SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 66 - RENCANA ACA


__ADS_3

"Ma, tampan banget." Ayna menutup mulutnya, saat melihat kagum pada layar tv. Ia sedang menonton drakor dengan sang Mama.


"Papamu, waktu muda dulu mirip seperti artis itu, Ay." Ucap Mama tersenyum mengingat masa mudanya dahulu kala.


"Tampan dong, Ma." Ayna menanggapi ucapan Mama.


"Siapa yang tampan?" Tanya Alex yang datang bersama sang Papa. Mereka ikut duduk di sofa.


"Mama bilang sama Ayna. Waktu muda dulu Papa mirip sama aktor korea itu." Jelas Mama mengkedipkan sebelah mata pada suaminya.


"Masa?" Tanya Alex melihat sang Papa yang merapikan rambutnya, karena dibilang mirip artis.


"Memang iya." Angguk Mama.


"Mirip dari mana sih, Ma?" Tanya Alex tak percaya. Ia melihat layar kaca, Papa tak ada mirip-miripnya dengan aktor itu.


"Waktu muda, Papa kamu mirip banget sama dia." Tegas Mama menunjuk layar kaca.


"Tapi yang di tv itu nggak ada mirip-miripnya sama Papa lho, Ma." Sanggah Alex tak terima.


"Mama bilang mirip ya mirip."


"Nggak mirip, Mama."


"Mirip lho, Alex. Waktu masih muda Papamu mirip banget lho."


"Nggak ada mirip-miripnya, Ma..."


Sementara Papa malah memakan keripik pisang, sambil menonton perdebatan Ibu dan anak itu.


Dan Ayna hanya bisa tersenyum samar. Mendengar debatan kedua orang itu. Ia menepuk lengan sang suami, tapi Alex masih saja berdebat dengan Mamanya.


"Kamu mana tahu Papamu waktu masih muda dulu. Kamu saja tah masih di mana Alex, di awang-awang mungkin." Mama kesal Alex tak percaya padanya.


"Mama kebanyakan halu." Ledek Alex.


"Kamu... nanti Mama masukkan balik kamu dalam perut." Mama mendengus kesal.


Alex malah tertawa. Ia pun menghampiri Mama, lalu memeluk sang Mama erat.


"Iya iya... Papa mirip sama artis itu." Alex akan mengalah pada Mamanya.


"Mirip banget pun, biar kamu tahu." Jelas Mama lagi.


"Mirip banget ya Ma... Lubang hidungnya." Bisik Alex segera.


Pletak


Mama menokok kepala sang putra. Bukannya kesakitan, Alex malah cengegesan.


"Mama, jangan kejam gitu sama anak." Papa merasa kasihan melihat Alex di tokok Mama.


"Iya, seperti Mama tiri." Timpal Alex mengelus kepalanya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang?"


"Sayang... Kepalaku ditokok, Mama." Alex bangkit dan menghampiri Ayna. Ia pun mengadu.


Ayna jadi terpaksa tersenyum melihat perdebatan itu. Ia tak mau membela pihak manapun.


"Oh iya Lex, dia sudah kamu pecat dari kantor?" Tanya Mama kemudian.


Alex mengangguk. Sementara Ayna melihat Alex. Wanita itu bingung, siapa yang sudah dipecat.


"Siapa yang dipecat, Mas?" Tanya Ayna.


"Mona... Mama sudah meminta Alex untuk memecat wanita itu. Dia tak pantas terus bekerja di sana." Mama yang menjawab.


"Kamu jangan bujuk-bujuk Alex untuk tetap membiarkannya bekerja. Mama nggak suka dia berkeliaran di sekitar Alex. Ngertikan kamu." Jelas Mama menatap Ayna dengan wajah serius.


"I-iya... Ma." Jawab Ayna jadi gugup diberi tatapan seperti itu.


Alex jadi tersenyum. Karena Mama yang bicara, setidaknya nanti istrinya tak akan merengek-rengek agar tidak memecat Mona.


"Seharusnya saat itu biarkan saja mereka mendekam di penjara. Kamu sih terlalu baik pada mereka."


###


Aca tampak sibuk dengan laptopnya. Matanya serius pada layar itu.


"Selesai juga..." Ia merenggangkan tubuhnya sejenak.


