SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 55 - BUKAN CINDERELLA


__ADS_3

"Mas Alex, matanya biasa saja ngelihati aku." Ayna yang sedang memasangkan dasi tak bisa fokus. Pasalnya pria di hadapannya itu menatapnya sangat dalam. Membuatnya seakan tenggelam dalam tatapan.


Tah mendengar atau tidak, Alex masih menatap Ayna seperti itu.


"Nanti kalau aku cekik pakai dasi baru tahu." Dumel Ayna.


"Kalau kamu sampai begitu, aku akan menghukummu nanti malam. Aku akan membuatmu lembur sampai pagi." Ternyata Alex dari tadi pura-pura budek. Pria itu kini malah membalas dumelannya.


"Atau kamu mau kita mulai dari sekarang saja, biar pan-"


Ayna geram pun sengaja menaikkan tangan pada dasi Alex.


"Sayang... kamu sengaja." Alex memegangi lehernya yang telah sengaja dicekik istrinya dengan dasi. Dan Ayna sudah kabur ke luar kamar mereka. Bahkan istrinya itu tadi sempat menjulurkan lidah padanya.


"Kamu menantangku, Ay." Alex makin gemas dengan Ayna.


Alex sarapan bersama Papa dan Mama serta istri tercinta di sampingnya.


Mata Ayna mendelik melihat Alex, pria itu malah memasang wajah datar.


Tangan Ayna perlahan menjauhkan tangan Alex yang mengelus-elus pahanya. Alex suka seenaknya saja. Mereka sedang sarapan bersama orang tuanya, tangan Alex malah seperti cicak. Diam-diam merayap.


"Papa dengar kamu membeli beberapa persen saham-" Ucap Papa.


"Iya, Pa. Hanya perusahaan kecil." Sela Alex segera menanggapi ucapan Papa. Ia tak mau Ayna mendengar saham perusahaan apa yang dibelinya.


Ayna tak habis pikir. Alex bisa mengobrol serius dengan Papanya, dengan tangan yang terlalu ramah di pahanya.


"Mas Alex..." Bisik Ayna menatap Alex untuk segera menjauhkan tangannya itu.


"Tanggung, sudah kenyal hangat lagi. Aku jadi pingin." Bisik Alex kembali.


"Aduh..." Alex meringis karena tangan Ayna segera mencubit perutnya.


"Kamu kenapa, Lex?" Tanya Mama melihat Alex kesakitan.


"Mas Alex, kenapa?" Ayna malah ikut bertanya. Istrinya itu sengaja sekali memasang wajah polos, seolah tak berdosa telah mencubit suaminya.


"Nggak apa kok. Tadi sedikit sakit perut. Sakitnya tadi seperti dicubit gorilla, Ma." Jelas Alex sambil melirik Ayna.


Ayna ingin tertawa saja, masa Alex menyamakan dirinya dengan gorilla. Jelas-jelas pria itu yang seperti gorilla. Tubuh Alex kan sangat besar darinya.


Setelah sarapan, Ayna mengantar Alex sampai depan teras. Ia menyalami suaminya dan Alex menkecup kening dan pipinya.


"Mas, mau sampai kita kapan begini?" Tanya Ayna yang mulai kesal. Kening dan pipinya tah sudah berapa kali dikecup suaminya.

__ADS_1


"Kamu bikin aku candu, sih." Goda Alex.


"Cepat berangkat, Mas." Ayna menarik nafasnya sambil meremas tangannya.


"Siap, Bos." Alex segera kabur melihat wajah kesal Ayna, tapi ia kembali menghampiri dan menkecup salah satu pipi Ayna.


"Sayang, Mas Alexmu berangkat dulu. Jangan nakal ya, anak Papa." Alex menunduk mengelus perut rata Ayna.


"Apaan sih, Mas." Ayna merasa risih, ia itu belum hamil. Alex malah berbuat seperti itu.


"Papa mau mengumpulkan uang yang banyak dulu, untuk kamu dan Mama. Kamu jangan nakal dan nurut sama Mama, ya." Alex menkecup perut Ayna.


"Mas Alex, ngomong sama siapa? sama lemak dalam perutku?" Ledek Ayna sambil tertawa.


"Aku lagi pamitan sama benih-benihku. Mungkin sekarang sudah sebesar uget-uget."


"Sudah berangkat sana, Mas." Ayna segera menyuruh Alex pergi. Dari tadi omongan pria itu mulai ngaco. Jika ada yang dengar, kan bisa malu.


