
'Itu dia...' Aca tersenyum saat melihat seorang pria dari jauh. Pria itu berjalan begitu gagah dan berwibawa.
Aca pun berjalan menuju pria itu. Saat sudah dekat ia sengaja menabrakkan dirinya. Tapi...
Pria itu malah merubah haluan, membuat Aca jadi terjatuh ke lantai. Ia sudah tidak dapat menahan keseimbangan tubuhnya.
Niat hati ingin seperti cerita di film-film. Saat ia akan terjatuh, pria itu dengan repleks menangkapnya. Lalu mereka akan berpandangan sejenak. Di saat itu pula, ia akan mengambil kesempatan langka untuk mencium pria itu.
Dan kini semuanya hanya jadi khayalan. Ia malah terjatuh ke lantai dan parahnya jadi perhatian orang sekitar.
"Anda tidak apa?" Tanya pria itu melihat wanita yang terduduk di lantai.
"Pak Alex, tolong aku." Aca mengulurkan tangan, berharap dapat memegang tangan kekar pria itu.
Aca sungguh kesal, pria yang bernama Alex itu tidak punya simpati sedikitpun. Bukannya membantu berdiri, pria itu hanya diam saja.
Alex melambaikan tangan ke security.
"Tolong wanita ini, segera bawa ke rumah sakit terdekat." Pintanya.
"Baik, Pak."
Setelah berpesan pada security, Alex pun segera pergi.
"Pak-pak Alex..." Panggil Aca.
Alex tak menggubris panggilan itu, sudah ada security juga. Jadi untuk apa ia ikut campur.
Alex masuk ke lift dan sampai di lantai tempat ruangannya berada.
"Selamat siang, Pak. Ini Bu Emi, sekretaris yang akan menggantikan saya." Ucap sekretaris lama Alex.
'Tampan banget. Sudah nikah belum ya? Ishh...' Batin Emi melihat cincin kawin di jari Alex.
Alex hanya mengangguk dan masuk ke dalam ruangannya.
Sementara mata Emi masih melihat pria itu sampai masuk ruangan.
"Kamu bekerja yang benar, pak Alex itu sudah beristri. Lagian dia itu tipe setia." Ucap sekretaris lama melihat tatapan mencurigakan Emi.
"Saya cuma kaget, ada pria setampan itu ya." Emi mencoba mencairkan suasana.
'Setia? Setiap tikungan ada. Mana mungkin pria modelan seperti itu setia. Pasti simpanannya di mana-mana.'
###
Alex menekan-nekan ponselnya. Sudah lebih dari 10 kali menelepon, Ayna tidak menjawab panggilannya.
"Ma, Ayna mana?" Alex jadi menelepon Mamanya untuk menanyakan kabar sang istri.
"Kamu ngapain telepon jam segini? Lanjutkan kerjaan kamu sana. Kemanjaan." Jawab Mama dari seberang sana.
"Ayna nggak menjawab teleponku, dia baik-baik saja, kan?" Tanya Alex khawatir.
"Dia aman sama Mama. Bye."
Alex menghembuskan nafasnya cepat, Mama sudah mengakhiri panggilannya.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
"Masuk." Ucapnya segera.
"Ini berkas yang Bapak minta." Ucap Emi.
"Letakkan di meja." Jawab Alex masih menatap ponsel.
Bruk
"Ma-maaf Pak." Emi menunduk untuk mengambil berkas yang tak sengaja terjatuh.
Alex melirik sebentar dan malah disuguhi pemandangan alam.
'Apa-apaan dia? pasti sengaja mau menggodaku dengan itu?'
"Saya permisi, Pak." Emi meletakkan di atas meja sambil memberikan senyuman.
'Ayna... Aku akan menghukummu, karena sudah mengacuhkanku.' Alex melihat telapak tangannya, ia sudah membayangakan sesuatu yang sangat pas dalam genggaman.
Tepat pukul 4, Alex segera keluar dari ruangannya. Ia akan segera pulang, pikirannya sudah dipenuhi adegan panas dengan Ayna saja.
"Pak Alex... Ini-"
Alex menaikkan tangannya, membuat wanita itu terdiam.
"Ini sudah pukul 4. Waktunya pulang. Selesaikan besok saja." Ucap Alex lalu segera berlalu pergi.
Tak berapa lama Alex keluar dari mobil dan bergegas masuk rumah.
"Sayang..." Panggilnya.
"Selamat ulang tahun." Ucap kompak orang-orang dalam rumah.
