
Aca dan Mona sedang mengikuti ujian seleksi bersama calon pelamar lain.
Mona terlihat menghembuskan nafas berat, ujiannya terlalu sulit baginya. Ia melirik Aca yang tidak berada jauh darinya. Wanita itu tampak tenang dan santai.
Aca hanya melingkari jawaban A saja pada kertas ujiannya. Ia tak peduli mau benar atau salah. Karena ia sangat meyakini Ayna pasti akan membantunya.
"Kenapa kau tampak begitu santai?"Tanya Mona setelah mereka keluar dari ruang ujian.
"Kenapa kau yang ketakutan?" Aca balik bertanya. "Kita pasti lolos."
"Apa yang kau jawab tadi?"
"Aku hanya menjawab A saja. Lagian itu juga nggak akan berpengaruh. Mumpung kita di sini, mana pak Alex yang tampan itu. Aku ingin melihatnya."
Mona melihat Aca dengan wajah tak senang. Aca pun menyadari sorot mata Mona.
"Dia memang tampan, kan. Oh iya... Apa pak Alex itu playboy? dari yang kulihat tampang-tampang playboy sih. Pasti banyak itu wanita simpanannya." Oceh Aca yang meyakini covernya Alex saja.
"Jaga bicaramu. Dia itu tipe pria setia." Bela Mona.
"Kalau setia, kenapa kau menolaknya? Dan sekarang kau berniat mengejarnya?" Aca makin penasaran. Menurut gosip beredar, Alex itu pernah menyukai Mona. Menurutnya Mona itu perempuan bodoh. Bisa menolak pria seperti Alex.
Aca saja sudah berencana akan menggoda pria itu habis-habisan, hingga membuat Alex meninggalkan wanita bernama Ayna tersebut.
"Apa itu dia?" Tanya Aca menutup mulutnya. Ia melihat Alex berjalan menuju lift.
'Wow...'
Pesona seorang Alex sungguh luar biasa. Pasti senang bisa bekerja sambil disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata dan hati. Apa lagi jika bisa menikah dengan pria itu.
'Ayna benar-benar beruntung!'
"Ayo pulang." Ajak Mona, mata Aca terlalu jelalatan melihat Alex. Ia curiga jangan-jangan wanita itu berniat memiliki Alex. Ia bisa ditikung Aca. Wanita bernama Aca itu sudah pernah menjadi penikung di lap terakhir.
"Ayo kita sapa dulu." Ajak Aca yang tak mau melewatkan bertemu dengan Alex. Sebelum menggoda target, bukankah ia harus selalu dilihat oleh target.
"Mau ngapain?" Mona memegang tangan Aca. Ia lalu menarik Aca untuk segera keluar dari kantor itu.
'Lihat saja Alex, saat kesempatan itu datang. Aku tak akan melepaskanmu.' Batin Aca, matanya masih melihat pria itu, meski Mona sudah menggeretnya pergi.
###
"Mas... Aku pakai baju yang mana ya?" Tanya Ayna yang sedang video call dengan Alex. Ia menunjukkan beberapa pakaian. Bingung mau memakai yang mana.
"Hmm..." Alex melihat pakaian-pakaian itu. Ia tak mau Ayna memakai salah satu pakaian itu. Pakaian yang Ayna pilih kalau nggak yang bawah mini, yang atasannya yang mini.
"Ganti, sayang. Kita akan sampai malam. Kalau kamu pakai pakaian itu, nanti kamu kedinginan."
__ADS_1
"Kalau nanti kedinginan, aku bisa meluk Mas Alex." Ucap Ayna manja.
Alex jadi gemas melihat istrinya.
"Kalau kamu mau peluk-peluk, buat apa kita ke bioskop. Kita ke hotel saja." Alex melebarkan senyumnya.
Ayna memutar bola matanya, suaminya itu ada saja jawabannya.
"Aku pakai yang ini saja, Mas." Ayna segera mengeluarkan pakaian lainnya. Ia memilih memakai pakaian aman. Celana jeans panjang dengan kaos tangan panjang.
"Itu saja." Alex mengangguk setuju.
"Sudah ya, Mas. Aku mau mandi." Ayna melihat jam dinding.
"Ya sudah mandilah. Kamu mandinya sambil tetap video call. Aku mau lihat kamu mandi." Alex mengulum senyumnya.
"Mas Alex... Bisa nggak satu hari jangan me-sum?!" Ayna jadi kesal.
"Mesum apa sih, sayang? Aku cuma mau lihat kamu mandinya benar atau nggak. Takutnya kamu mandinya sudah sabunan nggak disiram. Langsung handukan." Alex sengaja menggoda Ayna yang sudah memasang wajah kesal.
