SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 56 - SHOPING


__ADS_3

"Aku perginya sama Mama, Mas." Ucap Ayna saat menelepon Alex.


"Aku akan ikut." Ucap Alex dari seberang sana.


"Tapi Mas masih kerja" Ucap Ayna mengingatkan.


"Aku ikut, sayang. Aku akan segera pulang. Ada Jo yang akan menghandle semuanya." Ucap Alex sambil merapikan mejanya. Ia tak mau Ayna keluar rumah tanpa dirinya, walaupun ia pergi bersama Mamanya.


"Aku perginya sama Mama lho, Mas." Ayna kembali memberitahu.


"Apa katanya?" Tanya Mama yang berada disamping Ayna. Mereka sudah bersiap untuk pergi, tapi menantunya itu bilang ingin meminta izin dulu dari suaminya.


"Mas Alex mau ikut kita, Ma." Ucap Ayna segera.


"Sini biar Mama bicara sama dia. Mau apa dia ikut-ikut kita." Wanita paruh baya itu pun meraih ponsel Ayna.


"Alex..." Ucap Mama setelah menempelkan ponsel di telinganya.


"Iya, Ma."


"Mama mau ajak Ayna. Untuk apa kamu ikut?" Tanya Mama segera.


"Aku akan ikut. Aku akan jadi body guard kalian."


"Nggak usah pakai bodyguard... kami mau melakukan urusan wanita. Anak laki nggak usah ikut."


"Alex akan tetap ikut. Ini Alex sudah di jalan, Ma. Aku nggak mau Mama dan istriku kenapa-kenapa. Tunggu aku pulang. Aku tutup Ma."


"Hei..." Mama menghembuskan nafas, putranya sudah memutuskan panggilan mereka.


"Apa kata Mas Alex, Ma?" Tanya Ayna menerima ponselnya kembali.


"Katanya dia mau ikut. Sudah, ayo kita pergi saja. Biarkan saja dia." Ucap Mama menggandeng lengan menantunya.


Tiba-tiba ponsel Ayna kembali berdering berdering.


"Sebentar Ma, Mas Alex telepon." Ucap Ayna segera mengangkat panggilan itu.


"Sayang..."


"Ya, Mas." Jawab Ayna.


"Aku masih di jalan. Kamu tunggu aku. Awas kalau kamu pergi tanpa aku, aku tak mengizinkanmu." Ancam Alex.


"Ta-tapi... kok di matikan sih." Kesal Ayna, Alex memutuskan sambungan telepon begitu saja.


"Apa lagi katanya?"


"Disuruh tunggu, Ma. Kita tunggu sebentar ya, Ma. Soalnya Mas Alex sudah di jalan."


"Kita pergi saja, nggak usah nunggu Alex."


"Ta-tapi Ma, Ayna nggak diizini Mas Alex pergi kalau nggak sama dia." Ucap Ayna menundukkan kepala takut. Ia tak enak dengan Mertuanya, tapi ia juga nggak mau membuat Alex jadi marah.


Mama mendengus, menantunya itu terlalu patuh pada putranya.


Beberapa saat pun berlalu...

__ADS_1


"Kamu saja duduk di depan sama Alex."


"Ayna di belakang saja, Ma."


"Nggak apa, kamu saja."


"Nggak, Ma." Ayna merasa tak nyaman jika ia yang duduk di samping Alex.


Alex melihat keduanya yang saling oper-operan bola.


"Sudah, kalian berdua duduk di belakang saja. Hari ini biarkan Alex jadi supir Mama dan Ayna." Alex akan bijak hari ini.


Alex membuka pintu mobil dan mempersilahkan Mamanya masuk. Setelah menutup pintu, ia menggandeng Ayna ke pintu sebelahnya. Dan mempersilahkan Ayna masuk juga ke dalam mobil.


"Oke... mau ke mana nyonya-nyonya ini?" Tanya Alex setelah duduk di kursi pengemudi. Ia menoleh ke belakang dengan wajah terpampang bahagia.


"Bawa kami ke salon, Pak Supir." Ledek Mama segera.


Ayna mengulum senyum mendengar ucapan Mama, yang membuat wajah Alex cemberut.


"Baiklah Nyonya... Mari kita meluncur." Alex pun perlahan segera melajukan mobilnya.


"Ay, Mama belum cerita banyak tentang Alex sama kamu." Ucap Mama melihat Pak Supir melirik dari spion.


"Cerita apa, Ma?"


"Alex itu masih kecil sangat pemalu. Saat hari pertama masuk SD-"


"Mama, jangan buka kartu."


