
Ayna bernafas lega setelah seharian menyalami para tamu yang berdatangan.
"Akhirnya selesai juga." Dengan masih memakai gaun pengantinnya, Ayna menjatuhkan diri ke tempat tidur empuk.
Resepsi pernikahan begitu sangat melelahkan membuat mata Ayna perlahan terpejam.
"Sayang, bangun." Ucap Alex sambil melepas jasnya. Ia menggeleng melihat istrinya sudah berbaring sambil membentangkan kedua tangan. Posisi Ayna sudah sangat pasrah.
"Sebentar lagi, Mas. Aku ngantuk." Mata Ayna masih setia terpejam.
"Ayo, lepas gaunnya dulu. Apa kamu mau tidur memakai gaun?"
"Nanti, Mas." Rasa malas masih menguasai wanita itu.
"Sayang, ayo bangun. Ini malam pertama kita lho." Bisik Alex tepat di telinga Ayna. Pria itu kini sudah naik ke atas tempat tidur.
"Malam pertama kita sudah basi lho, Mas." Ledek Ayna masih dengan mata masih terpejam.
"Mas Alex!!!" Pekik Ayna segera membuka matanya. Alex memang pria terme-sum, bisanya tangan itu aktif menggerayangi tubuhnya.
"Ayo, kita ulang malam pertama kita." Pinta Alex.
Ayna menatap pria yang sudah menidih tubuhnya.
"Saat itu kamu melakukannya dengan terpaksa." Ucap Alex dengan wajah memelas.
"Tapi, setelah itu aku ikhlas lahir batin Mas." Sanggah Ayna segera. Kenapa Alex hanya mengingat saat itu saja.
"Tapi, momen sekarang ini-"
Ayna menarik leher Alex dan segera menkecupi wajah pria itu. Ia akan menuruti suaminya, tak ingin membuatnya kecewa.
"Aku mencintaimu, Mas." Ungkap Ayna menatap dalam mata Alex. Begitupun pria itu menatap Ayna penuh cinta.
"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku." Ucap Alex serius.
Ayna mengangguk pelan. Ia juga tak mau meninggalkan atau pun kehilangan Alex. Sudah pasti banyak wanita yang mengantri suaminya itu.
Alex mendekatkan wajah pada Ayna, menikmati hembusan nafas di wajahnya.
"Tu-tunggu, Mas." Ayna menahan bibir yang siap menyosor tersebut.
"Mas, sudah mandi?"
"Belum. Kenapa?"
"Tadi pagi mandi nggak?"
Alex jadi tertawa. Ayna pasti berpikir bahwa ia tak mandi, sama seperti saat pernikahan dadakan mereka saat itu.
"Mau mandi bareng?" Tanya Alex mengkedipkan mata nakalnya.
Ayna mengangguk.
"Ayo kita mandi." Alex dengan bahagia menggendong Ayna menuju kamar mandi.
###
Hari sudah pagi, Ayna bangun dari tidur. Ia melihat pria disampingnya begitu terlelap. Mereka tidur menjelang pagi. Setelah mengulang malam pertama yang panas dan dipenuhi desa-han.
Dengan selimut yang masih menutupi tubuh polosnya, Ayna membuka gorden kamar hotel tersebut.
__ADS_1
"Sayang, jangan dibuka." Alex menyuruh menutup kembali. Cahaya matahari mengganggu tidurnya.
Ayna terpaksa menutupnya kembali.
"Sayang, sini tidur. Kamu pasti masih capek." Alex menepuk-nepuk tempat tidur.
"Aku mau mandi, Mas."
Alex mengangguk dan kembali melanjutkan mimpinya.
Tak lama di dalam kamar mandi, wajah Ayna tampak gugup menunggu sebuah benda yang diletakkan di wastafel.
"Kenapa nggak berubah? apa alat ini rusak?" Ayna membaca kembali bungkus kemasan benda tersebut.
"Tunggu beberapa menit. Baiklah, aku tunggu sambil mandi."
Ayna meninggalkan testpack tersebut, seraya menunggu hasilnya. Ia berharap benih Alex sudah tumbuh di rahimnya.
Setelah hampir sejam, Ayna selesai mandi. Ia segera melihat alat itu.
Ayna menghembuskan nafas panjang. Semoga hasilnya positif.
Tapi, wajah Ayna murung. Hanya ada garis 1.
"Kapan kamu ada di sini, Nak? Mama sama Papa ingin segera melihatmu." Ucap Ayna sedih, ia mengelus-elus perut ratanya.
