SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 19 - BERISI


__ADS_3

'Ay... aku merindukanmu. Seharusnya sekarang kita telah bersama.' Arga melihat foto-foto kenangan bersama Ayna dari ponselnya.


"Mas, kamu lihat apa?" Tanya Aca curiga. Dengan cepat Arga menutup galeri fotonya.


"Mas, tidur yuk." Ajak Aca memeluk manja lengan Arga.


Arga melepas tangan Aca dari lengannya. "Stop!"


"Mas..." Aca mendengus melihat Arga masuk ke dalam kamar. Setelah menikah Arga selalu menjaga jarak darinya, bahkan pria itu tak mau sekamar dengannya.


'Apa kau kira wanita itu mau kembali padamu?'


###


Ayna masih belum tidur, ia masih menatap punggung Alex dengan pikiran yang memenuhi kepalanya. Tentang menuruti Alex untuk resign atau mengikuti egonya yang tak mau kalah dari Aca.


Waktu terus berputar dan malam pun berganti pagi.


Alex keluar dari kamar dan melihat Ayna yang sibuk membuat sarapan. Ayna tak berpakaian kantor, istrinya masih memakai pakaian tidur semalam.


Pria itu menghela nafas panjang. Tadi malam tidurnya bahkan tidak bisa nyenyak. Alex sudah terbiasa tidur memeluk Ayna. Tadi malam sungguh sangat menyiksanya, seperti ada yang hilang dalam hidupnya.


Alex ingin segera berbaikan dengan Ayna, tapi Alex tak akan mengizinkan Ayna tetap bekerja di sana. Ia harus menahan dirinya, biarkan saja Ayna yang mengajaknya berbicara duluan.


"Mas, mau ke mana?"Tanya Ayna melihat Alex yang berlalu akan keluar pintu. Ia sudah masak untuk suaminya itu, masa Alex akan pergi begitu saja.


"Kerja." jawab Alex dengan nada datar seperti jalan tol.


"Sarapan dulu. Aku sudah masak, lho." Ayna segera menghampiri pria yang memasang wajah datar. Dari ekspresi sekarang Ayna merasakan jika Alex masih marah padanya.


"Mas... maafkan aku, ya." Ucap Ayna saat sudah berada di hadapan Alex.


Cup


Cup


Cup


Ayna menkecup seluruh wajah Alex, perlakuan istrinya membuat pria itu jadi tersenyum samar.


Jujur saja saat ini, Alex ingin menerkam Ayna. Dan kembali mendengar suara ******* istrinya.


Tapi Alex akan berusaha tenang, ia tak akan goyah. Ini pasti hanya trik Ayna, agar dia tetap diizinkan bekerja di kantor yang sama dengan orang itu.


Ayna menggandeng lengan Alex. Membawa sang suami menuju meja makan, lalu ia mengisi piring Alex dengan berbagai masakan.


"Ayo dimakan Mas. Aku masak spesial untuk Mas Alexku." Ucap Ayna dengan senyum mengambang.


'Pasti dia mau menyogokku, agar tetap bekerja di sana.'


Alex melahap masakan Ayna. Dan wanita itu berkali-kali bertanya bagaimana rasanya. Hanya anggukan yang diberikan Alex sebagai jawaban, bahwa masakan Ayna memang enak.


"Mas, aku sudah mengundurkan diri dari kantor." Ucap Ayna setelah memikirkannya semalaman. Ia akan menuruti pria di sampingnya ini.


Alex masih menatap Ayna, ia menunggu Ayna kembali berucap.

__ADS_1


"Aku pikir benar yang Mas Alex bilang. Jika bekerja di sana aku akan terus bertemu dengan mere-"


Ucapan Ayna terhenti tatkala Alex yang tiba-tiba memeluknya.


"Terima kasih kamu sudah mau mengerti." Ucap Alex mengeratkan pelukan. Ia cukup senang Ayna mau mendengarkannya.


"Sayang, boleh tambah?" Bisik Alex melirik piringnya yang kosong. Masakan Ayna sangat enak.


Ayna mengangguk dan mengisi kembali piring suaminya.


"Oh iya Mas... aku akan mencari pekerjaan." Ucap Ayna setelah mereka selesai makan.


"Mas bekerja di mana?" Tanya Ayna penasaran. Ia tak pernah tahu suaminya itu bekerja di mana. Mereka tak pernah mengobrol panjang secara pribadi.


"Itu... Wijaya Grup. Aku-"


"Apa?" Pekik Ayna membuat Alex tak jadi melanjutkan ucapannya.


"Wi-wi-wijaya Grup?" Ayna kembali memastikan pendengarannya.


Alex mengangguk pelan. "Iya. Wijaya Grup."


