SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 41 - AKU BAHAGIA


__ADS_3

Alex melirik Ayna yang memasukkan pakaian mereka ke dalam koper. Mereka akan mempercepat tinggal di rumah orang tua Alex, tak usah menunggu sampai besok pagi. Alex malas jika nanti masa lalu masa lalu mereka akan bermuncul lagi.


"Ma, jangan bawa pakaian Papa banyak-banyak." Pesan Alex.


Ayna mendengus kesal dan pura-pura tak mendengar. Ia memasukkan pakaian mereka ke dalam koper.


"Ma..." Panggil Alex.


Telinga Ayna terasa geli mendengar panggilan seperti itu. Rasanya juga tidak nyaman.


"Kaca mata Mama besar juga ya." Ucap Alex menahan tawanya. Ia memegang kaca mata gantung berbusa berwarna merah. Otaknya mulai berkelana. Ayna pasti sangat seksi memakainya.


"Baru beli ini ya, Ma? Papa kok belum pernah lihat."


Ayna masih sibuk dan mengacuhkan Alex.


"Pakai Ma. Papa mau lihat Mama pakai ini sekarang. Pasti sangat-sangat wow." Alex pun menunjukkan barang tersebut pada istrinya.


"Mas Alex... kenapa pegang-pegang itu, sih?!" Pekik Ayna merampas kaca mata gantung dari tangan Alex. Ia tak tahu jika dari tadi ternyata Alex membahas barang ini, toh. Membuat malu saja.


"Itu busanya tebal lho-"


"Apaan sih Mas?!" Ayna menutup mulut Alex, Ayna benar-benar malu sekarang. Ia pun segera memasukkan benda tersebut ke dalam koper.


"Mama-Mama... kenapa masih malu sih sama Papa?" Alex tertawa puas melihat Ayna membuang wajah. Istrinya itu segera menggeret koper keluar kamar.


"Mama... sini kopernya biar Papa bawakan." Alex berlari mengejar sang istri.


"Biar aku saja, Mas" Ayna menolak.


"Ayo Ma... kita meluncur." Alex tak peduli dan tetap meraih koper Ayna. Ia berjalan menggeret koper sambil menggenggam tangan sang istri.


"Mama Ayna Mama Ayna Mama Ayna... Papa Alex mencintaimu..." Alex bersenandung-nandung.


Ayna hanya bisa menghembus nafas kesal, melihat tingkah Alex yang diluar prediksi.


Alex membuka bagasi dan memasukkan koper. Tangannya masih setia menggenggam tangan wanita di sampingnya.


"Mas Alex..." Pekik Ayna karena tubuhnya didorong ke badan mobil.


"Sayang, muka kamu nggak bisa senyum apa?" Alex sengaja menekan tubuh Ayna.


Ayna pun memberikan senyum terpaksa.


"Mama..." Alex mulai mendekatkan wajah mereka.


"Apaan sih Mas?!" Ayna mendorong dada Alex. Melihat sekitarnya, takut tiba-tiba ada orang yang melihat.


"Cium Papa dulu, Ma." Alex tak peduli sekitarnya. Ia masih menahan tubuh Ayna.


Ayna menahan kesalnya, Alex jika tak dituruti, sudah dipastikan mereka tak akan pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Cup


Cup


"Sudah..." Ayna menkecup pipi kanan dan kiri Alex.


Alex malah menggeleng. "Belum, Ma."


"Mas, ini diluar lho. Kita akan melakukan lebih dari ini saat berada di dalam kamar." Bisik Ayna dengan nada genit dan manja. Pria itu harus segera dibujuk. Suaminya itu tak pernah peduli sekitarnya.


"Ok. Nanti malam kita lembur lagi." Alex tersenyum bahagia, melepaskan tangannya dari tubuh Ayna.


Ayna menghela nafas, akhirnya ia bisa bebas sejenak.


"Silahkan masuk, Ma." Pria itu membukakan pintu mobil.


Ayna menggelengkan kepala melihat tingkah Alex, ia akan masuk ke dalam mobil.


"Ay... tunggu."


Wajah senyum Alex mendadak luntur melihat orang itu.


"Mau apa kau?" Alex akan segera menghampiri Arga, tapi istrinya segera menahannya.


"Ay, aku.." Ucap Arga.


"Apa kau tak mengerti ucapanku?" Tanya Alex yang sudah memasang wajah emosi.


"Aku tak bicara denganmu. Urusanku dengan Ayna." Ucap Arga melihat Alex dengan tatapan benci, lalu menatap Ayna sendu.


