
Selama menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi Ayna kini mulai membaik. Bagaimana tidak... Mama dan Bunda selalu menjenguk dirinya. Mereka membawakan Ayna banyak makanan yang enak dan bergizi.
Lalu suaminya selalu ontime menyuruhnya meminum obat yang diberikan dokter. Setiap ia akan menolak, Alex pasti mengatakan hal yang membuat Ayna jadi berpikir dua kali.
"Apa kamu mau anak kita terus-terusan berada di rumah sakit?"
Hari ini Ayna sudah diperbolehkan pulang. Ia pulang bersama Alex dan kedua orang tua Ayna. Sementara orang tua Alex menunggu di rumah mereka saja.
Selama perjalanan, Alex yang mengemudikan mobil. Bunda duduk di sampingnya.
Sementara sang istri, berada di belakang bersama Ayah.
Alex melirik dari spion. Istrinya itu begitu sangat manja pada Ayahnya. Memeluk pria paruh baya itu begitu erat. Dan Ayah juga mengusap-ngusap kepala sang putri dengan sayang.
Alex jadi mengulum senyum, melihat interaksi Ayah dan anak yang begitu hangat. Apa dia juga akan seperti itu, jika nanti sudah memiliki anak perempuan?
"Jadi nggak sabar!!!" Ucap Alex tiba-tiba dengan wajah bahagia.
Alex segera menkondisikan kembali wajahnya, melihat tatapan bingung dari mereka.
'Mikir apa sih Mas Alex?' Ayna jadi menggelengkan kepala.
"Jadi nggak sabar apa, Lex?" Tanya Bunda bingung.
"Hah... Itu, Bun. I-itu..." Alex bingung sendiri untuk merangkai alasan. Apalagi saat melihat tatapan Ayah yang datar, membuatnya jadi mendadak gugup.
"Itu... Alex sudah nggak sabar sampai rumah. Kasihan Ayna, Bun. Dia harus segera istirahat." Alasan pria tampan itu.
Bunda mengangguk mengiyakan. Putrinya baru keluar dari rumah sakit, jadi harus beristirahat.
Berbeda dengan Ayna yang jadi tersenyum samar. Ada saja yang dijawab Mas Alexnya. Suaminya itu sangat pandai membuat alasan.
Tak lama, mobil Alex berhenti di teras rumah. Mereka telah sampai di rumah. Ayna dibantu Ayah dan Bunda keluar dari mobil. Mereka memegangi tubuh Ayna yang masih lemah.
Alex mengeluarkan barang-barang di bagasi mobilnya, dan menyerahkan pada pekerja rumah.
"Sayang, kamar kita sudah aku pindahkan ke lantai satu. Jadi kamu nggak perlu lagi naik turun tangga." Alex memberi tahu saat mereka sudah memasuki rumah.
Ayna sedang mengandung anaknya sekarang. Istrinya itu tidak boleh kecapekan, jika selalu naik turun tangga.
"Terima kasih, Mas." Hati Ayna menghangat. Suaminya benar-benar begitu perhatian.
Bunda dan Ayah tersenyum. Menantunya begitu sangat menyayangi putri mereka.
Bunda juga takjub saat memasuki kamar yang Ayna tempati. Kamar ini bahkan lebih besar dari rumah mereka. Alex memberikan kehidupan yang sangat layak untuk putri mereka.
Selang berapa waktu, Bunda dan Ayah pamit pulang. Hari juga sudah malam.
"Bunda pulang ya, Nak. Nanti kami akan sering-sering kemari."
__ADS_1
"Iya, Bun. Hati-hati di jalan.."
"Alex... Bunda sama Ayah titip Ayna, ya. Jika selama masa kehamilan Ayna banyak maunya, kamu harus memaklumi dia, ya." Bunda mengingatkan.
"Siap, Bun. Apapun yang Ayna mau, pasti akan kuturuti." Jawab Alex penuh semangat.
Ayna berpelukan sejenak dengan kedua orang tuanya.
###
"Halo... kesayangannya Papa."
"Kamu lagi apa di sana, sayang...?"
"Tadi saat makan, kamu kenyangkan?"
"Kamu mau makan apa besok? biar Papa belikan...!"
Ayna terbangun dari tidurnya karena suara Alex. Ia melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 3 pagi.