Ayna sedih, ia sudah beberapa bulan menikah dengan Alex. Tapi masih belum dikaruniai anak.
Tadi Ayna berencana, jika hasilnya garis 2. Itu akan menjadi kado untuk Alex, mengingat beberapa hari lagi pria itu akan berulang tahun.
"Sayang..."
Ayna sadar dari lamunannya karena ketukan pintu itu. Ia segera menarik nafas panjang dan membuangnya pelan.
"Mandi kamu lama." Ucap Alex begitu Ayna membuka pintu.
"Biasa, Mas. Namanya wanita."
"Makanya kita harus mandi bareng terus setiap hari, biar nggak lama." Saran Alex dengan wajah bahagia.
"Malah lebih lama, Mas." Ledek Ayna, ia kesal melihat wajah bahagia Alex yang tampak begitu menyebalkan.
"Itukan karena ada tambahan servicenya. Kalau mandi biasa-"
"Sudah cepat mandi, Mas. Aku sudah lapar." Ayna segera mendorong Alex agar masuk ke kamar mandi. Meladeni ucapan suaminya itu tidak pernah ada habisnya.
Tak lama Alex sudah keluar dari kamar mandi. Ia melihat Ayna yang santai sarapan.
"Sayang, kamu kok makan duluan?"
"Aku lapar, Mas." Ayna menunjukkan wajah sedihnya.
"Nggak apa, kok. Kamu makan saja." Alex menyuruh Ayna melanjutkan makannya. Ia tak tega melihat wajah sedih itu. Istrinya pasti sangat kelaparan.
Lagi enak-enak mengunyah, Ayna tak berkutik sesaat. Ia disuguhi pemandangan yang membuatnya merinding.
Ayna segera membuang wajahnya kemana pun, asal bukan melihat suaminya itu.
Alex mengotori mata dan otaknya di pagi yang cerah ini. Bisanya pria itu melepas handuk lalu memakai pakaian di depannya.
"Sayang, kenapa kamu masih malu?" Tanya Alex duduk di samping Ayna, setelah memakai pakaiannya.
__ADS_1
"Padahal sudah biasa kamu berinteraksi dengannya." Ledek Alex sambil menggelengkan kepala.
"Mas Alex, makan ini." Ayna menyuapkan sesendok makanan ke mulut itu, agar suaminya segera diam.
"Kamu tenang saja, dia nggak akan nakal. Aku pastikan dia hanya akan menjelajah di goa hangatmu." Bisik Alex dengan pikiran yang ikut menjelajah.
"Mas Alex... " Ayna memijat pelipisnya. Pria itu makin lama makin mesum. Bahkan pria itu sudah tiada malu membahas hal absurd seperti itu.
Alex makan sambil melirik Ayna. Wajah Ayna sudah kepiting rebus saat ini.
"Apa ini?" Tanya Ayna melihat kado di troli makanan yang dibawa staff hotel. "Untuk Alexku."
Pria itu tersedak mendengar itu.
"Dari siapa ini, Mas?" Tanya Ayna sudah curiga. "Alexku..." ia jadi kesal.
"Nggak tahu. Ada yang iseng pasti." Alex segera menyanggah, sebelum Ayna mencurigai dirinya.
"Aku buka." Ayna yang kesal membuka kado tersebut.
Mata Ayna terbelalak melihat isinya. Ia pun menoleh ke arah suaminya.
"Apa ini, Mas?"
Glek
Alex menekan salivanya susah.
'Dafa... aku akan menghajarmu.'
"Haha... siapa yang memberikan hadiah seperti ini." Alex tertawa sumbang melihat isinya.
"Ini pesananmu, Lex. Sukses ya." Ayna pun membaca memonya.
"Mas Alex, pesan apaan sih ini? obat kuat, obat perangsang?" Ayna yang geram mencubiti perut sang suami.
"Itu kerjaannya Dafa lho, sayang."
"Pasti Mas yang minta hadiah seperti ini."
"Tidak."
"Iya."
"Nggak lho, sayang."
"Apa service yang aku berikan kurang memuaskan?" Ayna menunjukkan wajah cemberut.
"Bu-bukan begitu, sayang"
"jadi?"
"Dafa..." Ucap Alex cepat. "Dia yang merekomendasikannya, jadi dia..." Alex pun menjelaskan panjang lebar. Selama ini ia berguru pada teman laknatnya satu itu.
Sementara di tempat lain, Dafa bersin-bersin.
'Siapa yang menceritaiku?'
.
.
__ADS_1
.