SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 65 - KETAKUTAN AYNA


__ADS_3

Aca merentangkan tangan di tempat tidur. Ia sudah kembali ke rumah, karena sudah dibebaskan bersyarat dari kantor polisi.


"Si-alan..." Ucap Aca kesal. Ternyata Ayna membatalkan gugatannya. Sepertinya Ayna sengaja membuatnya merasakan dinginnya sel selama beberapa hari ini.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku harus mencari pekerjaan, uangku sudah menipis." Aca memijat pelipisnya. Pemasukannya sudah tidak ada sekarang.


"Di mana Arga sekarang? Apa dia sudah menikah lagi?"


Aca mencoba untuk menghubungi nomor ponsel Arga. Tapi panggilannya ditolak karena nomornya sudah diblokir.


"Untuk apa aku masih memikirkan pria tidak waras itu, suami dadakan Ayna sepertinya lumayan juga. Apa aku jadi pelakor saja, ya? Atau jadi istri kedua, sepertinya juga tidak apa. Bukankah berbagi itu indah."


Aca tersenyum sinis, sudah banyak rencana untuk membalas dendamnya pada Ayna bertebaran di kepala. Salah satunya dengan jurus tikungan tajam di lap terakhir.


###


"Ma, Ayna mana?" Tanya Alex begitu masuk ke dalam rumah. Biasanya Ayna menyambut dirinya saat pulang dari kantor.


"Seoertinya di kamar." Jawab Mama.


Alex mengangguk. "Oh iya, ini untuk Mamaku." Ia memberikan sebungkus martabak untuk sang Mama.


"Tumben kamu beli ini?" Mama nggak pernah melihat Alex membawakan buah tangan saat pulang dari kantor.


"Iya, tadi Ayna nitip mau makan ini, Ma." Jawab Alex sambil membuka lemari es, lalu menenggak air dalam botol.


Mama pun tersenyum lebar.


"Kenapa Mama senyum?" Tanya Alex aneh, Mamanya tiba-tiba tersenyum. Bikin merinding saja.


"Ayna ingin makan ini. Apa dia sedang mengidam?" Tebak sang Mama.


"Maksud Mama?" Tanya Alex dengan mimik wajah serius.


"Istri kamu mungkin sedang hamil. Biasanya wanita yang sedang hamil itu, sering ngidam makan ini itu." Jelas Mama dengan wajah bahagia, wanita paruh baya itu sudah membayangkan menggendung seorang cucu. Ia akan menjadi seorang nenek.


"Yang benar, Ma?" Tanya Alex tampak antusias. Jika benar seperti itu, berarti sebentar lagi dia akan menjadi seorang Papa.


"Mudah-mudah-"


Belum juga ucapan Mama selesai, putranya itu sudah berlari menuju kamarnya.


Alex sudah tidak sabaran untuk bertanya langsung pada sang istri.


###


Ayna menatap kaca kamar mandi. Lalu melihat tangannya yang memegang pembalut.


Tamu bulanannya sudah tiba. Membuat wajah Ayna jadi sedih. Ia masih belum hamil.

__ADS_1


"Nak... Kamu masih otw di mana, sih? Apa kamu terjebak macet?" Tanya Ayna memegangi perutnya.


"Sayang..." Panggil Alex, saat masuk kamar dan tak melihat Ayna berada di sana.


"Sayang..." Panggil Alex kembali.


"Bentar, Mas." Sahut Ayna dari kamar mandi.


Tak lama Ayna keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum melihat Alex membawa pesanannya.


"Terima kasih, Mas Alexku sayang. Makin sa...yang aku." Ayna segera berlari memeluk Alex.


"Bentar ya, Mas. Aku kasih Mama sebagian." Ayna ingin membagi martabak itu dengan Mama.


"Nggak usah, tadi Mama juga sudah aku belikan. Aku belinya 2 kotak." Alex segera memberitahu.


Ayna mengangguk. Ia pun membawa Alex duduk di sofa yang berada dalam kamar mereka, untuk menikmati martabak itu.


"Enak?" Tanya Alex.


"Iya, Mas. Ini sangat enak." Mulut Ayna penuh dengan martabak.


Alex mengelap mulut Ayna, istrinya seperti bocah. Makan saja berselemak kemana-mana.


"Mas, besok pulang kerja belikan aku bakso ya. Yang besar itu." Ayna ingin makanan yang lain.


