
Ayna merenggangkan tangan sambil perlahan membuka mata. Ternyata hari sudah pagi. Ia melirik ke samping dan tak melihat suaminya.
'Kemana Mas Alex?'
Wanita itu memegangi wajahnya yang sudah memanas. Kembali mengingat pergulatan panas yang ia dan Alex lakukan sepanjang malam.
Alex begitu liar membuatnya menggila. Pria itu sungguh gagah perkasa.
'Mas Alex...' Ayna menutup wajahnya dengan selimut, ia juga menghentak-hentakkan kaki.
Ayna juga mengguling-gulingkan tubuhnya di tempat tidur dan...
Bruak...
"Aduh..." Ayna berteriak saat terjatuh dari tempat tidur.
"Sayang... kamu kenapa?" Alex yang mendengar suara berisik langsung berlari dari kamar mandi.
"Nggak a-" Mata Ayna ternodai melihat tubuh polos yang masih menetes air.
"Mas, pakai baju sana." Pekik Ayna membuang wajahnya. Walau sudah sering melihat dan menyentuhnya, tapi jika diperlihatkan tiba-tiba tanpa aba-aba. Bikin shock juga.
"Tadi aku masih mandi, mendengar kamu teriak aku jadi bergegas berlari kemari. Kamu nggak apa kan, Ay?" Wajah Alex tampak sangat khawatir.
"Aku nggak apa, Mas." Ayna perlahan bangkit dibantu Alex.
Setelah Ayna berdiri, mata keduanya saling bertemu dan menatap sejenak.
"Sayang..."
"Nggak, Mas." Ayna menggeleng, perasaannya tak enak melihat wajah Alex.
"Ayo, kita mandi bersama." Dengan cepat Alex menggendong Ayna bak karung beras menuju kamar mandi. Meski Ayna mengeliat minta diturunkan, Alex tak peduli.
Sejam kemudian...
"Sayang, ini rambut kamu masih basah." Alex mengeringkan rambut sang istri tercintanya dengan hairdrayer.
Wajah Ayna yang terpantul dalam cermin nakas itu terus cemberut. Suaminya itu tidak dapat dipercaya. Ia mengira hanya mandi biasa, ternyata mandi plus-plus.
"Sayang, senyum dong." Alex senyum melihat wajah cemberut itu. Ia mematikan hairdrayer dan segera menkecup wajah istrinya.
"Mas Alex...!" Pekik Ayna tambah kesal.
"Baiklah baiklah... aku buatkan kamu sarapan dulu." Sebelum melangkah keluar kamar, Alex menkecup bibir itu sejenak. Lalu segera berlari, seperti seorang pencuri.
###
Ayna keluar kamar dan melihat Alex yang berdiri di depan kompor.
'Apa dia bisa memasak?' Ayna mengulum senyum melihat Alex. Dengan perlahan kakinya melangkah ke pria tinggi itu.
"Mas Alexku sayang, masak apa?" Tanya Ayna memeluk Alex dari belakang.
"Spesial untuk kamu." Jawab Alex tersenyum lebar.
Karena penasaran Ayna melepas pelukannya dan melihat apa yang sedang dimasak pria itu.
Ayna terbengong. "Mas, rebus air?"
Alex mengangguk. "Di kemasan tertera tunggu sampai air mendidih."
Alex menunjukkan kemasan mie instant pada Ayna.
"Kamu tunggu sebentar ya. Rebus mie selama 3 menit." Alex mengambil ponsel
__ADS_1
nya dan mengatur waktu. Lalu ia pun memasukkan mie ke dalam air mendidih tersebut.
Ayna mengulum senyum, Alex tampak fokus melihat timer.
"Sebentar ya sayang." Alex tersenyum manis pada Ayna. Mengisyaratkan agar istrinya itu sabar menanti.
Ayna kini bingung, apa ia harus bahagia atu tidak? Alex membuatkannya makanan.
"5, 4, 3, 2, 1... ok selesai." Dengan cepat Alex mematikan kompor. Mie nya tidak boleh lewat dari saran penyajian.
Alex membawa 2 piring mie ke meja makan.
"Sayang, ayo dimakan. Aku yang buat untuk kamu. Mie spesial untuk kamu."
Ayna tersenyum, pria ini terlalu banyak gombal.
Mereka pun melahap mie itu dengan bahagia. Dengan senyum yang merekah.
"Mas, terima kasih sarapannya. Ini sangat enak." Ucap Ayna seraya menkecup pipi pria yang selalu membuat hatinya berdebar.
"Cepat habiskan. Kalau kurang biar aku masak lagi." Alex jadi bersemangat.
Setelah selesai sarapan, mereka duduk di ruang tamu. Alex memaksa Ayna duduk di pangkuannya.