"Wah... yang kudengar untuk jadi karyawan di sana itu sangat sulit lho, Mas. Terlalu banyak seleksinya. Serius Mas bekerja di sana?" Ayna cukup kaget mendengar itu. Ia tidak menyangka Alex salah satu karyawan di sana. Wijaya Grup itu perusahaan besar. Bisa masuk ke sana saja adalah sebuah anugerah.


"Jadi, apa jabatan Mas di sana?" Ayna seolah enggan berhenti bicara. Sementara Alex tersenyum menikmati wajah bahagia Ayna.


"Aku-"


"Jangan-jangan manajer ya?" Lagi Ayna menyela ucapan Alex. Melihat apartemen mewah ini, pasti Alex punya jabatan tinggi di sana.


"Oh ya Mas, apa CEOnya itu masih muda?" Ayna kembali penasaran.


"Kenapa?" Tanya Alex curiga.


"Aku dengar katanya masih muda dan sangat tampan."


"Tampanan mana sama aku?"


"Mana aku tahu. Seharusnya aku yang bertanya begitu, karena Mas yang melihat langsung bagaimana bentuknya, kan." Ayna membalikkan ucapan Alex.


"Sama saja sih seperti aku. Tampan nan rupawan." Alex seolah enggan membandingkan. Ayna memutar malas bola matanya.


"Mas... aku boleh melamar di sana?" Tanya Ayna berharap. Mungkin Alex akan mengizinkannya bekerja di tempat lain.


"Memang kamu bisa diterima?" Tanya Alex seolah tak yakin.


"Mas..." Ayna yang kesal mencubit perut Alex, membuat pria itu meringis.


"Mas, lihat saja. Aku pasti akan diterima." Ayna yakin dengan pengalamannya selama ini.


"Kita lihat saja." Alex ingin tahu apa Ayna bisa diterima.


"Aku boleh bekerja?" Tanya Ayna memastikan.


Alex mengangguk pelan.

__ADS_1


"Mas, terima kasih." Ayna duduk di pangkuan suaminya.


Alex memeluk tubuh Ayna. Membawa wajah Ayna ke bidang dadanya.


Dug


Dug


Dug


Debaran hati Alex terdengar jelas di telinga Ayna.


"Mas..."


"Selalu seperti itu setiap dekat kamu." Alex mengerti apa yang ingin ditanya sang istri.


"Sayang..." Alex melonggarkan pelukannya, menatap mata Ayna dengan perasaannya yang terdalam.


"Aku mencintaimu." Alex mengungkapkan perasaannya. Meski pernikahan mereka saat itu dadakan. Tapi Alex serius dengan Ayna.


Wajah Ayna mendadak merona mendengar pengakuan Alex. Wanita itu pun menunduk malu.


Alex mengangkat dagu Ayna. Ia kembali menyatukan bibir mereka. Ayna menikmati setiap decapan. Alex begitu lembut membuatnya seakan melayang.


"Astaga...Mas, ini sudah jam berapa? nggak berangkat kerja?" Ayna tersadar saat sentuhan tangan Alex menyentuh ujung dadanya.


"Mas-Mas... harus bekerja sekarang. Jika terlambat nanti bisa dipecat." Ayna bangkit dari pangkuan Alex. Ia menyadari Alex beberapa hari ini selalu mangkir kerja.


Alex menunjukkan wajah kesalnya. Siapa yang berani memecatnya.


"Ki-ki-kita bisa lakukan nanti malam. Seharian ini aku akan istirahat." Ayna membuang wajahnya, meruntuki apa yang diucapkannya.


"Kamu istirahatlah." Alex tersenyum puas sambil mengelus kepala Ayna. "Kita akan lakukan sampai pagi."


Glek


Saliva Ayna rasanya susah ditelan mendengar ucapan suaminya itu. Ia akan habis nanti malam.


Ayna mengantar Alex sampai depan pintu. Pria itu sudah rapi sekarang. lengkap dengan dasi dan sepatu yang sudah Ayna semir hingga kinclong.


"Sayang... aku akan mengizinkanmu bekerja sampai ini berisi. Saat perut kamu ini sudah berisi kamu nggak akan aku izinkan bekerja." Alex mengelus perut rata Ayna.


"Aku pergi dulu."


Ayna mencium tangan Alex dan Alex mencium keningnya cukup lama. Menyalurkan kasih sayangnya.


"Mas... ini sudah berisi, lho." Ayna mengelus perutnya.


"Serius?" Alex melihat Ayna dengan serius meminta penjelasan. Mereka baru beberapa hari menikah, apa benih cintanya sudah tumbuh di rahim sang istri?


"Iya Mas, sudah berisi... berisi nasi goreng."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2