SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 71 - AYNA TAKUT


__ADS_3

Ayna mentoel-toel pipi Alex yang sedang tidur di sampingnya.


"Sayang..." Alex terbangun karena perbuatan Ayna.


"Semalam kita nggak jadi nonton bioskop kan, Mas." Ayna cemberut. Mereka batal pergi kencan dan malah berakhir di tempat tidur.


"Kamu menggodaku. Aku mana nggak bisa menahan diri." Jawab Alex santai, ia membenarkan selimut yang dipakai sang istri.


"Si-si-siapa yang menggoda, Mas Alex?" Ayna jadi gugup dituduh seperti itu.


"Kamu nggak menggodaku. Aku yang tergoda." Dengan gemas Alex mencubit pipi mulus Ayna.


"Sayang, cium aku dong." Alex memajukan bibirnya beberapa senti.


Ayna menjauhkan wajah Alex. " Mandi dulu sana. Bau lho, Mas."


"Aku masih wangi lho sayang." Alex mendekatkan ketiak ke hidungnya sendiri.


"Kan benar masih wangi. Kalau nggak percaya kamu cium nih." Alex akan mendekatkan ketiaknya ke wajah Ayna.


"Mas Alex, jorok." Ayna mendorong tubuh Alex, sambil menutup hidungnya.


"Sayang..." Alex akan kembali mendekat.


Ayna pun memukuli Alex dengan bantal.


Beberapa saat berlalu, Alex dan Ayna sarapan bersama.


"Gimana semalam, seru nonton bioskopnya?" Ledek Mama melihat kedua anak dan menantunya itu.


Semalam katanya mereka akan pergi ke bioskop. Tapi begitu masuk kamar, keduanya tak keluar hingga pagi menjelang.


Ayna menunduk malu. Semalam mereka tidak jadi pergi kencan dan malah melewati malam bergairah.


"Nggak jadi, Ma. Karena tadi malam ada urusan yang sangat mendesak." Jawab Alex sambil memainkan alisnya.


Mama jadi mendengus, sementara Ayna dari bawah meja mencubiti tangan suaminya.


"Sayang, ayo cepat makan. Setelah makan kita jalan-jalan." Alex menyendokkan makanan ke mulut Ayna.


Ayna terpaksa menerima suapan dari sang suami.


"Ma, Ayna sangat cantik." Puji Alex yang membuat istrinya jadi malu.


"Ma, aku mencintai Ayna..." Alex menatap dalam mata sang istri.


"Apaan sih, Mas?!" Ayna jadi malu, Alex bisa berkata seperti itu di depan sang Mama.


"Kalau kamu mencintai Ayna. Cintai dia selamanya, jangan pernah mencoba bermain api. Kamu tiru Papamu, sampai sekarang masih setia sama Mama. Iya kan, Pa?" Ucap Mama manja pada sang suami. Papa memang pria yang sangat setia.


"Ada apa?" Tanya Papa bingung. Pria paruh baya itu dari tadi fokus membaca koran. Ia tak mendengar ucapan Mama.


"Papa..." Mama jadi cemberut.

__ADS_1


###


"Mas, kita mau ke mana?" Tanya Ayna, saat mobil sudah melaju sedang membelah jalanan.


"Nanti begitu sampai, kamu akan tahu. Sabar ya, sayangku." Alex menarik pipi imut itu.


"Mas, mau kemana?" Ayna tampak sangat penasaran. Masih juga mendesak sang suami.


"Tunggu sebentar, sayang. Kamu ini sekarang nggak sabaran." Tangan Alex terulur mengelus kepala Ayna.


"Mas..." Ayna merengek, Alex tetap tak mau memberitahunya.


Ayna pun menatap jalanan. Ia bingung saat memasuki komplek perumahan.


"Mas, ini rumah siapa?" Tanya Ayna, saat Alex menepikan mobil di depan sebuah rumah mewah.


"Kamu banyak tanya. Kalau mau tahu cepat turun." Alex membukakan sabuk pengaman Ayna.


"Ayo, sayang." Alex menggandeng tangan Ayna, begitu istrinya turun dari mobil.


"Mas... Ini rumah siapa? Jangan-jangan Mas Alex mau menculikku." Ayna menahan tubuhnya.


"Untuk apa aku menculik kamu? kamu itu sudah milikku." Alex kembali melangkah sambil menggandeng Ayna.


