
"Mas..." Ayna duduk di sofa sambil memeluk tubuh Alex yang berada di sebelahnya, setelah Aca dan Mona pulang.
"Iya sayang, aku akan menerima mereka bekerja di sana." Jawab Alex segera. Ia langsung menjawab begitu, daripada nanti Ayna merengek lagi.
"Bukan itu, Mas." Sanggah Ayna cepat.
"Jadi?" Alex melihat Ayna dengan tatapan bingung.
"Begini, Mas. Apa Mas Alex ada menutup akses mereka ke perusahaan lain?" Tanya Ayna dengan wajah serius.
Alex menggeleng. "Tidak ada. Kenapa?"
"Bisakah Mas Alex atur, agar mereka gagal?" Ayna mulai memelas.
Alex merasa aneh. Tadi Ayna seakan mau membantu mereka mendapatkan pekerjaan.
"Maksud kamu?" Tanya Alex bingung.
"Tolong Mas Alex atur, agar mereka hanya lolos tahap pertama. Tapi gagalkan saat tahap kedua. Jika mereka memang gagal ditahap kedua itu bagus. Tapi jika mereka berhasil, gagalkan saja, Mas." Mata Ayna menatap Alex serius.
"Kamu nggak mau mereka bekerja di sana?" Tanya Alex mulai mengerti kemana arah pembicaraan sang istri.
"Iya, aku nggak mau mereka berdua berada di sekitar kita ataupun Mas Alex." Jelas Ayna kemudian.
"Jika begitu, kenapa nggak langsung kamu tolak saja tadi saat mereka masih ada di sini?" Menurut Alex, Ayna itu terlalu berbasa basi. Tinggal katakan tidak bisa, semua pasti langsung beres.
"Aku kan masih menjaga perasaan mereka, Mas. Jika tadi aku langsung tolak untuk membantu mereka, bisa saja mereka jadi marah padaku. Tapi jika perusahaan yang menolak, itu karena mereka tidak sesuai kriteria karyawan yang dibutuhkan di sana. Mereka tidak akan bisa marah padaku." Ayna sudah lega mereka meminta maaf. Tapi untuk berteman, lebih baik Ayna akan menjaga jarak aman.
"Ya sudah, nanti aku atur." Alex jadi begitu semangat, karena Ayna tak memaksanya membawa masuk kedua wanita itu dalam perusahaan.
"Biar saja mereka bekerja di tempat lain, Mas." Timpal Ayna kemudian.
"Iya... Iya." Alex mengangguk patuh.
"Mas, Aca itu temanku. Tapi ia tega menikungku di saat terakhir. Salahku juga yang sudah membuka jalan baginya." Ungkap Ayna sejenak. Mengingat betapa sakit hatinya saat itu. Ditinggalkan di hari pernikahan karena perselingkuhan dan pengkhianatan.
"Aku nggak mau dia menikungku lagi, dengan merebut Mas Alex dariku. Aku nggak mau jadi janda, Mas. Jadi sekarang... Aku akan menutup semua jalan masuk sampai celah kecil sekalipun." Tadi Ayna sempat melihat Mona dan Aca yang menatap suaminya dengan tatapan memuja. Walaupun mereka meminta maaf dengan tulus padanya. Tapi ia masih takut ditikung di lap-lap terakhir.
"Sayang, di mataku ini hanya ada kamu. Bagaimana mungkin aku dengan dia?" Alex seakan tak terima, jika dirinya bisa tergoda dengan Aca. Wanita itu sama sekali bukan tipenya.
"Tapi yang aku dengar nih, Mas. Saat itu Arga dijebak. Hingga akhirnya Arga terpaksa menikahinya dan meninggalkanku di hari pernikahan, Mas." Jelas Ayna kembali.
Alex terdiam, benar juga yang Ayna katakan itu. Jika pakai dijebak akan beda lagi ceritanya. Ia tak boleh membiarkan Aca atau wanita manapun selain Ayna, masuk ke dalam kehidupannya.
Sebagai pria, ia harus bisa menjaga hati dan pikirannya. Terlebih lagi menjaga nafsunya, agar tak tergoda rumput sebelah.
"Baiklah sayang, aku akan menuruti keinginan kamu. Tapi dengan satu syarat..." Alex pun mengajukan syarat.
"Syarat?" Ayna menatap aneh. Alex malah mengajukan syarat padanya.
__ADS_1
"Syarat yang pertama, kamu harus selalu percaya padaku. Karena dalam pernikahan harus dilandasi rasa percaya." Jelas Alex perlahan.
"Iya, Mas." Jawab Ayna dengan senyuman lebar.
"Dan syarat yang satu lagi, kamu harus mencintaiku selamanya. Di hati kamu harus hanya ada aku. Ingat hanya aku seorang." Alex menekankan ucapannya.