Tiba-tiba Aca kaget mendengar suara ribut-ribut di ruang tamu. Ia segera keluar dari kamar dan melihat beberapa orang berada dalam rumahnya.


"Apa yang kalian lakukan di rumahku?" Tanya Aca tak senang.


"Apa yang ibu lakukan di rumah ini?" Orang-orang itu malah balik bertanya.


Tak lama...


"Apa? Jadi rumah ini sudah dijual?" Aca tak habis pikir. Beberapa hari menginap di sel dan Arga sudah menjual rumah ini.


"Benar Bu, pak Arga sudah menjual rumah ini beserta isinya kepada pihak properti" Jelasnya.


"Arga... Kau keterlaluan." Aca berteriak kesal. Ia tadi mengira walau Arga menceraikannya, rumah ini pasti akan menjadi miliknya.


"Jadi kami mohon, ibu untuk segera meninggalkan rumah ini."


Aca mendengus. Ia benar-benar kesal. Uangnya sudah tidak ada, kemanalah dia harus tinggal.


Aca keluar rumah itu dengan menggeret koper. Ia hanya membawa beberapa pakaiannya. Itupun sempat tak diizinkan oleh mereka.


'Kemana aku harus tinggal???' Batin Aca berteriak.


Aca tak tahu mau tinggal di mana. Jika pulang ke rumah orang tuanya, apa mereka akan menerima dirinya? Mengingat saat itu ia kabur dari rumah begitu saja.


Aca berdiri di pinggir jalan. Ia benar-benar bingung mau kemana. Uangnya pun hanya pas-pasan saja.

__ADS_1


'Bukankah itu wanita saat di sel?' Aca tampak berpikir melihat wanita yang akan masuk ke toko seberang jalan.


Dengan cepat, Aca menyebrang jalan untuk menghampiri wanita itu.


"Hai... Ketemu lagi." Ucap Aca menepuk pundak Mona.


Mona akan beranjak pergi. Ia tak suka bertemu dengan wanita itu. Tapi Aca malah segera menahannya.


"Aku tak mempunyai tempat tinggal." Ucap Aca setelah mereka berada di sebuah kafe.


"Apa kau tak mempunyai orang tua?" Tanya Mona segera.


"Apa aku boleh menumpang di rumahmu?" Bukannya menjawab, Aca malah mengatakan hal lain.


"Tidak." Mona menjawab cepat.


"Aku tidak mempunyai uang untuk menyewa rumah. Aku ini pengangguran." Aca menjelaskan kondisinya sekarang.


"Bukan urusanku. Apa kau tahu sekarang aku juga sama sepertimu. Pe-ngang-guran." Ucap Mona jelas dan penuh penekanan.


"Wow..."


Mona menggeleng, bukannya bersimpati Aca malah seolah kagum. Otak Aca sepertinya sudah bergeser dari tempatnya.


"Aku sudah melamar ke Wijaya Grup."


Mona malah tertawa. "Apa kau kira kau akan diterima?" Bagaimana pun masuk ke perusahaan itu tidaklah mudah.


"Nggak." Aca tahu.


"Jadi apa yang kau harapkan?" Mona tak mengerti. Sudah tahu bakalan tak diterima tapi tetap mencoba. Bukannya itu membuang-buang waktu.


"Tapi aku bisa masuk pakai koneksi." Bisik Aca.


Mona menatap aneh. Siapa koneksi Aca?


"Ayna itu teman kuliahku. Sedikit banyak aku paham sifatnya. Dia itu orangnya nggak tega-an. Jika aku meminta maaf dengan tulus, bukankah dia akan membantuku?" Aca sangat paham akan sikap Ayna. Ia yakin Ayna akan memaafkannya dan membantumya untuk bisa bekerja di sana.


"Dan setelah aku masuk, aku akan..." Aca mendekat ke telinga Mona. Ia membisikkan rencananya.


"Jadi apa kau bersedia? Pria itu akan menjadi milikmu." Aca mulai meyakinkan Mona.


"Dan apa yang kau inginkan?" Tak mungkin Aca melakukan sesuatu tanpa ada maksud dan tujuan.


"Aku hanya ingin menghancurkan Ayna. Menghancurkannya menjadi abu." Aca tersenyum sinis seraya meremas tangannya geram.


"Tapi sebelum itu terjadi, biarkan aku tinggal di rumahmu!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2