"Gini ya, kesayangannya Mas Alex. Apartemenku sudah dijual. Jadi aku berencana membeli rumah untuk tempat tinggal keluarga kita nantinya." Jelas Alex sambil melangkah.


"Tapi kita tinggal di rumah Mama." Ucap Ayna.


"Kan nggak selamanya kita tinggal di sana. Kita harus punya rumah sendiri untuk mengurusi 12 orang anak kita." Alex kembali mengulum senyum. Membayangkan 12 orang anak. 1 orang anak saja, prosesnya cukup panjang.


"Kenapa tidak. Aku akan mencintai kamu bagaimanapun kondisi kamu. Lagian jika badan kamu melar, itu semua karena perbuatanku. Jadi aku harus bertanggung jawab."


Ucapan Alex memang sungguh manis. Ayna berharap suaminya tak akan pernah berubah.


"Menurut kamu gimana rumah ini? Kalau kamu suka, kita pilih yang ini." Alex ingin tahu bagaimana pendapat Ayna.


"Mas, kita lihat keliling rumah ini." Ajak Ayna bersemangat.


Mereka pun berkeliling rumah. Ayna merasa rumah ini terlalu besar dan memiliki banyak kamar.


"Mas, kamarnya banyak. Kayak kos-kos an." Ucapnya.


"Kamarnya ada banyak. Kan disesuaikan dengan anak kita nanti." Jelas Alex berwajah bahagia.


"Mas... Kita cari rumah lain saja." Ayna menarik tangan Alex untuk segera pergi dari rumah itu.


"Kenapa? Apa kamu nggak suka?" Tanya Alex.


Istrinya mengangguk. "Mas, menunggu anak-anak kita nanti lahir butuh waktu lama. Mau berapa lama kamar-kamar itu kosong?"


Ayna merinding. Kamar-kamar itu bisa ada penunggunya jika lama tidak ditempati.


"Oh iya. Jadi kamu mau rumah seperti apa?" Tanya Alex dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Nanti aku searching di internet. Sekarang, ayo kita jalan-jalan. Aku mau kencan sama kamu, Mas."


"Ok, mari kita berkencan. Kamu mau nonton bioskop atau kita ke hotel saja?" Tanya Alex mulai genit.


"Mas Alex!!!"


Bisa-bisanya Alex memberikannya 2 pilihan seperti itu. Ayna yang kesal pun mencubit gemas perut sang suami.


Alex membawa Ayna ke sebuah bioskop. Ia sudah membeli tiket lengkap dengan cemilannya.


Mereka masuk ke dalam ruangan dan duduk sesuai dengan nomor di tiket.


Film mulai berlangsung, Ayna melahap popcorn sambil menyuapi sang suami. Mata Ayna fokus pada layar lebar.


'Kenapa malah film horor sih?!' Ayna meruntuki film yang bisa membuatnya merinding.


"Kenapa kamu takut?" Tanya Alex melihat Ayna bersandar di bahunya. Ia juga memegang tangan istrinya yang sangat dingin.


"Mas..." Wajah Ayna pucat. Ia mendadak takut. Menonton film horor akan membuatnya terus membayangkan makhluk-makhluk halus.


"Kita ke tempat lain saja." Alex bangkit dan menggandeng Ayna keluar dari gedung bioskop. Istrinya itu pasti takut, film itu masih setengah jalan saja wajahnya sudahhm begitu. Bagaimana lagi jika sampai film selesai.


Gedung bioskop mengema teriakan penonton, yang menjerit tatkala makhluk halus itu muncul.


Ayna yang kaget pun segera memeluk tubuh Alex.


"Mas, aku takut... Aku takut."


Tubuh Ayna gemetaran jadinya.


"Kita keluar saja." Alex membawa Ayna segera keluar.


Begitu keluar dari bioskop, Alex pun meminta maaf.


"Maaf sayang, aku nggak tahu kamu takut menonton film horor." Alex merasa bersalah. Wajah Ayna begitu pucat pasih.


Ayna masih menghembuskan nafas berkali-kali. Air matanya bahkan berlinang.


"Kita pulang, ya?" Tanya Alex sambil mengusap air mata Ayna.


Ayna menggeleng pelan.


"Kamu mau menonton film lain?" Tanya Alex kembali.


Ayna kembali menggeleng.


"Jadi?"


"Aku lapar, Mas."


"Ayo... Kita makan."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2