SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 95 - BEROJOL


__ADS_3

Setiap pagi Alex selalu menyempatkan berjalan-jalan pagi bersama Ayna. Menikmati udara pagi yang sangat baik untuk ibu hamil.


Kini perut Ayna sudah kian membesar. Ada rasa iba dalam hati Alex melihat Ayna dengan perut sebesar itu. Pasti berat dan sangat tidak nyaman.


"Sayang, ayo kita pulang." Alex perlahan menuntun sang istri.


Dulu saat masih awal kehamilan, mereka jalan-jalan pagi cukup jauh, mengintari komplek perumahan. Tapi karena kini Ayna sudah menginjak bulan kelahiran, Alex hanya membawa Ayna berjalan di depan rumah mereka saja.


"Pelan-pelan, sayang." Ucap Alex menuntun Ayna.


"Terima kasih, Mas." Ayna dibantu Alex duduk di kursi meja makan. Saat ini mereka sedang sarapan.


"Ay, makan ini." Mama mendekatkan piring berisi makanan.


"Terima kasih, Ma." Jawab Ayna.


"Sayang, aku libur saja ya hari ini." Rasanya pria itu sangat malas ke kantor. Ia ingin menghabiskan waktu bersama sang istri. Dan mengobrol panjang dengan putranya.


"Kenapa?" Tanya Ayna bingung dengan mulut penuh makanan.


Selama hamil porsi makannya meningkat. Selain dirinya ada baby yang harus makan juga. Walau kadang ia tak menyukai makanannya, Ayna tetap melahap. Karena kata Mama, makanan itu bergizi dan sangat bagus untuk pertumbuhan janin dalam kandungannya.


"Aku ambil cuti panjang saja. Sampai kamu melahirkan." Alex takut, jika Ayna mendadak melahirkan saat tidak bersamanya. Ia tak mau melewatkan kesempatan menemani istrinya melahirkan.


"Nggak usah, Mas. Sekitar seminggu lagi aku baru melahirkan."


"Tapi, sayang... Kan itu cuma prediksi. Bisa jadi kamu melahirkan hari ini, besok, atau besoknya lagi, atau besok-besok lagi." Alex mengatakan kemungkinan yang terjadi.


"Anak kita pasti sudah tak sabar terlahir ke dunia, untuk melihat Papanya yang tampan dan tajir ini."


Ayna hanya memberi senyuman mendengar ucapan Alex. Sementara Mama mencibir sang putra, yang terlalu membanggakan diri.


"Aku pergi dulu." Alex tersenyum kecut, Ayna tetap saja memaksanya ke kantor.


"Hati-hati ya, Mas Alex." Ayna menyalami sang suami.


Dan Alex seperti biasa. Menkecup kening dan pipi Ayna. Lalu ia berjongkok untuk berpamitan.


"Anak lanang sayang... Papa pergi ke kantor dulu ya." Alex mencium perut Ayna seraya mengelus-elusnya. Membayangkan mengelus sang buah hati.


"Hati-hati ya Papa. Cari uang yang banyak untuk Mama dan aku ya." Ayna yang menjawab, menirukan suara bocah.

__ADS_1


Alex mendongakkan kepala, menatap sang istri kesal. "Sayang, uangku sangat banyak."


"Mas Alexku sayang, cepat pergi ke kantor."


Ayna melambaikan tangan mengiringi mobil Alex yang mulai melaju pergi.


Setelah Alex berangkat ke kantor, Ayna mendatangi Mama yang sedang asyik menonton acara masak memasak.


"Kamu mau Mama masakin itu?" Tanya Mama menunjuk tv. "Sepertinya itu sangat enak."


"Nggak usah, Ma." Ayna merasa sungkan. Selama ini mertuanya sudah turun tangan langsung memasak untuk dirinya.


"Kalau kamu mau biar Mama masakin sekarang." Mama bangkit dari duduknya.


Ayna segera menahan tangan Mama. Ia tak mau selalu merepotkan mertuanya.


"Nggak usah, Ma. Ayna masih kenyang. Sarapan tadi Ayna sudah makan banyak." Tolak Ayna halus memberi alasan.


"Hmm... Ya sudah. Nanti kalau kamu mau makan itu, bilang sama Mama. Biar Mama masakan." Jawab Mama mengalah.


"Baik, Ma. Terima kasih."


###


Ayna bangun tidur setelah beberapa saat tidur siang. Ia merasakan perutnya yang sakit.


"Anak Mama, apa mau keluar sekarang? Papa masih di kantor, Nak." Ayna memegangi perutnya.


"Ayna... Kamu nggak makan si-" Mama masuk ke kamar untuk membangunkan menantunya.


"Kamu kenapa, Nak?" Mama terkejut melihat wajah Ayna yang pucat memegangi perut.


"Ma, perut Ayna sakit. Sakit banget Ma."


"Kamu mau melahirkan. Kita ke rumah sakit sekarang."


Tak lama, Mobil melaju membawa Ayna ke rumah sakit. Mama menenangkan menantunya yang terus merintih kesakitan.


"Alex... Angkat dong." Mama juga mencoba menelepon Alex. "Kamu tahan. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit."


Mama mencari kontak Jo di ponsel Ayna. Tapi tak ada. Wanita paruh baya itu mencoba menghubungi Alex lagi.

__ADS_1


"Mas Alex mungkin lagi rapat, Ma. Aduh..." Ayna kembali merasakan sakit.


"Tenang ya, Nak." Mama mengelap keringat yang membasahi kening Ayna. Ia kasihan melihat wajah menahan kesakitan itu.


Sementara di sebuah ruangan. Alex sedang rapat dengan para karyawan.


Tak lama pria itu melihat ponselnya dan melihat beberapa panggilan dari Ayna. Ia dari tadi mensilentkan ponsel, hingga tak menyadari panggilan itu.


"Halo, sayang..." Alex memutuskan menelepon Ayna kembali.


"Alex..." Pekik Mama kesal. "Ayna mau melahirkan."


"Apa?" Pria itu sangat kaget.


"Mas Alex..." Panggil Ayna dengan senggugukan.


"Aku akan segera ke rumah sakit. Sayang, kamu tenang ya." Hati Alex campur aduk mendengar suara tangis Ayna.


"Rapat ditunda. Saya harus segera ke rumah sakit, istri saya akan segera melahirkan." Setelah mengatakan itu Alex bergegas pergi.


Selang 10 menit Alex sampai di rumah sakit. Untung jarak rumah sakit tidak terlalu jauh dari kantornya, jadi ia bisa menempuh waktu singkat.


"Iya, Ma. Alex sudah sampai di bawah." Ucap pria itu menjawab telepon sang Mama.


"Sudah kamu cepat naik kemari. Ayna sudah mau berojol ini." Ucap Mama memberitahu. Ayna sudah berada di ruang bersalin.


"Iya-iya, Ma. Aku segera kesana. Katakan pada Ayna tunggu aku sampai, jangan berojol dulu." Alex meminta Mama mewanti-wanti istrinya.


"Mas Alex... Cepat!!!" Ayna pun berteriak.


"Sudah kamu cepat. Ayna sudah kontraksi ini!!!"


"Apa? Konstruksi???"


.


.


.


Mas Alex Mas AlexπŸ™„πŸ˜’πŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2