SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 69 - PESAN MAMA


__ADS_3

"Sayang, kalau kita pindah dari rumah kamu mau?" Tanya Alex duduk di tepian tempat tidur. Pria itu sudah mandi dan hanya memakai handuk yang terlilit di pinggangnya.


"Mau pindah kemana? Apa kita mau balik lagi ke sana, Mas?" Tanya Ayna sambil tangannya sibuk mencarikan pakaian di lemari, untuk dipakai Alex berangkat ke kantor.


"Kita nggak pindah ke sana. Aku akan menjual apartemen itu. Dan rencananya aku mau kita pindah ke tempat baru. Cari suasana baru, sayang." Jika kembali ke apartemen mereka, bisa saja masa lalu Ayna alias orang itu masih memantaunya.


"Kita mau pindah ke mana?"


"Kamu maunya ke mana?"


"Hmm... nggak tahu, Mas. Mana sajalah yang penting selalu bersama Mas Alex." Ayna ingin di manapun berada, Alex akan selalu ada di sampingnya.


Wajah Alex jadi tersenyum lebar mendengar itu.


"Nanti aku cari info rumah, terus kita cek lokasinya. Gimana?" Karena bukan Alex saja yang akan tinggal di sana, Ayna harus ikut serta memilih juga. Mana tahu istrinya tidak menyukai tipe rumah pilihannya.


"Boleh, Mas. Kalau bisa rumahnya jangan terlalu besar. Terus yang penting nggak ada yang tahu, kita tinggal di mana selain keluarga." Ayna sudah tak mau diganggu oleh masa lalunya.


"Iya, hanya keluarga saja yang tahu. Aku juga tak akan memberitahu Jo." Alex akan merahasiakan dari asistennya itu.


"Tapi... Apa Mama mengizinkan kita pindah, Mas?" Tanya Ayna kemudian.


"Nanti biar aku saja yang bicara sama Mama, tentang rencana pindah kita. Pasti Mama akan mengizinkan, sayang." Alex akan menceritakan tentang rencana pindah pada sang Mama. Ia akan mencari tempat tinggal yang hanya keluarganya saja yang tahu. Jadi tak akan ada yang datang bertamu.


"Baiklah, Mas. Ini cepat pakai bajunya, nanti kedinginan." Ayna menyerahkan pakaian pada pria itu.


"Sudah mengkerut pun ini. Kamu pakaikan ya." Alex sengaja memelaskan wajah dan nada bicaranya.


"Pakai sendiri deh, Mas." Ayna segera kabur keluar. Alex pagi-pagi sudah genit. Waktu hamil, tah apa ngidam sang Mama.


Ayna menyajikan sarapan untuk suami tercinta. Di sana juga ada Mama yang sedang sarapan.


"Ma, kemungkinan dalam waktu dekat kami akan pindah rumah." Ucap Alex memberitahu setelah makanan dalam piringnya ludes.


"Pindah? Kalian mau pindah ke mana? Kembali lagi ke apartemen kamu itu?" Tanya Mama yang merasa tak senang mendengar mereka akan pindah dari rumahnya.


"Tidak, Ma. Kami akan pindah ke tempat baru. Yang hanya keluarga saja yang tahu." Jawab Alex segera.


Mama melihat kedua anak dan menantunya itu bergantian.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu saja yang pindah dari sini. Ayna akan tetap tinggal di rumah Mama." Ucap Mama sambil tersenyum pada sang menantu. Selama Ayna tinggal di rumah, Mama jadi mempunyai teman ngobrol. Jika menantunya pindah, ia akan kesepian.


"Ma... Masa aku pindah sendiri, sih?" Alex menepuk jidatnya. Bisa-bisanya Mama hanya menyuruh dirinya yang pindah sendirian dari rumah ini, tanpa membawa sang istri.


"No debat! Ayna akan tetap tinggal di rumah ini. Kamu terserah saja. Mau pindah atau tetap di sini." Tegas Mama yang tak menerima bantahan.


Alex jadi bengong sendiri. Sebenarnya yang anak kandung Mama, yang mana sih.


"Ma... Ayna-" Ayna akan bicara.


