
'Dasar!!!'
Arga meremas tangannya geram. Wajah pria itu kini sudah merah menahan amarah yang sudah bergejolak.
Dia tadi baru saja dipanggil ke ruang atasan. Dan di sana ia diberi tahu, akan dipindah tugaskan ke luar negeri selama 2 tahun.
Pria itu mendengus kesal. Itu semua pasti rencana pria penikung, yang menginginkannya pergi jauh dari kehidupan Ayna.
Arga menganggap Alex adalah pria penikung yang sangat pengecut. Yang jika tak senang pada seseorang, lalu dengan kedudukannya, mencampakkan orang tersebut ke tempat yang jauh. Alex sudah melakukan hal itu pada mantan istrinya dan Mona. Dan sekarang... giliran dirinya yang dicampakkan pria itu.
'Tidak semudah itu, Alex.' Arga menunjukkan seringai.
'Kau kira aku peduli pada pekerjaan ini.' Arga bangkit dari duduknya dan keluar ruangannya.
Melihat sikap Alex sekarang, Arga merasa harus membuat perhitungan dengan pria penikung itu. Ia juga sudah membayangkan, jika Ayna pasti tersiksa dengan suami dadakan yang pemaksa itu. Tapi karena Ayna takut padanya, wanita itu terlihat seolah baik-baik saja. Padahal Ayna hidup dalam penderitaan.
Begitulah pikiran Arga sekarang.
Arga melajukan mobil dengan kecepatan kencang membelah jalanan. Cara ia mengemudikan mobil, sangat amat tidak baik dan sangat membahayakan nyawa orang lain. Arga sangat ugal-ugalan.
Arga menepikan mobil di sebuah basemen. Ia segera turun dan menutup pintu mobil dengan kencang. Ia melebarkan langkah, berjalan menuju lobi perusahaan tersebut.
"Suruh Alex segera menemuiku." Pinta Arga pada resepsionis. Tanpa berbasa basi ia mengatakan tujuannya datang ke tempat itu.
"A-alex, apakah maksud anda pak Alex?" Resepsionis itu memastikan kembali.
"Cepat katakan pada si Alex itu, jika Arga ingin menemuinya." Arga menekankan ucapannya.
Resepsionis menatap Arga heran. Siapa pria ini yang bersikap tidak sopan pada atasan mereka? Kedatangannya juga seperti orang yang mau mengajak bergelut.
"Cepat!" Arga menaikkan intonasi suaranya. Ia kesal pada resepsionis itu yang malah melamun, bukannya segera memberitahu Alex atas kedatangannya.
Arga sudah tidak sabar bertemu pria penikung yang bergitu sangat ia benci.
Tak lama Arga sampai di sebuah ruangan. Ia menatap sinis setiap sudut ruangan itu. Terlalu mewah ruangan di mana dia berada sekarang.
"Ada apa?" Tanya Alex dengan nada datar, bahkan suara bariton itu juga terdengar datar dan dingin. Ia duduk di kursi kebesarannya.
"Kau hanya beruntung. Terlahir dari keluarga yang kaya raya." Cibir Arga menghina Alex. Jika bukan karena orang tua yang kaya. Mana mungkin Alex memiliki semua ini.
__ADS_1
Alex menyerngitkan alisnya. Mungkin Arga cemburu, karena tidak seberuntung dirinya. Walau orang tuanya kaya raya, jika ia tidak belajar untuk mengembangkan keberuntungannya. Kekayaan yang setinggi gunung akan habis bukan.
"Apa kau kira Ayna akan tetap di sisimu, jika kau tak mempunyai semua ini?" Tanya Arga dengan nada setengah mengejek.
Alex jadi tertawa sinis mendengar itu. Arga membawa-bawa istrinya lagi. Seolah mengatakan Ayna di sisinya, hanya karena apa yang ia miliki.
"Aku tak mau berandai-andai. Yang aku tahu sekarang, Ayna bersamaku." Tegas Alex.
Jawaban Alex cukup membungkam pertanyaan Arga. Benar, saat ini Ayna bersamanya. Wanita itu memilih bersama Alex.
"Kau sudah memikili segalanya, lepaskanlah Ayna. Apa berharganya dia?"
"Dia sangat berharga bagiku." Kepala Alex rasanya sudah mendidih. Bagi Alex, istrinya itu begitu sangat berharga.
