berlalu pergi. Ayna merasa kikuk.

__ADS_1


"Apa aku libur saja hari ini?" Tanya Alex memegang tangan Ayna.


Ayna yang repleks menggangguk lalu segera menggeleng.


"Yang mana yang benar?! Kamu mau aku libur atau tidak?" Tanya Alex mengulum senyum.


"Mas harus be-"


Alex menarik Ayna padanya, pria itu kembali menyosor bibir Ayna, meresap rasa yang selalu dirindukannya.


"Mas..." Ayna mendorong pelan tubuh Alex. Pria itu membuatnya kehabisan nafas.


Alex menatap mata Ayna dalam. Ia menginginkan istrinya saat ini. Tapi ia juga ingin melakukannya saat Ayna menginginkan dirinya.


Ayna menatap mata Alex. Mata yang tersirat ketulusan yang mendalam.


'Sekarang pria ini adalah suamiku. Ia bersedia menikah denganku. Kenapa aku malah tak bersedia menerimanya?!'


Alex kembali mengikis jarak dengan tangan melingkar di tubuh Ayna. Pagutan lembut yang dilakukan Alex membuat Ayna perlahan melingkarkan tangan di leher pria itu. Menikmati rasa yang diiringi debaran.


Alex kembali menatap Ayna tatkala wanita itu kembali mendorong tubuhnya.


"Ma-maaf.." ucap Alex lirih sambil menundukkan kepala. Sebagai pria ia merasa malu, Ayna sudah menolaknya 2 kali.


Alex akan melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Ayna. Ia akan segera berangkat bekerja saja.


Tapi dengan cepat Ayna kembali mengalungkan tangan di lehernya.


"Hmm..." Alex tak mau melihat Ayna, ia masih menundukkan kepala. Pria itu masih merasa malu.


"Mas... a-a-a-apa kita bisa lanjutkan di-di-di kamar saja?" Tanya Ayna gugup dan gemetaran. Saat ini Ayna tak ingin membuat Alex selalu kecewa, ia akan melupakan Arga dan memulai dengan Alex.


Mendengar ucapan Ayna, Alex menaikkan kepala. Ia melihat wajah Ayna yang sudah memerah, seperti kepiting rebus.


Pria itu tersenyum dan kembali menyatukan bibir mereka. Ayna kesulitan mengimbangi ciuman Alex yang mendominasi.


Gairah mulai menguasai Alex di pagi yang cerah itu. Ia mengendong Ayna dengan bibir yang seolah enggan berpisah.


Decapan yang saling bersahutan mengiringi langkah Alex menuju kamar. Pria itu meletakkan Ayna di tempat tidur mereka dengan hati-hati.


Keduanya saling berpandangan dengan nafas yang saling berhembus menerpa wajah masing-masing.


Alex melepas pakaiannya melihat pandangan Ayna yang juga menginginkan dirinya. Ia juga melepas pakaian Ayna dan mencampaknya sembarang.


'Pi-pi-piton.' Ayna menggigit bibir bawahnya saat melihat benda yang tergantung tapi bukan lampu tersebut.


Sementara di sebuah ruangan rapat, Jo menarik nafasnya panjang. Tadi pagi Alex menelepon dan mengatakan akan masuk kantor hari ini.


Dengan begitu semangat Jo pun segera menjadwalkan rapat-rapat yang tertunda.


Tapi apa?

__ADS_1


Sudah pukul 11 siang dan pria menyebalkan bernama Alex belum menampakkan batang hidungnya. Bahkan ponselnya juga tidak aktif.


Jo melirik orang-orang di ruang rapat yang sudah tampak gelisah. Bagaimana tidak, mereka sudah menunggu dari pukul 10.


"Rapat ditunda dan akan diinfokan selanjutnya." Akhirnya Jo menyudahi rapat tersebut. Orang-orang di ruang rapat pun segera berhamburan.


'Alex!!!' Batin Jo berteriak kesal.


###


"Jo... Alex kemana? ia tak mengangkat teleponku. Nomornya juga tidak aktif." Ucap Mona saat makan siang. Alex mengabaikannya, biasanya pria itu dengan cepat mengangkat telepon atau membalas chatnya.


"Dia cuti." Jawab Jo.


"Cuti apa?" Tanya Rani, kekasihnya Jo yang juga bekerja di kantor yang sama.


Jo menaikkan bahu tanda tidak tahu.


"Masa kau tidak tahu, Jo? Alex, itu kan temanmu." Ucap Mona.


"Apa semua yang dilakukan Alex, aku harus tahu?" Tanya Jo sedikit kesal. Ia bukan baby sisternya Alex.


Rani mengusap pelan tangan Jo, ia juga melirik Mona agar jangan bertanya lagi.


"Oh iya Mon, bagaimana hubungan kalian? apa kalian sudah jadian?" Tanya Rani penasaran.


Mona menggeleng. "Aku belum menerimanya."


"Jangan begitu. Kenapa kau menggantung pria seperti Alex Mon? ia mencintaimu seharusnya kau menerimanya. Perasaan bisa muncul seiring berjalannya waktu." Rani mengingatkan temannya itu.


"Aku-" Ucapan Mona terpotong.


"Sudahlah, sebaiknya kau tak usah memberikan harapan lagi pada Alex. Ayo, kita masuk kantor." Jo menarik tangan Rani setelah mengatakan itu. Mereka segera keluar dari kafe kantor, mengingat jam istirahat akan segera berakhir.


Sementara Mona diam mencerna ucapan Jo.


"Pasti kamu tahu kenapa Alex cuti?" Tanya Rani dengan sorot mata tajam setelah mereka memasukk lobi kantor.


"Aku tidak ta-"


Ucapan Jo terhenti melihat Rani menatapnya tajam.


"Begini. Alex cuti untuk urusan penting.Apa kamu mau aku jadi pengangguran jika memberitahu Alex cuti untuk apa?" Sebenarnya Jo ingin bercerita pada kekasihnya. Tapi ia tak mau membuat masalah yang berimbas pada pekerjaannya.


"Biarkan saja Alex dengan urusannya itu."


"Baiklah." Rani pun mengalah. Walau sebenarnya ia sangat penasaran.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2