SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 52 - FLASHBACK


__ADS_3

Beberapa bulan yang lalu...


Ayna berjalan keluar Mall. Ia tersenyum pada sebuah kotak yang telah ia beli dari dalam. Wanita itu segera menyimpan dalam tas, ketika ponselnya berbunyi.


"Iya, Mas. Sudah di mana?"


...


"Ok... aku tunggu di dekat pintu masuk." Ucap Ayna, lalu tak lama memutuskan panggilan itu.


"Ayna..." Ucap seseorang menepuk pundaknya.


Ayna menoleh dan melihat wajah orang yang menepuk pundaknya.


"Aca..." Ucap Ayna melihat Aca, teman kampusnya.


"Ternyata kau benar Ayna. Tadi aku takut salah orang." Ucap Aca senang bertemu teman lama.


"Kau ngapain di sini?" Tanya Aca kemudian.


"Lagi nunggu pacarku." Jawab Ayna.


Aca mengangguk.


"Kau?" Balik Ayna bertanya.


"Sama, Ay." Jawabnya.


Sambil menunggu orang yang ditunggu, mereka pun mengobrol.


"Kau kerja di mana, Ay?" Tanya Aca.


"Di Berjaya Grup."


"Ada lowongan nggak di sana? aku lagi ngangur nih, Ay." Ucap Aca sambil tertawa.


"Nggak tahu juga sih, Ca. Cuma nanti coba ku lihat lagi. Kirim aku nomormu, nanti kalau ada lowongan, aku kabari." Ucap Ayna segera.


"Benarkah. Ayna memang teman paling baik dan tidak sombong." Aca pun memberikan nomor ponselnya.


"Kalau ada nanti aku kabari ya, Ca. Cuma kau jangan berharap juga." Ucap Ayna tak mau jika Aca berharap.


"Iya iya, Ay." Aca mengerti.


"Mas Arga..." Ayna tersenyum sambil melambaikan tangan melihat Arga yang berada tak jauh darinya.


"Maaf, Ay. Kamu sudah lama menunggu?" Tanya Arga, tadi Ayna menolak dijemput ke rumah.


"Nggak kok. Oh ya... Mas, kenali ini Aca, teman sekampus dulu." Ucap Ayna memperkenalkan Arga pada Aca.


"Ca... ini Arga pacarku." Ucap Ayna kembali.


"Aku Aca, teman kampusnya Ayna." Aca pun mengulurkan tangannya.


Tapi... uluran tangan itu tak bersambut, Arga hanya menganggukkan kepala. Aca yang malu pun segera menarik tangannya.


"Ayo, Ay. Kita masuk." Ajak Arga segera.


"Ca... kami pergi dulu ya." Pamit Ayna sambil melambaikan tangan.


"Iya... hati-hati. Jangan lupa nanti kabari aku."


"Ok."


Tak berapa lama Ayna dan Arga berada di sebuah kafe. Mereka menikmati menu yang dihidangkan.


"Mas, ada lowongan nggak?" Tanya Ayna disela-sela makannya.

__ADS_1


"Lowongan? untuk siapa?" Tanya Arga sambil melahap makanannya.


"Itu untuk temanku tadi, si Aca. Ia lagi cari kerjaan." Jelas Ayna.


"Hmm..." Arga tampak berpikir. "Nggak tahu." Jawab Arga segera.


"Besok aku lihatlah ada lowongan tidak." Ucap Ayna, ia ingin membantu sang teman.


"Biar saja teman kamu cari sendiri."


"Kan aku cuma membantu memberi info saja, mana tahu ada lowongan di kantor kita, Mas. Bisa masuk atau tidaknya itu tergantung dialah."


"Iya... iya... Habiskan makananmu." Arga menggoyang-goyangkan dagu Ayna.


"Oh ya, aku punya sesuatu untuk Mas Arga."


"Apa itu?" Tanya Arga penasaran melihat Ayna merongoh tasnya.


"Ini..." Ia mengeluarkan kotak dari tas. "Semoga suka ya, Mas."


Arga pun membuka kotak itu. Ia tersenyum melihat isinya, sebuah jam tangan.


Ayna memakaikan jam tangan itu pada Arga.


"Terima kasih, Ay." Ucap Arga senang, Ayna memberikannya sebuah jam tangan. Selama ini ia tak pernah suka memakai jam tangan. Tapi, karena pemberian sang kekasih, ia akan selalu memakainya.


"Cocok, Mas. Mas Argaku jadi makin tampan." Puji Ayna.


"Kamu ini ada saja. Apa jam ini ada peletnya, hingga saat dipakai bisa menjadi tampan." Arga menggelengkan kepala.


