SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 45- RENCANA ALEX


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Jo mengetok pintu ruangan Alex. Tak ada sahutan dari dalam. Ia pun mencoba mengetok pintu sekali lagi dan tetap tak ada jawaban. Hingga akhirnya Jo memutuskan masuk saja.


"Pak Alex-" Ucapannya terhenti saat melihat seseorang di sana.


"Hai bro." Sapa Dafa menaikkan tangannya.


"Pak Alex, setengah jam lagi akan diadakan meting de-"


"Undur 2 jam lagi." Sela Alex segera. Ia kembali mengobrol dengan Dafa.


Jo hanya bisa menghela nafas, ia pun mendudukkan diri di sofa.


"Obat itu memang manjur kan, Lex?" Tanya Dafa dengan wajah mulai mesum.


"Ya, itu buat on terus sampai pagi.."


"Bagus dong, Lex." Dafa memainkan alisnya.


"Memang bagus, aku semangat terus tapi kasihan istriku. Minta-minta ampun dia."


"Hahaha... Alex-Alex." Dafa tertawa seraya menggelengkan kepala. "Itu karena cuma kau yang minum?"


"Jadi?" Tanya Alex bingung.


"Disitulah salahnya. Adik ipar seharusnya dikasih juga. Jadi kalian sama-sama..." Dafa menatap wajah Alex yang begitu serius mendengarkannya.


"Ahh... kau tahu sendirilah nanti, Lex." Dafa menepuk pundak Alex. Ia mengisyaratkan dengan senyuman.


Alex menganggukkan kepala. Ia sudah mengerti kemana maksud tujuan omongan Dafa.


Tapi Jo malah terbengong. Pembahasan mereka begitu absurd.


"Kenapa kau, Jo? mau juga obatnya?" Tanya Dafa sinis melihat ekspresi aneh Jo yang melihat mereka.


"Jangan ditawarkan Jo. Anak itu masih polos dan belum mengerti arti kehidupan yanh sesungguhnya." Ledek Alex.


Jo mencibir. "Terserah kalian saja."


"Daf, berarti obat itu harus kuberikan pada Ayna?" Tanya Alex serius.


"Ya nggak lah Bro. Itu khusus pria, untuk adik ipar lain lagi." Dafa memberitahu.


"Ayo... kita ke tokonya sekarang." Ajak Alex bersemangat. Ia tak boleh membuang-buang waktu.


"Ayo kita cabut." Dafa tersenyum melihat semangat Alex.


"Nanti kau ngasih obatnya jangan bilang sama adik ipar. Nanti dia malu dan nggak mau minum." Ucap Dafa bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan beriringan dengan Alex.


"Iyalah, nanti dia ngambek. Aku juga yang rugi." Alex pun tertawa sumbang.


"Pak Alex, bagaimana meetingnya?" Tanya Jo yang melihat keduanya malah akan bergegas pergi.


"Undur 2 hari lagi." Ucap Alex seraya membalikkan badan untuk melihat Jo.

__ADS_1


"2 hari?" Tanya Jo bingung.


"Iya, 2 hari. Karena mungkin besok aku libur." Jawab Alex dengan senyum mengambang. Ia pun segera keluar dari ruangan itu.


Dafa jadi tertawa mendengar perkataan Alex.


"Selamat bekerja, Jo." Ledek Dafa melambaikan tangan. Ia segera megikuti Alex yang sudah keluar ruangan.


Jo menghembus nafas panjang. "Terserah si Alexlah."


###


"Kita mau apa kemari?" Tanya Dafa bingung ketika Alex membelokkan mobil ke sebuah toko perhiasan.


Mereka sudah membeli obat di toko yang direkomendasikan Dafa.


"Sudah, diam saja kau diboncengan." Ucap Alex santai.


Setelah memarkirkan mobil, mereka masuk ke sebuah toko perhiasan mewah di kota itu.


'Wow... silau.' Batin Dafa melihat berlian-berlian yang tersusun di etalase, yang begitu berkilauan.


"Mbak, saya mau lihat cincin lamaran." Ucap Alex pada penjaga toko.


"Lamaran? kau mau melamar siapa, Lex?" Tanya Dafa bingung ,segera menghampiri sang teman.


"Menurutmu?" Alex balik bertanya, ia melihat cincin-cincin yang ditunjukkan penjaga toko.


"Alex, kau tak boleh begitu. Kasihan adik ipar. Kau tak boleh menambah istri lagi. Tak ada wanita yang mau berbagi suami, Lex." Saran Dafa. Ia heran Alex mau melamar wanita lain.


