
"Kamu ngapain?"
Glek
Ayna dengan susah payah menelan salivanya. Tangan bahkan sudah gemetaran merasakan aura mencekam. Walau tak bisa melihat dengan jelas ekspresi suami dadakannya itu, karena Ayna membelakanginya. Tapi Ayna dapat merasakan hembusan nafas pria itu yang naik turun mengenai lehernya.
"Ti-tidak ada." Dengan tangan gemetaran Ayna menutup galeri fotonya. Alex pun mengambil ponsel itu.
Alex ingin marah, Ayna masih melihat foto-foto bersama mantannya. Untuk apa masih melihat foto kenangan itu. Pria itu tak mengerti dengan jalan pikiran Ayna.
"Aku hapus ya?" Tanya Alex berusaha tenang.
Ayna menganggukkan kepala pelan. Ia tak berani membalikkan badannya. Ia takut melihat Alex.
Dengan cepat jari-jari Alex menekan-nekan benda pipih tersebut.
Air mata Ayna berlinang saat satu folder tersebut mulai terhapus. Lebih dari 2000-an foto kebersamaannya dengan Arga hilang sudah.
"Sayang..." Alex membalikkan tubuh Ayna yang gemetaran. Dan lagi Alex harus melihat wajah itu penuh air mata.
"Ayna... tolong jangan seperti ini. Kamu membuatku seperti orang jahat." Ucap Alex dengan tatapan sendu. Ia merasa seperti dirinya yang memaksa pernikahan mereka.
"Kamu kan tidak dipaksa untuk menikah denganku, kamu yang ingin menikah denganku. Aku memaklumi alasan kamu. Tapi apa kamu pernah berpikir, kenapa aku bersedia menikah denganmu?" Alex mengatakannya sambil menatap mata Ayna yang kini mulai melihatnya.
"Aku bersedia menikah denganmu karena aku menyukaimu. Aku menyukaimu, Ayna." Aku Alex jujur.
Ayna menatap mata yang penuh keseriusan, mata yang tak ada kebohongan sama sekali.
"Jadi, tolong beri aku kesempatan-"
"Ma-maaf." Potong Ayna cepat sambil memeluk tubuh Alex. Ia merasa tak enak hati. Ia sendiri yang menunjuk dan meminta Alex untuk menikah dengannya. Tapi sikapnya pada Alex sekarang, seolah ia yang dipaksa menikah dengan pria ini.
Mendapati Ayna memeluk tubuhnya, Alex pun membalas pelukan itu. Ia mengulum senyum. Hanya pelukan saja membuat Alex bahagia, bagaimana lagi rasanya jika perasaannya terbalas.
"Kamu bisa masak?" Alex akan mengalihkan topik. Ia akan mengenal Ayna secara perlahan.
"Bi-bisa." Jawab Ayna dengan wajah masih ditenggelamkannya di dada Alex.
"Aku ingin makan masakan kamu."
"Apa ada bahan-bahannya?"
"Nggak ada."
"Kita harus belanja dulu. Mau temani aku belanja?"
###
Alex dan Ayna saat ini berada di sebuah swalayan yang menjual semua kebutuhan.
Mereka akan membeli keperluan dapur. Alex mendorong troli mengikuti Ayna yang memasukkan barang-barang yang dibutuhkan untuk memasak.
"Kalau sopnya ditambah jamur kamu suka nggak?" Tanya Ayna menunjukkan sebungkus jamur.
__ADS_1
Alex mengangguk pelan.
"Kalau brokoli? suka?"
Alex juga mengangguk.
"Kamu suka wortel?" Ayna terus menanyai Alex. Ia tak mau apa yang nanti dimasaknya, ternyata ada yang tak disukai Alex.
"Iya aku suka semua. Aku juga suka kamu.."
Wajah Ayna tiba-tiba merona, ia pun memasukkan saja apa yang dibutuhkannya tanpa bertanya-tanya lagi. Ucapan Alex membuat hatinya berdesir.
Alex tersenyum puas melihat tingkah Ayna. Baginya Ayna begitu menggemaskan.
Mereka masuk ke lorong snack. Mata Ayna berbinar melihat snack-snack itu. Ia pun berjalan sambil memasukkan snack tersebut ke dalam troli. Saat sampai di ujung lorong, Ayna melihat troli dan berwajah masam.
Snack-snack yang sudah dimasukkannya dalam troli di kembalikan lagi ke rak.