"Mas Alex, jangan alasan. Sudah ya aku tutup. Aku mau mandi. Bye..."
"Sa-"
Belum sempat menjawab, Ayna sudah memutuskan panggilan video mereka.
'Ayna sayang... Aku sangat mencintaimu. Aku tak pernah menyesal menikah denganmu. Aku beruntung memilikimu.'
'Pasti akan sangat bahagia, jika kami memiliki anak.'
Alex sudah membayangkan membuat foto keluarga dengan seorang anak diantara mereka.
'Masa cuma satu. 2 dong. Satu cowok yang tampan seperti Papanya, dan satu lagi cewek yang sama cantik seperti Mamanya.'
Alex kembali melamun membayangkan foto keluarga dengan dua anak. Tapi... ia merasa aneh. 2 anak terlalu sedikit.
' 3 bagus juga. Tapi 4 lah biar genap. 5 juga nggak apalah. 6 gimana yah? Kalau 7 lumayan sih. Tapi tanggung. Apa 12 saja? Iya... Iya selusin saja.'
Alex tak bisa menutupi wajah bahagianya, membayangkan membuat foto keluarga bersama 12 anak-anaknya.
'Kalau buat kartu keluarga bisa penuh itu? Tapi bagaimana dengan Ayna?'
Wajah Alex berubah sendu. Ia melupakan Ayna. Bagaimana istrinya itu bisa mempunyai anak sampai 12 orang? Ayna harus 12 kali mengandung.
'Kalau anaknya kembar 6, cukup 2 kali saja mengandung.' Alex mengangguk-anggukan kepala.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Alex segera bergegas keluar kantor. Ia harus segera pulang. Ayna pasti sedang menunggunya. Mereka akan pergi berkencan.
__ADS_1
Alex masuk rumah dan disambut senyum sang istri. Ayna menyalami pria itu.
"Sebentar ya, aku mandi dulu." Ucap Alex sambil menkecup pipi Ayna.
Ayna menatap sang suami yang terus mengumbar senyum. Alex sudah mandi dan berganti pakaian santai. Pria itu sedang menyisir rambut.
"Dari tadi aku perhatikan Mas Alex senyum terus, apa ada hal yang menggembirakan, Mas?" Tanya Ayna penasaran.
"Aku sedang membayangkan kita membuat foto keluarga dengan anak-anak kita."
Ayna jadi tersenyum. Ia jadi membayangkan bagaimana, pasti akan sangat bahagia jika ada anak diantara mereka.
"Sayang, setelah kupikir-pikir. Bagaimana jika kita memiliki 12 orang anak. Pasti rame tuh."
Ayna terbengong mendengar itu. 12 orang anak? Apa itu tidak terlalu banyak?
"12 orang anak, Mas?" Tanya Ayna memastikan.
"Iya, sayang. 12 orang anak. Kita akan bersama-sama merawat mereka. Mencurahkan cinta dan kasih sayang kita." Alex begitu tampak antusias.
Kehadiran anak adalah anugerah terindah. Tapi... Jika sampai 12. Ayna tidak bisa berpikir. 12 kali ia harus mengandung.
"Nanti kamu hamilnya 2 kali saja. Jadi sekali melahirkan langsung kembar 6, Ay."
Ayna masih terpelongo. Ia pernah melihat wanita hamil anak kembar 2, perutnya sudah besar. Bagaimana jika sampai kembar 6. Ada-ada saja suaminya itu.
"Mas Alex..." Ayna bangkit dan memeluk pria itu dari belakang.
"Mas, jangan ngada-ngadalah. Aku bukan kucing."
Alex jadi tertawa.
"Tapi... Sayang. Aku mau punya 12 orang anak. Apa kamu mau mengandung anak sampai 12 kali?"
Alex membawa tubuh Ayna ke hadapannya.
"Kamu mau hamil sampai 12 kali?" Tanya Alex kembali.
"Kenapa nggak mau, Mas. Selama aku hamilnya sama kamu." Ayna mengkedipkan sebelah matanya. Telunjuk tangannya juga sengaja menyentuh dada tegap sang suami.
"Ay, jangan menggodaku seperti itu." Alex pun memeluk tubuh Ayna.
"Aku mencintaimu... Aku mencintaimu... Aku mencintaimu, Ayna." Alex mengulangi ucapannya seraya menghujani kepala Ayna dengan kecupan.
"Aku mencintaimu, Mas Alex."
.
__ADS_1
.
.