SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 46 - MENJEBAK ISTRI


__ADS_3

Ayna berdiri di teras rumah. Ia sedang menunggu suaminya pulang. Ini sudah jam 5 lewat dan Alex belum pulang.


Rasa khawatir pun datang. Mau menelepon, ponsel Alex juga tidak aktif.


"Mungkin Alex masih sibuk." Ucap Mama yang tiba-tiba sudah duduk di teras rumah.


"Ponselnya nggak aktif, Ma." Ayna sangat khawatir. Tadi kata Mama, Alex pulang sebentar dan langsung pergi lagi. Tumben Alex nggak ada bilang apapun padanya.


"Coba hubungi asistennya itu." Saran Mama, kasihan melihat wajah khawatir menantunya.


Ayna menggeleng. "Ayna nggak punya nomor ponselnya, Ma." Ucap Ayna lemah. Ia tak menyimpan nomor Jo.


Tak lama Ayna mengingat Rani. Ia pun segera meneleponnya.


"Halo, Ran." Ucap Ayna segera.


"Iya, Ay." Jawab wanita itu.


"Pak Jo nya ada?"


"Ada, lagi nyetir. Kenapa Ay?" Tanya Rani.


"Boleh bicara sebentar dengan pak Jo."


"Bentar, Ay." Rani memberikan ponsel pada Jo. "Ayna." Ucapnya pada Jo.


"Halo..." Ucap Jo perlahan menepikan mobilnya. Tak baik menelepon sambil menyetir.


"Pak Jo. Apa Mas Alex sudah pulang dari kantor?" Tanya Ayna dengan suara cemas.


"Oh sudah. Alex sudah pulang sekitar pukul 1. Kenapa Ay?"


"Mas Alex belum pu-, sudah kok pak Jo. Mas Alex sudah pulang. Maaf pak Jo mengganggu waktunya. Terima kasih ya Pak." Ayna segera memutuskan panggilannya, saat mobil Alex memasuki bagasi.


"Sayang, kamu kok nunggu-" Alex yang baru keluar dari dalam mobil, tersentak saat Ayna berlari dan memeluknya erat.


"Kenapa, sayang?" Tanya Alex bingung, Ayna malah menangis.


Alex yang bingung pun melihat sang Mama.


"Kamu sih. Buat khawatir istrimu saja. Tadi kamu sudah pulang langsung pergi. Lain kali kalau mau pergi itu bilang, jadi nggak buat orang khawatir. Minimal kirim pesan." Omel Mama pada sang anak. Karena yang dikhawatirkan sudah datang, Mama pun beranjak pergi meninggalkan mereka.


"Mas, kemana?" Tanya Ayna melonggarkan pelukannya. Wajahnya sudah mewek.


Wajah itu membuat Alex tersenyum. "Tadi aku pulang untuk mengambil sesuatu. Lalu aku segera pergi, kamu tadi masih di kamar mandi." Jelas Alex segera.


"Kenapa Mas nggak memberitahuku?" Tanya Ayna kembali.


"Maaf sayang, ponselku mati. Apa kamu begitu khawatir padaku?" Tanya Alex dengan suara yang begitu lembut.


"Iya, Mas." Jujur Ayna, ia tadi sempat takut dan khawatir terjadi sesuatu pada suaminya.


"Maaf, Papa sudah buat Mama khawatir." Alex mencubiti pipi Ayna. Wajah mewek itu jadi cemberut.


"Sayang, aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Kamu mau, kan?"


"Kemana, Mas?"

__ADS_1


###


"Kalian mau kemana?" Tanya Mama yang melihat Alex memakai pakaian rapi.


"Biasa, Ma. Mau kencan sama Ayna. Dinner romantis." Jawab Alex dengan senyum mengambang. Ia duduk di ruang tamu menunggu Ayna.


'Lama ya!' Alex tersenyum samar, sudah satu jam menunggu dan istrinya itu belum keluar-keluar juga dari kamar.


"Mama sudah atur acara. Apa akan membuat foto prewed?" Tanya Mama.


"Harus, Ma." Jawab Alex cepat. Mereka harus membuat foto prewed. Saat di pernikahan dadakan dulu, Alex sempat melihat foto prewed Ayna yang begitu romantis dengan orang itu.


"Ya sudah, besok sore-"


"Jangan besok, Ma." Tolak Alex cepat. Ayna pasti masih lelah. Rencananya ia akan menghabiskan sepanjang malam yang panas bersama Ayna. Dengan obat rekomendasi Dafa pastinya.


"Biar cepat, Lex."


"Lusa, Ma."