"Jangan banyak-banyak makan snack. Ini saja cukup." Ucap Alex seraya mengembalikan snack-snack tersebut ke raknya.
Wajah Ayna jadi murung, ia pun segera berjalan menuju kasir. Untuk mengantri melakukan pembayaran.
"Bayarlah." Alex menyerahkan troli lalu membuka dompetnya menyerahkan kartu ATM.
"Bayarlah pakai ini. Setiap bulan aku akan mentransfer uang belanja kemari." Setelah mengatakan itu Alex pun berlalu.
'Mau kemana sih dia?'
Tak lama setelah mengantri, kasir mulai menghitung belanjaan Ayna.
Ayna kaget, Alex tiba-tiba muncul membawa keranjang berisi es krim. Bukan hanya satu atau dua. Alex mengambil berbagai macam eskrim, mulai dari yang stik hingga yang pakai cup. Tapi semuanya rasa coklat.
Ayna juga melihat pria itu mengambil berbagai coklat di kasir. Dari yang kecil hingga yang besar ia ambil.
"Kamu bawa yang ini saja." Alex memberikan bungkusan berisi eskrim dan coklat saat Ayna akan membawa bungkusan yang cukup berat.
"Biar aku bawa saja." Ayna ingin membantu, tapi Alex tak mengizinkan.
"Sudah kamu bawa itu saja." Ucap Alex membawa 4 bungkusan berisi bahan makanan.
"Mas Arga ini berat." Ucap Ayna yang membawa bungkusan berisi buah tangan untuk calon mertuanya.
"Mana ada beratnya. Kamu sangat manja. Sudahlah kamu bawa saja, kan kamu yang mau membawakan itu untuk Mama." Ucap Arga kembali melangkahkan kaki. Pria itu tak mau Ayna manja. Yang sedikit-sedikit selalu mengeluh.
"Ayo Ay, itu taksinya."
Ayna tersadar dari lamunan masa lalunya. Ia mengangguk lalu masuk ke dalam taksi.
"Biar aku saja." Ucap Ayna saat melihat Alex yang dengan cekatan meletakkan bahan makanan dalam bungkusan-bungkusan itu ke tempatnya. Ayna merasa tak enak saja, ia hanya menyusun bungkusan yang dibawanya dalam lemari es.
Ayna mengambil satu eskrim dalam cup. Alex tak mau dibantu, jadi ia akan memakan eskrim saja.
"Ka-kamu sepertinya lebih tua dariku. A-apa aku boleh memanggilmu Mas?" Tanya Ayna takut-takut.
__ADS_1
Alex tersenyum samar, ia akan berpura-pura tak mendengarnya saja.
"Mas.."
"Mas.."
"Mas Alex.."
Alex tak menjawab panggilan Ayna.
"Dasar budek." Umpat Ayna.
"Apa kamu bilang?"
Seketika wajah Ayna pucat pasih melihat tatapan tajam.
"Ka-kalau nggak mau dipanggil Mas aku bisa memanggil yang lain. Om misalnya." Ucap Ayna menutupi kegugupannya.
"Aku akan memanggil Bapak saja." Ayna mulai takut tatkala Alex mendekati dirinya. Ayna mulai mundur selangkah.
"Paklek."
"Bos."
"Pakde."
Ayna mengatakan semua panggilannya. Dan Alex makin maju melangkah. Kini wanita itu tak bisa mundur lagi, karena terhalang meja makan.
"Ka-kamu bisa mengatakan panggilan apa yang kamu mau. Aku akan memanggilmu seperti apa yang kamu mau-"
Alex mengangkat Ayna agar duduk di meja makan. Kedua tangannya menghimpit tubuh mungil tersebut.
"Panggil aku Mas." Pinta Alex.
"Mas." Ayna mengikutinya.
Alex mengelus kepala Ayna. " Anak pintar."
Hati Ayna kembali berdesir atas perlakuan Alex.
"I-ini." Ayna yang canggung dan kikuk menyendokkan es krim ke mulut Alex. Mengalihkan tatapan nyaman pria itu.
Alex tersenyum smirk, ia pun membagi es krim dalam mulutnya pada Ayna. Membuat mata Ayna mendelik merasakan sentuhan dingin di bibirnya.
Ting Tong
"Aku akan buka pintu." Ucap Alex tapi sebelum membukakan pintu ia menkecup bibir Ayna sesaat. Lalu melangkah menuju pintu.
'Astaga jantungku!!'
.
.
__ADS_1
.