
Ayna membuka matanya perlahan. Ia memegang tengkuknya yang terasa masih sakit.
"Kamu sudah bangun? Kamu lapar?"
Ayna langsung menoleh ke arah suara. Tepatnya di sampingnya. Ia terkejut, saat ini ia berada di dalam mobil dengan Arga.
"Kenapa aku bisa bersamamu?" Tanya Ayna. "Di mana ini?" Ia hanya melihat pemandangan laut di depannya.
"Ay, tenanglah. Kita sedang di pantai. Kamu ingat dulu kita sering kemari." Arga bernostalgia mengingat kenangan indah, saat mereka bersama.
"Mana mas Alex? Aku harus meneleponnya."
Ayna merogoh tas untuk mengambil ponsel. Ia akan menelepon Alex. Arga yang melihat langsung menarik ponsel itu dan menonaktifkan.
"Ay, kita lagi bersama. Jangan pikirkan orang lain. Pikirkan saja aku." Bujuk Arga dengan nada lembut.
"Lepaskan aku... Aku mau bertemu mas Alex." Ayna mencoba membuka pintu mobil, tapi percuma pria itu sudah menguncinya.
"Lepaskan aku." Pekik wanita itu tetap mencoba membuka pintu mobil.
"Tenanglah, Ay." Tangan Arga terulur akan mengelus kepala Ayna.
"Jangan sentuh aku. Mas Alex... mas Alex... Mas Alex... Tolong aku..." Ayna mulai memanggili suaminya.
"Ayna..." Arga berusaha menenangkan.
"Mas Alex... Mas Alex... Mas Alex..."
"Diam!!!" Bentak Arga tersulut emosi. Ayna masih saja memanggili pria penikung menyebalkan itu.
"Mas Alex, mas Alex, mas Alex... Apa kau tahu, Ia sudah mati." Arga membohongi Ayna.
Ayna mendelik mendengar perkataan Arga. "Apa yang sudah kau lakukan pada Mas Alex?"
Air mata wanita itu pun tumpah. Apa yang sudah Arga lakukan pada Alexnya?
"Apa yang kau lakukan apanya? Kenapa kau menyakiti suamiku?" Ayna menangis sambil memukuli Arga dengan tasnya. Ia benar-benar khawatir dan tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
Melihat Ayna menangis demi pria lain, membuat Arga jadi kesal. Segitu berharganya Alex, hingga Ayna bisa menangisinya.
"Lupakan pria itu, Ay. Kita akan menikah. Kita akan lanjutkan impian kita. Rencana kita saat itu."
Arga memeluk tubuh Ayna. Dengan sekuat tenaga wanita itu menolak dan memberontak. Tapi tenaga Arga lebih kuat.
"Tenanglah, Ay. Aku akan membuatmu bahagia." Peluknya erat.
"Lepaskan aku. Mas Alex tolong aku. Mas Alex, aku takut. Ayah, Bunda... Tolong Ayna." Ayna masih memberontak mendorong tubuh pria itu.
"Diam!!! Kita akan pergi jauh." Arga menghidupkan mesin mobil. Ia perlahan melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Aku mau pulang. Aku mau pulang. Aku mau bertemu mas Alex. Dia nggak meninggalkanku." Ayna memegang setir mobil.
Laju mobil itu pun jadi tak teratur. Arga kesulitan mengemudikan mobil.
"Ayna..." Pekik Arga jadi ngerem mendadak. Karena mereka hampir menabrak pembatas jalan.
Ayna pucat dan tubuhnya gemetaran. Ia sangat ketakutan sekarang.
"Mas Alex... Mas Alex... mas Alex... Tolong aku..."
"Lebih baik kamu tenang, Ay." Dan lagi Arga menepuk tengkuk wanita itu. Sesaat kemudian tak ada mas Alex mas Alex yang terdengar.
Ayna kembali pingsan. Pria itu pun segera memasangkan sabuk pengaman. Ia harus segera membawa Ayna pergi.
Sejenak Arga menatap lembut wajah sang mantan. Dengan tatapan penuh cinta yang dulu selalu diberikannya pada Ayna.
"Sayang, lama tak melihatmu. Kenapa kamu makin cantik?"
Arga menyadari perubahan pada penampilan Ayna sekarang. Mantan pengantinnya itu jauh lebih cantik, dan bahkan sangat cantik, ketika sudah menikah dengan orang lain. Aura Ayna begitu terpancar. Berbeda saat ia dan Ayna masih menjalin hubungan dulu.
###
Alex fokus pada pekerjaannya. Tangannya tak sengaja menyentuh bingkai foto. Membuat bingkai itu terjatuh.
