SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 67 - MEMINTA MAAF


__ADS_3

"Mas, duduk sana." Ayna sulit memasak, karena pria itu terus memeluknya dari belakang.


"Mas Alex... Nanti kita bisa kena minyak panas, lho." Ayna menghembus nafas. Alex sekarang manjanya luar biasa.


"Mas..." Ayna mulai merapatkan giginya. "Aku nggak usah masak."


"Iya iya... Aku duduk." Sebelum duduk di kursi meja makan, Alex menkecup pipi sang istri sejenak.


Alex menyanggah dagu dengan tangannya. Pria itu terus mengekori pergerakan sang istri.


Ayna akan membuatkannya masakan spesial.


"Silahkan dimakan."


Tak lama Ayna menyajikan masakannya dalam piring yang diletak di atas meja. Alex menghirup aroma masakan sang istri.


"Sayang, aku lapar..." Rengek Alex menyodorkan piring kosong, agar Ayna segera menyajikannya.


"Ini, Mas." Ayna kembali menyerahkan piring yang sudah penuh dengan masakannya.


"Terima kasih, cintaku."


Ayna jadi tersenyum sesaat.


Mereka pun sama-sama melahap makan malamnya.


"Papa sama Mama, kenapa belum pulang ya Mas?" Tanya Ayna melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam.


"Mereka tak akan pulang malam ini. Mereka sedang berbulan madu." Jawab Alex santai.


Ayna merasa aneh. Kedua orang tua Alex sudah lama menikah, anaknya pun sudah sebesar ini. Masa masih bulan madu.


"Kamu maklum saja ya. Mereka itu lagi puber kedua. Jadi ya gitulah..." Jelas Alex yang sudah terbiasa melihat kedua orang tuanya berpergian.


"Tapi... Mas." Mata Ayna melihat Alex serius.


"Kenapa?"


"Kalau nanti Mas Alex punya adik gimana? Pasti Mas Alex nggak akan disayang lagi." Ledek Ayna mengingat Alex anak semata wayang.


"Kamu ini ya." Alex menarik pipi Ayna. "Kalau Papa dan Mama punya anak lagi, sepertinya lebih cocok jadi cucu bukan anak."


"Mas inilah, kalau ada Mama pasti Mama akan memarahi Mas Alex."


Untung tak ada Mama, jika ada sudah pasti akan ada perdebatan lagi.


"Maaf Pak, Bu. Ada tamu yang datang." Ucap seorang pekerja yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


"Siapa Pak?" Tanya Alex.


"Ada perempuan 2 orang. Namanya Mona dan Aca." Jelas pekerja itu.


"Mas, mau apa mereka?" Tanya Ayna dengan wajah bingung. Kenapa mereka bisa tahu rumah orang tua Alex.


"Apa kita usir saja mereka?" Tanya Alex melihat Ayna.


"Tadi pesannya, mereka datang untuk meminta maaf pada Bu Ayna." Pekerja itu menyampaikan pesan tamu itu.


Alex dan Ayna saling melihat.


"Suruh mereka menunggu di ruang tamu." Ucap Alex segera.


Pekerja itu mengangguk dan segera berlalu.


"Kamu di kamar saja. Biar aku yang menemui mereka." Alex menyuruh Ayna untuk menunggu di kamar mereka.


Rumah ini ada securitynya, jadi mana mungkin kedua wanita itu melakukan sesuatu. Lagi pula Alex seorang pria, ia juga bisa berkelahi jika terdesak.


"Sama-sama saja, Mas. Kita temui mereka." Ayna ingin ikut. Ia juga ingin damai, karena mereka datang untuk meminta maaf.


"Nggak usah. Kamu di kamar saja, biar aku saja." Alex tak mau Ayna bertemu dengan kedua wanita itu.


"Aku ingin menyelesaikan masalah dengan mereka, Mas. Lagian Mas Alex juga ada di sampingku." Bujuk Ayna.


Alex diam. Lagi-lagi ia luluh di bujuk Ayna.


"Mon, ini rumahnya? orang kaya dong, beruntung sekali wanita itu." Aca mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah. Ia sangat takjub dengan desain interior rumah itu. Sangat mewah dan seperti berada dalam istana.


"Jangan norak." Dengus Mona, Aca seperti tah berasal dari peradaban mana. Tak pernah melihat rumah mewah saja.


Mona dan Aca perlahan tersenyum saat yang ditunggu datang. Dengan berpakain santai, Alex tampak keren dan terkesan cool.