"Siap. Di hatiku hanya ada Mas Alexku sayang, dan..." Ayna sengaja menjeda ucapannya.
"Dan siapa?" Tanya Alex curiga. Apa masih ada sisa-sisa hati istrinya pada sang mantan?
"Dan cintamu dong, sayangku." Ayna mencubit gemas pipi Alex yang sudah cemberut.
"Aku akan selalu jaga hati buat kamu. Hanya kamu seorang." Alex menatap dengan tatapan cinta dan memuja.
"Baiklah, kita gembok dulu hatinya, Mas." Ayna memperagakan seolah sedang menggembok hati Alex. Dan menelan kuncinya.
Alex tertawa melihat tingkah istrinya. Ayna membuat hidupnya berwarna.
"Sayang, kamu tidur duluan saja. Ada pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan malam ini." Alex mengelus lembut kepala sang istri.
"Apa aku boleh membantu, Mas?" Tanya Ayna dengan manja.
Alex mengangguk. Dengan ditemani istrinya, kerjaannya pasti akan cepat selesai.
###
"Mas."
"Mas."
"Mas... Aku capek lho."
Alex menyuruh Ayna memijat bahunya.
"Sebelah kiri, Ay. Agak pegal ini." Pinta Alex menepuk bahu kirinya.
Dengan kesal Ayna pun kembali memijat. Tadi ia mengira akan membantu dalam urusan kantor. Ternyata disuruh jadi tukang pijat.
"Bantu apaan seperti ini?" Wajah Ayna mulai cemberut.
"Secara tak langsung kamu sudah membantuku. Tadinya aku capek, karena kamu pijat jadi hilang capeknya. Dan membuat pekerjaanku jadi cepat selesai." Alex merenggangkan tangannya. Pekerjaannya kini sudah selesai.
"Apa sih yang Mas kerjakan?" Tanya Ayna menundukkan kepala, tangannya memeluk leher pria itu dari belakang.
"Ini... Rahasia perusahaan." Jawab Alex mengelus kepala Ayna.
"Oh itu apa?" Tanya Ayna menunjuk laptop itu.
"Itu... Sini biar aku beri tahu." Alex menarik Ayna duduk di depannya.
__ADS_1
Alex dari belakang menerangkan apa yang telah dikerjakannya. Ayna hanya bisa mengangguk, hembusan nafas Alex di lehernya. Membuat tubuhnya jadi merinding.
"Kamu mengerti?" Tanya Alex setelah memberitahu hal itu.
"Sedikit." Ayna tidak terlalu paham.
"Nanti pelan-pelan aku akan mengajarimu." Ucap Alex.
Ayna mengangguk.
Alex mengarahkan wajah Ayna kehadapannya. Ia pun segera mencium bibir sang istri.
Keduanya saling membalas pagutan diiringi perasaan yang saling mengalun lembut.
Alex mendudukkan Ayna di meja kerjanya. Lalu kembali menyatukan rasa candu itu.
"Apa M-nya sudah berakhir?" Tanya Alex disela-sela ciuman mereka.
Ayna menggeleng pelan.
"Berarti kita harus menyelesaikan dengan cara lain." Goda Alex mengkedipkan mata nakalnya.
Ayna mengangguk, lalu mengalungkan tangannya di leher Alex. Ia menggigit gemas hidung mancung suaminya itu. Pasti pikiran Alex sudah menjelajah.
"Mas, kapan kita kencan?" Tanya Ayna mulai gugup. Jarak pandang mereka begitu dekat. Hingga nafas mereka saling menerpa wajah masing-masing.
"Besok bisa. Kamu mau kita kemana?" Tanya pria itu sambil menggesekkan hidung mereka.
"Kita nonton bioskop ya, Mas." Ajak Ayna. Ia ingin menghabiskan waktu diluar dengan suaminya.
"Ok... Besok kita ke bioskop."
Ayna tersenyum senang dan akan menyatukan bibir mereka. Tapi... Alex menahannya sejenak.
"Kenapa, Mas?" Tanya Ayna bingung. Biasanya suaminya itu begitu sangat bersemangat dalam hal sosor menyosor.
"Sebentar..." Ucap Alex melirik pintu. Ia pun berjalan menuju pintu dan menguncinya. Bahaya jika mereka sedang mesra-mesraan, ada yang mengganggu.
Pintu sudah dikunci, Alex kembali mendekati Ayna. Perlahan akan menyatukan bibir mereka. Saat dekat dan semakin dekat...
"Ayna... Mama bawa ole-ole. Kamu mau?!" Panggil Mama dari luar kamar.
"Mas, Mama pulang." Ayna mengulum senyum dan segera turun dari atas meja.
'Mama Mama!!!'
.
.
__ADS_1
.