"Siapa kau berani memerintahku?" Timpal Alex dengan tatapan mata yang semakin tajam. Lama-lama ia ingin menghajar pria itu.
Arga tertawa sejenak. "Dan kau juga siapa? membuatku harus menurutimu. Apa kau kira aku mau dicampakkan ke sana?"
"Pergilah, bukankah itu lebih baik. Dari pada tetap berada di sini dan mengganggu istriku."
Mencampakkan Arga jauh pergi adalah hal terbaik sekarang. Mudah saja bagi Alex untuk menjebloskan Arga ke jeruji besi. Tapi pasti Ayna akan menolaknya. Dengan banyak hal, salah satunya mungkin karena kasihan pada keluarga Arga.
Alex bangkit dan menghampiri Arga. Emosinya kian memuncak. Dengan cepat ia memberikan bogem mentah kepada rivalnya itu berkali-kali.
"Apa kau pria yang tidak punya harga diri? Dia sudah melupakanmu. Seharusnya kau pergi dari kehidupannya."
Arga mengusap sudut bibirnya yang berdarah. "Seharusnya kau yang pergi. Ayna masih mencintaiku."
Arga membalas pukulan Alex. "Ayna tak mungkin melupakanku, hanya demi pria sepertimu."
Keduanya pun saling berkelahi. Saling adu tonjokan satu sama lain.
Jo yang baru masuk terkejut dan segera melerai keduanya. Ia juga memanggil security kantor.
"Lihat saja, cepat atau lambat Ayna akan menjadi milikku." Arga mengukir senyum, saat security menggeretnya keluar dari ruangan itu.
"Sialan." Umpat Alex kesal. "Jo, buat tuntutan segera. Aku akan menjebloskannya ke penjara hari ini juga." Alex benar-benar sudah muak. Arga terus menginginkan istrinya. Ia takut jika Arga melakukan sesuatu pada Ayna, saat tak dalam pengawasannya.
Alex tak peduli jika Ayna nanti akan merasa kasihan, Arga berada di jeruji besi. Ia ingat, Ayna juga ingin Arga di penjara saja jika menemuinya lagi.
__ADS_1
Arga menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil. Ia melihat dari spion wajahnya yang sudah babak belur.
"Hancur wajah tampanku. Ayna bisa-bisa tidak mau padaku. Alex sialan!!!"
###
"Terima kasih, Pak. Bapak langsung pulang saja. Aku akan pulang dengan mas Alex nanti sore." Ucap Ayna yang diangguki sang supir.
Ayna turun dari mobil. Wajahnya tersenyum manis melihat kotak makanan. Ia sudah memasak sesuatu yang istimewa untuk Alex tercinta.
'Mas Alex, pasti terkejut saat melihatku.' Ayna tak mengatakan akan ke kantor Alex siang ini. Ia akan memberi kejutan pada sang suami.
'Ayna...'
Dari jauh seorang pria melihat wanita yang tampak senang itu. Ia pun segera turun dan menghampirinya.
"Ay..."
Wajah Ayna mendadak pucat pasih saat melihat Arga. Ia melihat sekitar basemen yang sepi. Hanya ada dia dan pria itu.
"A-ada apa?" Tanya Ayna gugup. Ia menepis tangan Arga yang memegangnya.
"Ay, jangan takut. Ayo... Kita pergi dari sini." Ajak Arga menarik tangan Ayna. Wanita itu sepertinya sedang sendiri. Ini kesempatannya untuk membawa pergi Ayna.
"Lepas... Lepaskan aku." Ayna memberontak. "To-"
Saat akan meminta tolong, dengan cepat Arga memukul tengkuk Ayna. Membuat Ayna pingsan di tempat. Arga pun segera mengendong Ayna, masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu tenang saja. Aku akan menyelamatkanmu darinya. Kita akan pergi jauh di tempat yang baru. Dan hidup bersama keluarga kecil kita di sana.." Ucap Arga sambil memasangkan sabuk pengaman Ayna.
"Aku mendapatkanmu lagi, Ay.!!!" Sorak Arga gembira. Ia pun segera melajukan mobilnya meninggalkan basemen tersebut.
'Ayo... Kita mulai semuanya dari awal, Ay.'
.
.
.
__ADS_1