Mata Alex membelalak, seolah keluar dari tempatnya. Ayna tampak berkilauan seperti bidadari jatuh. Ya, jatuh di hatinya.


"Mas.." Ucap Ayna. Ia merasa tak pede dengan penampilannya sekarang.


Alex tadi memaksanya untuk berdandan secantik mungkin. Mereka akan menghadiri acara penting. Jadi Ayna menuruti permintaan suaminya.


"Sayang, kamu cantik." Puji Alex. Pria itu tak dapat mengalihkan matanya.


Ayna jadi malu. Apalagi di sana masih ada Mama yang tersenyum melihat mereka.


"Mungkin kami nggak pulang malam ini." Bisik Alex pelan pada Mamanya.


"Cepat beri kami cucu." Bisik Mama kembali.


"Siap Bos."


"Ma, kami pergi dulu." Pamit Ayna menyalami sang Mama.


"Iya, hati-hati di jalan." Ucap Mama sambil tersenyum. Mata Mama tertuju pada high heels Ayna yang cukup tinggi.


"Ay, ganti high heels kamu. Jangan setinggi itu. Nanti kamu bisa jatuh."


"Iya, sayang. Ganti saja." Alex juga setuju. Ia tak mau Ayna terjatuh lalu terluka.


Ayna mengangguk patuh dan kembali masuk ke kamar.


###


"Mas, kita mau kemana?" Tanya Ayna saat Alex menepikan mobil.


"Nanti kamu juga tahu. Sekarang tutup mata kamu." Alex memberi penutup mata.


"Untuk apa, Mas?"


"Sudah tutup cepat. " Alex meraih penutup mata dan memakaikannya pada Ayna.


"Mas, gelap." Ucap Ayna saat matanya sudah ditutup.

__ADS_1


"Aku yang akan menjadi penerangmu. Kita akan melangkah bersama dalam kegelapan." Jawab Alex serius.


Ayna jadi tersenyum. Alex sempat-sempatnya menggombal.


"Jangan dibuka sayang. Paling lama 15 menit." Ucap Alex kembali melajukan mobilnya.


"Tapi, Mas."


"Awas kalau kamu mengintip. Kamu bisa bintilan." Lirik Alex.


Ayna yang tadinya berniat mengintip, tak jadi melakukannya.


"Mas Alex..." Ucap Ayna saat mendengar suara pintu mobil.


"Ayo pelan-pelan keluar, sayang." Alex perlahan mengeluarkan Ayna dari mobil.


"Mas, aku buka ya."


"Tunggu sebentar lagi. Kalau kamu buka sekarang, suprise aku gagal dong."


Ayna mengangguk. "Mas, kenapa aku di gendong?"


Alex menggendong Ayna di punggungnya. Jika membiarkan Ayna berjalan dengan mata tertutup, istrinya bisa saja terjatuh meskipun ia sudah memeganginya.


"Mas, kita dimana?" Tanya Ayna penasaran. Suhu udara tiba-tiba dingin.


Wajar saja dingin, mereka sudah memasuki lobi hotel. Suhu di luar dan di dalam bangunan ber-AC kan berbeda.


Resepsionis menyerahkan kartu akses. Alex mengucapkan terima kasih dengan gerakan bibir.


Pria itu berjalan sambil menggendong Ayna. Ia tak peduli orang-orang yang melihatnya. Bagi Alex dunia hanya milik berdua... dan anggaplah mereka rumput-rumput yang melambai.


"Sudah sampai, Mas?" Tanya Ayna ketika Alex menurunkan dari gendongannya.


"Tunggu sebentar. Jangan dibuka penutup matanya." Alex mendudukkan Ayna di tempat tidur.


'Di mana ini?' Ayna menepuk-nepuk tempat tidur itu.


Alex memesan sebuah kamar hotel mewah yang sudah di dekor sedemikian rupa. Penuh bunga dan lilin-lilin... menambah kesan romantis.


Alex menuju meja makan. Makanan sudah terhidang di sana. Senyumnya terbit saat mengeluarkan 2 botol obat. Ia memasukkan ke minuman yang akan diminum Ayna dan yang lain ke gelas minumnya.


'Ayna nggak marah, kan?' Alex jadi ragu. Sekarang kesannya seperti ia mau menjebak istri sendiri.


Padahal tanpa dipaksa, Ayna akan melayaninya sepenuh hati, dengan senyuman menggoda.


"Mas Alex..." Panggil Ayna yang merasa sudah terlalu lama matanya di tutup. Jadi penasaran apa suprise Alex untuknya.


Alex pun membawa gelas itu ke kamar mandi dan membuangnya. Serta membuang botol obat itu.


'Ok-ok... biarkan berjalan semestinya.'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2