"Mas..." Ayna menggelengkan kepala dan menahan suaminya. Alex tampak begitu emosi.


"Ada yang bisa kubantu?" Tanya Ayna, nada bicaranya begitu dingin.


"Ay... apa kamu bahagia dengan pernikahanmu sekarang?" Tanya Arga bergantian melihat keduanya.


"Ya... aku bahagia dan sangat bahagia dengan pernikahanku sekarang." Jawab Ayna jujur.


"Jangan membohongiku, Ay. Jelas-jelas kamu bilang akan mencintaiku. Mana Ay? kenapa kamu begitu tega membohongiku?" Arga menaikkan suaranya.


Alex tak senang mendengarnya, ia pun segera memberikan bogem mentah pada Arga.


"Apa kau tak mengerti juga? kenapa tetap memaksanya?" Alex meluapkan kemarahannya. Ia menghajar Arga tanpa ampun.


Arga tak sempat membalas, suami dadakan Ayna itu tak memberinya kesempatan untuk membalas sama sekali.


"Mas Alex, sudahlah." Ayna berusaha menahan Alex.


"Biarkan Papa memberinya pelajaran, Ma. Dia harus sadar jika Mama sudah tak mencintainya lagi."


'Menjijikkan.' Batin Arga mendengar panggilan yang membuatnya marah.

__ADS_1


Alex akan menghajar lagi, tapi Ayna segera menahannya. Kini Arga sudah babak belur, jika dibiarkan Alex bisa saja menghabisi mantannya itu. Arga bisa segera menghadap yang maha kuasa dan Alex bisa masuk penjara.


"Arga dengarkan aku!!!" Ayna sudah muak. Ia ingin mengakhiri semua dan hidup tenang.


Arga berusaha untuk berdiri. Ia melihat Alex dengan sinis.


"Aku memang pernah mencintaimu, tapi itu dulu sebelum kau menyakitiku. Dan sekarang perasaanku padamu sudah tiada lagi. Aku mencintai suamiku." Ayna manatap wajah Arga yang mulai sayup.


"Tidak, Ay... kamu bohong." Arga menghampiri Ayna dan meraih tangannya. Melihat itu Alex menepis tangan Arga, bisanya ia kecolongan.


"Arga... mari kita jalani hidup masing-masing. Jangan pernah muncul dan mencari tahu tentangku lagi. Dengan begitu aku bisa memaafkanmu."


"Tapi, Ay.."


"Aku sangat berharap kita hidup bahagia dengan pasangan kita masing-masing. Kamu pasti dapat bahagia tanpa diriku. Tolong jangan seperti ini lagi." Setelah mengatakan itu, Ayna pun segera masuk ke dalam mobil.


"Lupakan Ayna, dia istriku sekarang. Kembalilah pada istrimu itu." Alex menepuk pundak Arga. Ia pun segera masuk ke dalam mobil.


"Ay... Ayna..." Ucap lirih Arga melihat mobil itu semakin menjauh darinya. Ayna sudah tak peduli lagi padanya.


'Ini semua gara-gara Aca. Gara-gara dia, aku kehilangan kamu.' Arga meremas tangannya, menahan gejolak amarahnya. Ia pun kembali ke mobilnya.


Tak lama Alex dan Ayna sampai di rumah. Begitu sampai rumah, Alex segera menarik Ayna menuju dapur.


"Mama, harus mencuci tangan." Alex menghidupkan wastafel. Ia membersihkan tangan Ayna dari noda Arga yang menempel.


"Mas..." Ayna menghembus nafas, bukan hanya menyiram tangannya saja tapi sekalian disabuni.


"Sudah, Mama tenang saja."


Ayna mendengus, ia ingin sekali melakban mulut Alex. Dari tadi pria itu sangat pasih dan lancar dengan panggilan Papa dan Mama.


"Kalian ngapain?" Tanya Mamanya Alex yang tiba-tiba datang.


"Membersihkan tangan Ayna, Ma. Tadi Ayna memegang kotoran." Jelas Alex singkat dan padat.


Bukan hanya membersihkan, Alex bahkan mengeringkan tangan Ayna dengan kain lap.


"Mas, biar aku saja." Ayna merasa tak nyaman dengan perlakuan Alex di depan sang Mama.


"Sudah, biar Papa yang bersihkan. Mama jangan sungkan sama Papa."


'Papa, Mama? apa?' Mamanya Alex melihat kedua orang itu dengan tatapan bertanya-tanya.


"Ayna..." Panggil Mama.


"Iya, Ma." Jawab Ayna cepat melihat sang mertua.


"Apa kamu hamil?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2