'Wow... Playboy ini. Pasti banyak simpanannya. Aku mau juga jadi simpanannya.' Aca bermonolog dalam hati, saat melihat Alex.


"Ada apa kalian kemari?" Tanya Alex dengan dinginnya. Pria itu duduk di samping Ayna.


Aca dan Mona saling senggol-senggolan siku. Agar salah satu dari mereka menjawab.


"Ja-jadi begini." Aca pun mengambil alih, walau agak sedikit gugup.


"Kedatangan kami kemari, ingin meminta maaf pada Ayna. Kami tahu yang kami lakukan selama ini salah dan menyakiti hati. Tolong maafkan kami, Ay. Kami benar-benar sangat menyesal..." Aca menyampaikan permintaan maaf sambil berderai air mata.


"Benar yang dikatakan Aca, Ay. Kami benar-benar minta maaf. Kami salah selama ini." Mona ikut menimpali.


Alex dan Ayna hanya berdiam melihat mereka.

__ADS_1


"Ayna, tolong maafkan aku. Aku ingin kita berdamai dan kembali berteman seperti dulu. Ayna... Tolong maafkan aku." Aca menghampiri Ayna dan bersimpuh sambil menangis kencang.


Ayna merasa tak nyaman kakinya dipegang seperti itu.


"Aca, tolong jangan begini." Ayna memegang tangan Aca, membawa Aca duduk di sampingnya. Aca tidak boleh sampai bersimpuh di kakinya.


"Aku sudah memaafkanmu dan memaafkan kalian berdua."


"Ayna... Terima kasih. Kamu benar-benar orang baik." Aca langsung memeluk Ayna, sambil tersenyum senang.


"Sudah cukup." Alex segera merelai pelukan Aca dari istrinya.


Aca bangkit dan kembali duduk di samping Mona.


"Ay, kami sangat berterima kasih. Kamu sangat baik. Aku sangat menyesal sempat menyakitimu." Mona kembali berucap.


Ayna diam dan terharu melihat itu. Aca dan Mona benar-benar tulus meminta maaf padanya. Ia berharap ini jadi awal baik bagi mereka.


"Ayna, jadi kau benar-benar memaafkan kami?" Tanya Aca memastikan.


Ayna mengangguk pelan. Sementara Alex hanya diam melihat istrinya yang begitu baik dan mudah memaafkan orang yang telah menyakitinya.


"Ay, sekarang aku dan Mona sedang menganggur. Aku tak diangkat jadi karyawan di sana. Dan Mona juga sudah dipecat dari pekerjaannya sekarang." Aca mulai menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Benar, Ay. Bisakah kamu membantu kami, agar aku dapat kembali bekerja dan Aca juga diterima di sana?" Mona memelas pada Ayna. Ia tak memperdulikan tatapan Alex. Sekarang yang terpenting Ayna dapat membantunya.


Ayna pasti akan membujuk Alex. Mengingat saat mereka masih di sel, Aynalah yang membujuk agar Alex menarik gugatannya. Pasti Ayna akan melakukan hal seperti itu lagi, dengan membujuk Alex agar menerima mereka bekerja di sana.


Alex masih diam saja. Sejujurnya ia tak mau kedua orang itu berada di sekitar dirinya dan Ayna. Tapi jika ia menolak mereka mentah-mentah, Ayna akan membela mereka. Istrinya itu kadang berpikiran berseberangan dengannya.


"Kalian bisa mencoba melamar saja. Ikutin saja prosedurnya. Perusahaan itu pasti akan menerima pelamar yang sesuai kriteria mereka." Jelas Ayna segera sambil melihat Alex.


Alex ikut mengangguk pelan. Terserah Ayna sajalah.


Mona dan Aca terdiam. Bukan begini maksudnya. Mereka menginginkan masuk lewat jalur koneksi. Kalau sesuai prosedur, sama saja mereka harus bersaing dengan pelamar lainnya.


"Ay, tapi kamu bantu jugalah kami." Ujar Aca memohon.


Ayna mengangguk pelan.


Setelah mengobrol sejenak, Aca dan Mona pun pamit pulang.


"Menurutmu apa kita bakal diterima?" Tanya Mona di perjalanan pulang. Ia teringat saat dulu ia masuk lewat jalur sesuia prosedur, sulitnya minta ampun. Bahkan sampai gagal berkali-kali.


"Wanita itu sengaja begitu, biar tidak ada nepotisme. Kau tenang saja, dia pasti membantu kita."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2