"Apa yang kau bicarakan, Daf?" Alex melihat Dafa dengan wajah aneh. Nambah istri? tak pernah ada niat seperti itu. Baginya Ayna sudah cukup. Satu untuk selamanya.


"Ayna. Aku mau melamar istriku." Jelas Alex segera.


"Bukankah kalian sudah menikah? kenapa kau malah mau melamarnya?" Dafa bingung, tah apa isi kepala pria itu.


"Kau tahu. Kami menikah secara dadakan. Tak ada lamaran. Jadi aku ingin melamar dia." Alex ingin melakukan sesuatu hal yang istimewa untuk istrinya.


"Terus kalian mau menikah ulang, gitu?" Dafa memastikan.


"Kami kan sudah resmi menikah, Daf. Ngapain diulang. Aneh kau Daf, masa aku menikahi istriku sendiri." Alex menggeleng.


"Alex-Alex, sepertinya kau yang aneh, bukan aku."


Alex memilih sebuah cincin dengan batu pertama kecil di tengahnya.


"Masa cincin itu?" Dafa merasa seorang Alex, masa hanya bisa memberikan cincin yang menurutnya sangat biasa sekali.


"Jadi?"


"Wanita itu suka yang matanya besar dan berkilauan." Dafa menunjuk satu cincin bermata besar. Jika memakai itu, semua mata akan silau melihatnya.


"Yang ini saja. Ayna itu orangnya sederhana. Ia nggak akan suka yang seperti itu." Ucap Alex yang menyadari, Ayna tak pernah memakai kartu ATM yang pernah diberikannya. Paling kartu ATM yang khusus untuk belanja bulanan.


"Itu berat, Daf. Jika jari istriku patah, gimana?" Sambung Alex yang tak setuju dengan pilihan Dafa.


"Yang ini saja, Mbak." Ucap Alex menunjuk pilihannya.


"Berapa ukuran jarinya, Pak?" Tanya penjaga toko.

__ADS_1


Alex bingung, ia tak tahu ukuran jari Ayna.


"Tanya orangnya."


"Nanti nggak suprise." Ucap Alex menggenggam tangannya sendiri. Mengingat jari-jari Ayna saat mereka bergandengan tangan.


"Sepertinya sekelingking saya, mbak."


"Yakin?" Tanya Dafa.


"Pasti pas." Ucap Alex yakin.


"Kalau nggak pas, bahaya lho." Dafa menakuti Alex.


"Bahaya kenapa?" Tanya Alex memicingkan matanya.


"Begini Lex. Kalau cincinnya pas di jari adik ipar, bagus. Nggak ada masalah." Ucap Dafa menjelaskan perlahan.


"Cuma kalau kebesaran atau kekecilan. Bisa buat salah paham."


"Salah paham gimana?"


"Salah paham, Lex. Kalau cincin itu kau beri bukan khusus untuknya."


Alex tampak berpikir. Benar juga jika cincinnya tak muat di jari manis Ayna. Bisa saja Ayna berpikiran, jika cincin ini sebenarnya untuk orang lain dan bukan untuk dirinya.


"Masa aku harus mengukur jarinya diam-diam."


"Kau cari cincin lain yang disimpannya. Gampang, kan."


"Mbak, tolong disimpan dulu cincin itu. Nanti saya kembali lagi. Bawa ukurannya." Ucap Alex yang diangguki penjaga toko.


"Daf, kau pulang sendiri saja."


"Alex..." Dafa kesal, Alex sudah pergi begitu saja.


###


Alex memarkirkan mobilnya asal. Ia segera turun dari mobil dan melangkah cepat memasuki rumah.


'Bagus.' Alex mendengar percikan air di kamar mandi. Petanda Ayna sedang mandi.


Ia segera membuka lemari, mencari dimana kotak perhiasan istrinya. Cincin nikah sudah merekat di jari Ayna. Istrinya pasti punya cincin yang lain. Wanita kan suka mengkoleksi aksesoris.


Wajah Alex bahagia menemukan kotak yanh dicari. Ia mengambil satu cincin dan menyimpannya di saku.


Setelah menyimpan kotak itu, Alex pun segera keluar kamar. Ia harus segera kembali ke toko perhiasan.


"Alex, kamu sudah pulang?" Tanya Mama bingung melihat Alex. Ini masih jam 3.


"Ada yang ketinggalan, Ma. Alex pergi dulu ya."


'Kenapa anak itu?' Tanya Mama bingung, melihat putranya begitu terburu-buru.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2