"Memang jam tangan ini sudah aku kasih pelet, Mas." Ucap Ayna dengan wajah serius.


"Pelet? kamu jangan becanda." Ucap Arga tak percaya. Masa Ayna memakai pelet padanya.


"Iya, aku kasih pelet... pelet cintaku." Ucap Ayna melebarkan senyumnya.


###


Beberapa hari kemudian, Aca menelepon Ayna.


"Ayna..." Pekik Aca ketika panggilannya tersambung.


"Kenapa, Ca?" Tanya Ayna dengan nada bingung. Aca tiba-tiba meneleponnya sambil menjerit.


"Aku diterima. Kita akan satu kantor."


"Wah, selamat ya Ca."


"Terima kasih, Ay. Nanti gajian aku traktir kamu."


"Siap-siap. Aku tunggu lho." Ucap Ayna sambil naik ke tempat tidurnya.


"Kamu kerja di bagian apa?" Tanya Ayna penasaran. Karena info lowongan yang pernah diberikannya, banyak bagian yang kosong.


"Tadinya aku melamar jadi staff pemasaran, tapi aku ditawari jadi sekretaris lho, Ay. Karena gajinya lebih banyak, aku terimalah, Ay." Aca menceritakan sambil tertawa. Ia tak munafik, jika karena uang.


"Selamat, Ca." Ayna ikut senang. "Kamu semangat kerjanya, aku tunggu traktirannya."


"Hehe... Ok, ok."


###


Aca menghembuskan nafas pelan saat wakil manajer membawanya ke sebuah ruangan. Ya, ruangan manajer.


"Pak Arga, ini sekretaris baru yang menggantikan sekretaris lama anda."


'Dia? pacarnya Ayna, kan?' Aca kaget melihat Manajer itu yang ternyata Arga.

__ADS_1


"Nama saya Aca Anindita, saya yang akan menjadi sekretaris Bapak. Mohon bimbingannya." Aca menundukkan kelapa sejenak.


Wakil Manajer pun menjelaskan apa-apa saja pekerjaannya. Ia mendengarkan sambil mencatat bagian yang dirasa penting.


Hari pun berlalu, Aca bekerja secara profesional sebagai sekretaris dari pria dingin yang irit bicara. Arga hanya berbicara saat dirasa penting dan itu langsung ke intinya.


Aca masuk ke ruangan Arga sambil membawa beberapa berkas.


"Pak, ini..." Aca memegang kepala, tiba-tiba kepalanya pusing. Berkas yang di tangannya berjatuhan.


"Kamu nggak apa?" Tanya Arga menahan tubuh Aca yang akan terjatuh.


"Maaf, Pak. Sa-saya nggak apa-apa." Ucap Aca berusaha untuk berdiri.


Arga memapah Aca ke sofa.


"Apa kamu sudah sarapan?" Tanya Arga setelah mendudukkan Aca di sofa.


Aca menggeleng.


"Sebelum berangkat ke kantor sarapan dulu. Menyusahkan saja."


Aca menundukkan kepala.


"Makanlah." Arga menyerahkan bekal makan pada Aca.


"Ng-nggak usah, Pak. Saya akan makan nan-"


"Makan saja sekarang. Kerjaan hari ini cukup banyak, saya tidak mau sampai lembur."


"Baik, Pak." Aca berdiri sambil membawa bekal makanan itu.


"Mau ke mana?" Tanya Arga melihat Aca akan pergi.


"Ke-keluar Pak. Saya akan memakan ini di meja saya."


"Habiskan di sini saja. Apa kamu mau kena peringatan karena makan saat jam bekerja?"


Aca menggeleng dan kembali duduk. Ia pun membuka bekal makan itu.


"Pak A-Arga, kalau ini saya makan. Bagaimana makan siang Bapak?" Aca merasa tak nyaman.


"Saya bisa makan di luar."


Aca menghembuskan nafas, semua ucapan Arga bernada begitu dingin.


'Kenapa Ayna bisa menyukai pria dingin ini?'


Saat makan Aca menatap Arga yang kembali melanjutkan pekerjaannya.


Pria itu tampak sibuk dan begitu sangat fokus.


Mata Arga melihat ke Aca, dari tadi ia merasa tak nyaman, seperti ada orang yang melihatinya.


Aca segera mengalihkan pandangannya, saat mata itu melihat ke arahnya.


Deg


Deg


Deg


Jantung Aca berdebar kencang, seperti orang yang tertangkap basah. Ketahuan menatap orang yang ditatap.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2