"Sayang..." Alex menatap mata Ayna dalam.


"Apa perut kamu sudah berisi?" Alex menunjuk perut rata Ayna.


Ayna menundukkan kepala. "Belum, Mas."


"Hmm... Tadi aku kira kamu sedang hamil. Habis pingin ini pingin itu seperti orang lagi ngidam." Ucap Alex pelan.


Wajah Ayna berubah jadi mewek, matanya mulai berkaca-kaca.


Alex merangkup wajah Ayna, karena mendengar suara isakan.


"Ma-maafkan aku, Mas. Aku belum mengandung anakmu." Pasti suaminya begitu sangat menginginkan kehadiran anak mereka.


"Kenapa kamu malah minta maaf?" Alex membawa tubuh sang istri dalam dekapannya.


"Besok, kita ke dokter saja ya?" Ajak Alex.


Ayna menggeleng dalam dekapan tubuh tegap sang suami.


"Kita bisa konsultasi pada dokter." Saran Alex.


"Nggak mau, Mas." Ayna tetap menolak.

__ADS_1


"Ya sudah... Tapi kamu jangan nangis lagi. Makan martabaknya." Alex melonggarkan pelukannya.


"Mas..." Mata sendu itu masih menatap Alex.


"Kenapa, sayang?" Nada Alex begitu sangat lembut.


"Jika nanti aku nggak bisa memberi anak gimana, Mas?" Sorot mata Ayna begitu sangat serius membicarakan itu.


"Kamu bicara apa sih?" Alex merasa pertanyaan Ayna cukup aneh.


"Misalnya lho, Maa."


"Hmm... Ya nggak apa-apa." Jawab alex segera. Mau ada tidaknya anak, yang penting ada Ayna di sisinya.


"Kok nggak apa-apa, Mas?" Tanya Ayna tak terima.


"Jadi?" Alex jadi bingung. Ia memang tak ada masalah.


"Jika aku tak bisa memberikan keturunan, apa Mas akan menceraikanku dan menikah dengan wanita lain yang bisa memberikan Mas Alex anak?" Tanya Ayna serius. Pertanyaan yang cukup panjang.


Ada ketakutan dalam diri Ayna. Semua wanita ingin kehidupan yang sempurna. Menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak. Tapi tak semua wanita punya keberuntungan seperti itu. Bagaimana jika dia salah satu wanita yang tak beruntung itu?


Banyak hal terjadi di sekitarnya yang sering Ayna amati. Bertahun-tahun menikah tapi belum juga dikarunia anak. Hingga akhirnya sang suami mencari wanita lain yang bisa memberikannya keturunan. Lalu wanita itu dihadapkan pada dua pilihan. Menerima hidup berdampingan dengan istri kedua atau memilih berpisah saja.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan? Jangan berpikir terlalu jauh." Pinta Alex. Ayna kebanyakan melamun sekarang.


"Menikahimu adalah pilihanku. Masalah anak adalah bonus. Jika kita tidak ditakdirkan memiliki anak, itu bukan masalah, sayang. Yang jadi masalah jika kamu tidak ada di sisiku." Dalam hidup ini, bagi Alex, Aynanya lah yang terpenting.


"Tapi... jika-"


"Ayna, dengar. Begini saja, kamu nggak usah terlalu memikirkan hal itu. Anak akan hadir di saat yang tepat. Jika tidak, mungkin kita nanti bisa mengadopsi anak atau hal lainnya." Alex menenangkan Ayna. Istrinya ini terlalu jauh berpikir.


"A-aku cuma takut saja, Mas." Jujur Ayna segera.


"Jangan berpikiran yang belum pasti. Lebih baik kamu mikirin aku. Bagaimana kamu harus menservice aku malam ini." Alex segera mengalihkan topik itu.


Ayna langsung melahap martabaknya. Alex memang selalu begitu. Lagi serius-serius membahas sesuatu hal, ucapannya ujung-ujung selalu ke sana.


"Bagaimana?" Alex mengkedipkan sebelah matanya. Menggoda Ayna sangat menyenangkan.


"Makan ini, Mas." Satu suapan martabak masuk ke mulut Alex.


Ayna tertawa melihat wajah kesal Alex yang mulutnya penuh makanan.


"Enakkan Mas martabaknya..."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2