Alex kaget, orang tua dan Ayna memberikan kejutan ulang tahun. Ayna menariknya menuju meja yang sudah tersedia kue ulang.
Alex pun meniup lilin lalu memotong kue. Potongan kue pertama diberikannya pada Mama.
"Ini untuk Mamaku yang cerewet minta ampunlah." Ucap Alex seraya memberikan kue.
"Cerewet pun Mama kamu. Selamat ulang tahun anak bandal. Semoga Mama sama Papa cepat gendong cucu." Mama memeluk Alex erat.
"Papa juga mengucapkan selamat ulang tahun. Anak Papa jadi pria tampan, bertanggung jawab dan setia seperti Papanya."
Alex tersenyum sambil memeluk Papa.
"Ini untuk kamu saja, Ay." Mama memberikan piring pada Ayna.
"Ayo, Pa. Kita makan di pinggir kolam." Ajak Mama membawa semua kue dan hanya meninggalkan sepotong kue dalam piring pada Ayna.
Alex menggeleng, Mamanya benar-benar.
"Mas Alex selamat ulang tahun. Semoga Mas Alex makin sayang dan cinta sama aku." Ucap Ayna full senyum.
"Terima kasih, sayang. Aku janji hanya sayang dan cinta sama kamu." Alex memeluk tubuh Ayna.
"Makan dulu kuenya, Mas." Ayna akan menyuapi kue pada Alex. Saat mulut Alex terbuka, Ayna malah menempelkan krim kue di hidung Alex.
"Ayna..."
Ayna berlari segera melihat Alex akan membalasnya.
"Sayang, kadoku mana?" Tanya Alex begitu menangkap Ayna. Ia segera memeluk, agar tidak kabur.
"Kadonya di kamar, Mas."
__ADS_1
"Mari kita ke kamar." Alex menggandeng Ayna segera menuju kamar.
"Bentar Mas, aku ambil du-" Begitu sampai kamar, Ayna akan mengambil kado yang disimpannya dalam lemari.
Alex segera menarik Ayna ke tempat tidur. Mendorong dan menidih tubuh mungil istrinya.
"Mas, kadonya disitu." Ayna menunjuk lemari.
"Aku mau kadonya itu kamu."
Alex akan menyosor bibir itu, dengan kedua tangan Ayna menutup mulut Alex.
"Mas, mandi sana. Krimnya celemotan, lho."
"Biarkan saja." Alex mau tak peduli.
"Mas..." Mata Ayna jadi melotot.
"Iya... Iya..." Alex pun segera bangkit dan berjalan ke kamar mandi.
"Sayang, 5 menit lagi aku keluar." Ucap Alex memberitahu.
Ayna mengelap tangannya yang kena krim kue dengan tisu.Lalu ia menuju lemari untuk mengambil kado.
"Sayang, aku-" Tak sampai 5 menit Alex sudah keluar. Ia sengaja mandi cepat, agar segera meminta kadonya.
"Mas..." Ucap Ayna menyerahkan kado.
Alex membukanya dan tersenyum melihat isinya. Ayna membelikan banyak dasi berbagai warna.
"Terima kasih." Alex senang menerima hadiahnya.
"Sayang, sekarang aku mau kamu."
Tak lama Alex membawa Ayna ke bawah kungkungannya. Lalu mencium bibir sang istri. Bukan hanya bibir, ciuman itu Alex berikan di seluruh tubuh Ayna. Ia melakukan pemanasan sebelum lanjut pada kenikmatan yang sesungguhnya.
Ayna menggeliat merasakan sentuhan yang menyetrum tubuhnya. Sentuhan yang membuat tubuhnya panas dingin.
Bibir Alex masih menggerayangi tubuh polosnya dan tangan itu juga menjelajah.
"Mas..." Ayna menekan kepala Alex padanya.
"Aku cinta kamu." Ungkap Ayna, menatap mata lembut pria itu.
"Aku sangat mencintaimu." Alex tersenyum bahagia melihat wajah Ayna yang begitu menginginkan dirinya.
Bibir mereka kembali berpangutan. Saling mengecap dengan lidah yang menari-nari.
"Alex... Ayna..." Suara Mama dari luar mengetok-ngetok pintu.
"Ada Dafa sama Jo di ruang tamu." Ucap Mama kembali.
"Sayang... aku temui mereka sebentar." Ucap Alex. Ia akan menemui temannya.
"Mas..." Ayna memeluk tubuh Alex erat.
Alex mengerti, mereka saat ini sudah tanggung. "Kita lakukan 10 menit."
Ayna menganggukkan kepala cepat.
.
.
__ADS_1
.