"I-iya Ma." Jawab Ayna gugup, ia melirik suaminya berwajah kesal.


"Jadi waktu itu, dia kebelet pipis. Jadi karena malu permisi ke kamar mandi, dia tahan saja itu. Karena sudah tak bisa ditahan lagi, dia pun mengompol." Cerita Mama sambil tertawa mengingat Alex kecilnya.


"Mama..." Alex menepuk jidatnya, teganya Mama membongkar aib masa lalunya.


"Oh iya, Ma." Ucap Ayna hanya bisa tersenyum. Ingin tertawa, tapi takut dengan ekspresi suaminya yang menatap tajam itu.


"Setelah itu kamu tahu, Ay. Ia minta pindah sekolah. Padahal Mama bilang dia akan pindah kelas. Tapi anak merengek terus, harus tetap pindah sekolah."


Ayna mengangguk. Dia tak heran dengan sikap Alex yang seperti itu. Akan terus merengek, jika ia tak menurutinya.


"Sudah sampai. Ayo turun." Ucap Alex segera.


Mama melihat sekitar, ternyata mereka sudah sampai. Padahal Mama ingin menggibahi putranya itu.


Alex berada di tengah keduanya. Ia menggandeng Mama dan Ayna di sisi kanan dan kirinya.


"Senangnya, aku punya 2 wanita istimewa." Ucap Alex menoleh pada keduanya bergantian.


"Yang satu Mamaku tersayang. Meski tukang merepet." Ledek Alex.


Pletak


Mama menokok kepala Alex. "Kalau kamu menurut jadi anak, Mama juga nggak akan merepet. Kamu kira merepet itu nggak capek." Wanita paruh baya itu jadi mengoceh.


Alex tertawa lalu ia menkecup pipi sang Mama. Perlakuan Alex membuat Mama jadi tersenyum, meski tadi sempat kesal.

__ADS_1


"Dan satunya lagi, wanitaku. Aynaku tersayang." Ucap Alex menatap sejenak.


"Aku mencintaimu." Ungkap Alex sambil menkecup pipi Ayna.


Wajah Ayna jadi memerah, ia malu Alex seperti itu saat ada Mamanya.


"Seharusnya Mama membawa Papa juga.."


###


Alex menunggu kedua wanita itu yang sedang melakukan perawatan di Salon. Ia mengisi waktu sambil bermain game di ponselnya.


Awalnya Alex tersenyum, lama-lama wajahnya mulai kesal. Ia sudah menghabiskan 5 cup kopi. Tapi kedua wanita itu belum selesai juga.


'Apa mereka melakukan operasi wajah?' Batin Alex mengingat begitu lamanya waktu sudah berlalu.


"Mas Alex..."


Alex mengalihkan pandangan ke arah suara yang terdengar begitu manja di telinganya.


Pria itu terpesona sesaat. Ayna makin cantik. Wanita itu juga tampak fresh dan bersemangat.


Tadinya Alex merasa mereka sudah selesai. Tapi ternyata tidak. Wanita-wanita itu sekarang malah shoping.


Alex tak masalah Mama dan Ayna mau membeli apapun atau mau memborong semua yang ada di Mall itu. Tapi... yang membuatnya kesal. Kedua wanita itu menjadikannya tukang angkat barang belanjaan mereka.


"Alex, bawa dulu ini ke dalam mobil. Kalian berdua tunggu di sini."


Mama dan Ayna mengangguk kompak.


"Ayo kita ke sana." Ajak Mama setelah melihat Alex sudah menjauh. Putranya nantikan bisa menelepon mereka.


Mama dan Ayna kembali menyisir toko-toko yang berada dalam Mall tersebut.


Melihat-melihat dahulu, bawa ke kasir kemudian.


Setiap keluar toko, ada saja kantong belanja yang bertambah.


Ayna terpelongo, Mama membeli barang tak pernah melihat harganya dulu. Begitu sampai kasir, mertuanya memberikan kartu ATM-nya. Gesek, gesek, gesek dan struk pun tercetak.


"Kalau kita borong semua barang yang ada di Mall ini, kartu ATM ini masih bisa membayarnya." Bisik Mama memberitahu.


"Hah..." Ayna shock menutup mulutnya. Ada berapa banyak isi di dalamnya, ya?


Mama kembali mengajak Ayna shoping lagi. Menantunya itu terpaksa mengangguk. Ayna sudah capek berkeliling Mall. Tapi Mama begitu masih bersemangat.


"Ayna..."


Ayna menoleh ke belakang, saat ada yang memanggil namanya.


"Ternyata benar kau. Dasar pembunuh!!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2