"Pa, itu anak kita?" Bisik Mama pelan pada Papa. Dari tadi mereka melihat interaksi absurd kedua sejoli itu.


"Entahlah, besok kita tes DNA saja untuk memastikan." Ledek Papa yang segera membawa sang istri masuk.


Sementara Ayna tersenyum sambil melambaikan tangan, melihat mobil Alex yang sudah melaju. Ada-ada saja tingkah suaminya sekarang.


Dalam perjalanan ke kantor, Alex menyetel musik sambil tersenyum-senyum mengingat wajah cemberut istrinya.


"Apa, Jo?" Tanya Alex segera.


"Pak Alex, anda dimana? saya sudah di perusahaan Berjaya Grup." Jo pun memberitahu.


"Baiklah, aku segera meluncur ke sana."


'Meluncur? dia kira dia naik apa?' Dumel Jo dalam hati.


Jo menatap sekelilingnya, ia sedang berada di ruang direktur, bersama sang direktur perusahaan. Mereka sedang menunggu Alex.


Jo tak mengerti jalan pikiran pria satu itu. Bukannya begitu mudah, jika langsung memecat masa lalu istrinya itu. Kenapa dia malah membeli saham di perusahaan ini.


Tak lama, yang ditunggu pun tiba. Jo sempat mendengus melihat Alex. Pesona Alex makin hari makin terpancar. Apa mungkin begitu efek pria yang sudah menikah?


'Sepertinya aku harus segera menikah juga.'


###


Mata Arga menatap tajam pada seorang pria yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia mengenal pria itu.

__ADS_1


Apa yang dilakukan suami dadakan Ayna dengan Direktur perusahaan ini?


"Itu siapa yang bersama pak Direktur?" Tanya Arga penasaran pada orang di sebelahnya.


"Itu-"


"Masa pak Arga tidak tahu." Sela rekan kerja sesama jabatannya yang lain.


Arga diam, ia tak tahu siapa pria itu selain pria penikung. Yang telah menikung Ayna darinya.


"Saya beritahu, beliau itu Alex Putra Wijaya. Menurut kabar yang saya dengar, beliau membeli beberapa persen saham di perusahaan ini." Ucap Rekan kerjanya memberitahu.


Arga cukup kaget. Pria itu pasti sengaja melakukan itu untuk mengawasi dirinya.


"Dan beliau juga mengundang seluruh karyawan Berjaya Grup untuk menghadiri acara pernikahannya. Pak Arga, pasti tahu dong beliau menikah dengan siapa?!" Rekan kerja Arga sengaja mengatakan hal itu.


"Ayna-Ayna... mata wanita memang tajam, bukan. Ia begitu ikhlas melepas ikan asin dan malah mendapatkan ikan paus. Ayna sungguh beruntung." Cibir rekan kerjanya itu. Sebagai pria, ia tidak suka dengan perbuatan Arga saat itu, yang begitu tega menyakiti hati wanita. Apalagi menyakiti di hari H pernikahan.


"Kau!!!" Arga geram mendengar cibiran itu. Ia akan menghajar rekannya, tapi rekan-rekan kerja yang lain segera menjauhkan mereka.


Arga telah berada dalam ruangannya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


Arga marah dan kesal. Pria bernama Alex itu ternyata berada begitu jauh di atas dirinya.


Wajah yang lebih tampan darinya. Fisik yang bisa dikatakan sempurna. Dan itu... harta. Alex memiliki semuanya.


Siapapun wanita, jika disuruh memilih antara Ia dan Alex. Pasti pria itu yang akan mereka pilih.


Itulah pasti, mengapa Ayna lebih memilih pria itu ketimbang dirinya. Ayna bahkan rela melepaskan dirinya demi Alex. Tanpa mengingat kenangan mereka selama 5 tahun menjalin kasih.


'Ayna matre.' Umpatnya membatin. Ayna benar-benar wanita matrealistik.


Tangan Arga mengetuk-ngetuk meja. Ia memejamkan mata dengan pikiran berkelana.


"Aku tahu." Gumamnya merogoh ponsel dalam saku.


Arga kembali menonton video itu. Video saat Ayna mengemis minta dinikahkan.


Senyumnya pun mengambang. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum penuh kebencian.


"Apa keluarga elit itu akan menerima wanita sepertimu? Ayna-Ayna... kamu itu bukan cinderella.."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2