Wanita itu pun melihat sang suami yang sedang asyik mengobrol, dengan anak dalam perutnya. Tah apa yang Alex katakan pada janin yang masih dalam proses itu.
"Mas Alex..." Panggil Ayna pelan. Beberapa malam ini ia tak bisa tidur pulas. Setiap malam Alex selalu mengobrol dengan perutnya.
Alex menoleh, ternyata Ayna sudah bangun.
"Mama sudah bangun, Nak." Alex pun segera memberitahu sang anak.
"Mas Alex, kenapa nggak tidur sih?" Tanya Ayna sambil mengucek mata. Semenjak hamil, Alex betah begadang.
"Aku nggak bisa tidur, sayang. Jadi aku mengobrol dengan anak kita. Dia bilang dia menyayangi kita, lho." Alex memberitahu hasil obrolan dengan sang anak.
Ayna menatap Alex heran. Dari mana Alex tahu anak mereka mengatakan seperti itu. Suaminya ini kebanyakan halu mungkin ya.
"Mas, apa mau anak kita lahir nanti matanya seperti mata panda?" Tanya Ayna. Ia harus merangkai alasan, agar suaminya nggak tiap malam ngomong dengan perutnya.
"Mata panda? Maksudnya gimana?" Alex mulai bingung.
"Kalau setiap malam Mas Alex ajak anak kita ngobrol. Dia jadi harus begadang lho, Mas. Matanya bisa hitam. Begadang itu tak baik buat kesehatan. Anak kita masih kecil." Ayna menyampaikan pikirannya.
"Oh iya, ya." Alex membenarkan ucapan Ayna.
"Anak Papa, maafkan ya Papamu ini yang nggak tahu. Kamu sekarang tidur ya, sayang. Jangan lupa berdoa biar tidak mimpi buruk. Papa sayang banget sama kamu." Alex mengelus perut Ayna, lalu memberikan kecupan-kecupan sayang.
"Mas bilang juga, aku juga sangat menyayanginya." Ayna menitip pesan agar Alex juga menyampaikan pada anaknya.
"Mama juga menyayangimu. Papa dan Mama sa...ngat menyayangi kamu."
Ayna ingin sekali tertawa melihat tingkah suami tampannya itu. Alex benar-benar sangat menyayangi anak mereka.
__ADS_1
"Mas, aku haus." Ayna memegang lehernya.
"Tunggu sampai pagi ya."
"Kenapa tunggu sampai pagi, Mas?" Wanita itu menatap bingung.
"Anak kita baru tidur. Kalau kamu minum sekarang, dia akan terbangun untuk minum juga."
"Mas Alex!!!" Ayna jadi kesal, Alex malah meledeknya.
"Sebentar ya sayangku. Aku ke dapur dulu." Alex bergegas akan keluar kamar.
"Ikut." Ayna segera menahan Alex.
Alex membantu Ayna untuk berdiri lalu mereka berjalan keluar kamar.
Alex menarik kursi meja makan, mempersilahkan Ayna untuk duduk. Ia lalu mengambil gelas dan mengisi dengan air hangat.
"Minumnya pelan-pelan. Masih agak panas." Alex menyodorkan gelas itu.
"Terima kasih Papa Alex." Ayna melebarkan senyum.
"Sama-sama Mama Ayna." Alex merangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya. Lalu menkecup sejenak.
"Aku mencintaimu, sayang. Terima kasih untuk semuanya. Aku sangat bahagia bersamamu." Ungkap Alex dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Aku juga sangat mencintai Mas Alex. Walaupun agak-agak..."
"Agak apa?" Alex jadi penasaran.
"Nggak jadi, Mas." Ayna menggeleng sambil tertawa.
"Sayang, katakan agak apa?" Alex memaksa. Ia jadi penasaran.
"Nggak, Mas. Lupakan saja."
"Ayo katakan. Kamu mau rahasia-rahasiaan sama suamimu." Tiba-tiba Alex berkata dengan nada datar. Matanya juga sangat tajam.
Ayna menggeleng cepat.
"Katakan... Agak apa?" Alex tetap memaksa.
"Agak... me-sum." Jawab Ayna jujur.
Pria itu malah tertawa. "Sayang... Kalau nggak me-sum, aku nggak bisa buntingi kamu."
"Bunting-bunting-bunting, kucing kali bunting." Wajah Ayna pun jadi cemberut.
.
__ADS_1
.
.