Alex segera mengambil fotonya saja. Karena bingkai itu sudah pecah. Sesaat ia menatap foto pernikahan mereka.
Alex meraih ponsel dan akan menghubungi Ayna. Sejenak video call dengan sang istri untuk mengembalikan semangat.
"Kenapa nggak aktif?" Gumam Alex. Ia sudah 3 kali menelepon Ayna, tapi ponsel Ayna tidak aktif.
Tiba-tiba Alex merasakan perasaannya tidak enak. Ia pun menelepon sang Mama.
"Ma... Apa Ayna di rumah? Ponselnya tidak aktif." Ucap Alex ketika panggilannya tersambung.
"Ayna? Dia ke kantor kamu."
"Dia ke kantor?" Tanya Alex memastikan.
"Iya, tadi dia izin sama Mama. Mau mengantar makan siang ke kantormu." Ucap Mama. Ayna tadi meminta izin seperti itu.
"Tapi... Ayna nggak ada kemari, Ma." Alex melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 3.
"Ayna ke sana lho, Lex. Tadi sekitar jam 10 dia pergi ke kantor kamu."
"Jam 10?" Alex teringat Arga yang tadi datang ke kantornya sekitar jam 10-an. Apa Ayna bertemu dengan Arga saat ke kantornya?
"Iya. Itu pak Supir sudah pulang dari tadi setelah mengantar Ayna sampai kantor kamu. Ayna menyuruhnya langsung pulang, karena dia mau pulang bareng kamu." Jelas Mama panjang.
Perasaan Alex makin tak enak. Pasti Ayna bertemu dengan Arga.
__ADS_1
"Ma, suruh pak supir menelepon pengawal yang mengantar Ayna."
"Ayna cuma pergi berdua dengan pak supir. Tak ada pengawal. Tapi kamu sendiri yang menyuruh pengawal itu, untuk tidak mengawal Ayna lagi. Karena kamu sudah pulang." Mama mengingatkan Alex.
Alex baru ingat. Ayna yang terus merengek padanya, karena tak mau diberi pengawal. Ia jadi tak mengutus pengawal. Lagian ia juga berpikir Ayna aman jika selalu bersamanya.
"Alex, apa terjadi sesuatu pada Ayna?" Tanya Mama khawatir.
"Alex akan pastikan dengan melihat CCTV, Ma."
"Kabari Mama segera."
"Baik, Ma." Alex mengangguk dan mengakhiri panggilan tersebut. Ia segera keluar ruangan untuk menjadi Jo.
"Jo, periksa CCTV." Pinta Alex.
"Baik." Jawab Jo cepat melihat Alex berwajah khawatir.
"Apa yang terjadi Pak?" Tanya Jo begitu mereka sampai di ruang CCTV.
"Ayna tidak ada di rumah. Mama bilang ia datang menemuiku untuk membawa makan siang. Sepertinya ada yang tidak beres." Alex sudah curiga sepertinya istrinya pergi dengan Arga. Atau mungkin diculik, mengingat Ayna yang sudah tak mau melihat Arga lagi.
"Tolong buka rekaman hari ini di pukul 10 pagi." Pinta Jo pada petugas CCTV.
"Baik, Pak." Jawab mereka patuh.
Rekaman mulai mereka pantau. Semua rekaman mereka lihat.
'Sayang, kamu di mana?' Alex masih mencoba menghubungi ponsel Ayna. Hanya operator yang menjawab bahwa nomor itu sedang tidak aktif.
"Pak Alex, ini pria yang berkelahi dengan anda tadi." Jo menunjuk sosok Arga dalam rekaman tersebut.
Mata Alex menatap fokus pada pergerakan Arga.
Saat itu Arga digeret keluar dari lobi perusahaan oleh security. Lalu pria itu menuju basemen tempat mobilnya terparkir. Dan tak berapa lama Ayna turun dari mobilnya.
"Itu Ayna. Kenapa dia turun di basemen?" Jo merasa bingung. Ayna kenapa tidak turun di depan lobi saja.
"Dia kurang nyaman turun di sana." Jawab Alex. Ayna pernah bilang, ia lebih suka turun di basemen dan berjalan ke lobi. Jika ia turun di lobi, security akan sibuk menyambutnya. Karena mereka tahu, Ayna istri atasannya.
"Apa yang dia lakukan?" Mata Alex terbelalak melihat Arga bicara dengan istrinya, lalu memukulnya. Arga juga menggendong istrinya masuk ke dalam sebuah mobil.
"Beraninya dia menculik istriku!!!"
.
.
.
__ADS_1