"Ma, besok pagi saja kita ke pindahnya. Nanti sekalian ke kantor, Papa antar Mama." Ucap Alex menahan tawanya.
Sementara Ayna terpelongo, ucapan Alex terasa menggelikan terdengar di telinganya.
"Mas, apaan sih?" Ayna mencapit perut Alex.
"Sayang..." Alex meraih tangan Ayna dari perutnya.
"Cepat atau lambat kita akan jadi orang tua. Kita harus biasakan memanggil dengan sebutan Papa dan Mama mulai sekarang." Jelas Alex santai.
"Mas-"
"Mas, aku-"
"Mulai sekarang panggil aku Papa dan aku akan panggil kamu Mama."
"Nggak, Mas."
"Sayang.." Alex menarik hidung Ayna geram.
"Aku nggak mau." Ayna merasa Alex terlalu berlebihan. Panggilan seperti itu kan hanya saat bersama anak saja. Saat berdua panggilannya akan berubah lagi.
"Mama..."
"Mas..." Ayna merasa geli dipanggil begitu.
"Papa."
"Mas."
"Papa sayang."
Ting Tong
Ting Tong
Bel berbunyi membuat keduanya berhenti berdebat sejenak.
"Biar Papa saja yang buka."
Ayna memutar malas bola matanya dan turun dari pangukuan pria itu.
__ADS_1
Alex melangkah lebar menuju pintu. Dan saat dibuka terlihat seseorang yang tersenyum lebar.
"Alex, aku membuatkanmu sarapan." Ucap Mona.
"Aku tak membutuhkannya." Alex kesal, Mona berani mendatangi apartemennya. Ini bisa membuat Ayna salah paham.
"Aku sudah menikah. Tolong segera pergi dari sini, atau kamu mau security yang menyeretmu." Ancam Alex.
"Alex... aku hanya meminta satu kesempatan. Aku tahu kamu menikah dengan Ayna, hanya pelampiasan."
"Pergilah." Alex memelankan suaranya.
"Siapa Mas-" Ayna menghampiri Alex dan terkejut melihat siapa yang datang.
Mona geram melihat Ayna. Ayna memakai pakaian tidur yang cukup seksi. Pasti sengaja berpakaian seperti itu untuk menggoda Alex.
"Ada apa Mona kemari, Pa?" Tanya Ayna dengan nada manja. Tangannya memeluk lengan Alex.
Alex melirik Ayna sejenak. "Papa juga tak tahu, Ma."
Mona terdiam mendengar panggilan Papa dan Mama yang menurutnya sangat menjijikkan sekali.
"Pergilah." Alex menyuruh Mona pergi.
"Kau pasti menggodanya dan menjebakknya untuk menikahimu." Mona akan masuk. Ia ingin menghajar Ayna habis-habisan.
Tapi sebelum memulai aksinha, ia sudah ditahan Alex.
"Apa Mama menggoda Papa?" Ayna makin sengaja memanas-manasi wanita yang terus mengejar suaminya.
"Aku akan memanggil security." Alex menghempas tangan Mona lalu merogoh saku. Ia pun menghubungi pihak security.
"Alex, aku membencimu. Kalian berdua menjijikkan." Mona pun segera pergi, dari pada ia di geret security. Itu akan membuatnya malu.
"Mas, kenapa Mona bisa sampai depan pintu? bukannya keamanan di sini ketat?" Tanya Ayna dengan sorot mata tajam.
"Itu..." Alex bingung menjelaskannya. Ekspresi Ayna seperti ingin menerkamnya.
"Dulu aku sempat memberinya akses ke apartemenku. Tapi itu hanya sampai depan pintu. Dia nggak bisa masuk ke tempat ini sembarangan." Jelas Alex.
Tatapan mata itu makin setajam silet.
"Jadi Mona sering kemari gitu?" Ayna sudah berpikiran negatif. Alex dan Mona pasti sudah melakukan hubungan terlarang, hingga Mona bersikap seperti ini.
"Tidak. Baru kali ini." Jawab Alex jujur. Alex memang memberikan akses pada Mona, untuk mendatanginya saat ia mengalami kesulitan. Tapi wanita itu tak pernah mendatanginya. Alex selalu diacuhkan.
"Mas, bohong."
"Tidak. Aku jujur padamu."
"Tidak mungkin."
"Sayang..." Alex merasa bersalah melihat mata Ayna yang mulai berair.
"Kalau Mona hamil dan meminta pertanggung jawaban gimana?"
"Astaga." Alex menepuk jidatnya.
"Apanya yang hamil? aku bahkan tak pernah menyentuhnya, Ay. Jika saat itu aku sampai melakukannya, kita tidak akan menikah. Aku harus bertanggung jawab bukan?"
Ayna menatap mata Alex yang jujur dan tak ada kebohongan.
"Ay, percaya padaku."
.
__ADS_1
.
.