Mama menggoyangkan telunjuknya, membuat Ayna tak melanjutkan ucapannya.


"Sudah gini saja, kalian harus tetap tinggal di rumah ini. Kalau kalian pindah, saat Alex pergi ke kantor, siapa teman kamu? Kalau ada apa-apa sama istrimu gimana?" Mama tak mau mereka pindah dari rumahnya. Jadi membuat alasan agar mereka tetap tinggal dengannya.


Ayna melihat suaminya. Alex masih terdiam sesaat.


"Sayang, benar kata Mama kita tinggal di sini saja." Benar juga apa kata Mama. Ayna akan sendirian nanti saat ia berangkat ke kantor.


"Ya sudah, terserah Mas Alex saja. Aku ikut saja." Jawab Ayna mengangguk.


"Oh iya, Mama dengar semalam Mona datang kemari sama wanita penikung itu? Mau apa mereka?" Tatapan Mama sudah setajam silet. Ia mendapat kabar dari para pekerja rumah.


"Hmm... jadi kamu maafin mereka?" Mama menaikkan suaranya sedikit.


"I-iya, Ma. Cuma maafin saja. Ayna sudah nggak mau berteman atau berhubungan dengan mereka lagi." Ayna menundukkan kepala.


"Memang harus seperti itu. Nanti kalau mereka datang lagi, akan Mama suruh penjaga rumah mengusir mereka. Dan ingat... kamu jangan pernah menemui mereka." Tegas Mama menatap Ayna. Mama merasa Ayna terlalu mudah luluh dan harus selalu diingatkan.


"I-iya Ma." Ayna menjawab pelan. Ia takut dengan tatapan mata Mama.


"Ma, jangan buat istriku takut. Cukup aku saja yang sering Mama marahi." Alex mengelus tangan Ayna. Ia tak tega melihat wajah takut istrinya.


"Mama nggak ada maksud membuat Ayna takut. Mama cuma mengingatkan jangan pernah menemui mereka lagi. Bisa saja mereka mempunyai maksud lain." Mama jadi menurunkan nada bicaranya.


"Kamu mau ditikung lagi?" Tanya Mama serius.


Ayna segera menggeleng cepat. Ia tak mau kejadian itu terulang kembali.


"Makanya ingat pesan, Mama. Jangan temui mereka lagi." Mama kembali mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, Ma. Ayna mengerti."


"Mama dengar, mereka juga datang ingin agar kamu membantu mereka masuk ke perusahaan?" Tanya Mama kembali.


Alex menghembuskan nafas. Para pekerja rumah, mata dan telinga mereka sangat tajam. Apapun kejadian di rumah ini, akan di sampaikan pada Mamanya itu.


"Iya, Ma. Tapi Ayna sudah menolak." Kini Alex yang menjawab.


"Jangan pernah terima mereka di perusahaan kita. Biarkan saja mereka mencari pekerjaan di tempat lain."


Alex dan Ayna mengangguk.


"Ingat kamu jangan pernah bertemu dengan mereka lagi." Tunjuk Mama pada Ayna.


"Dan kamu Alex, jangan mudah luluh juga kalau istrimu merengek. Lihat-lihat dia merengek untuk apa? Kalau hanya akan merugikan, lebih baik tak usah dituruti..." Mama mengoceh panjang mewanti-wanti keduanya. Mama hanya tak mau hubungan mereka berakhir hanya karena pihak ketiga.


Mama mendengar tentang Aca yang sempat menikung Ayna di hari pernikahan. Itu tak menutup kemungkinan jika akan menikung Ayna kembali. Walaupun katanya sudah meminta maaf dengan tulus, tapi bisa saja kejadian lalu terulang kembali. Lebih baik menjauh dari orang-orang seperti itu.


Tak lama Ayna mengantar Alex sampai depan teras rumah.


"Mama memang begitu, itu tanda kalau Mama sangat menyayangi kamu. Mama cuma nggak mau lihat kamu sedih. Jadi kamu wajar dengan sikap Mama, ya." Alex sudah wajar, dari kecil begitulah sikap sang Mama.


"Iya, Mas. Aku ngerti kok."


"Aku berangkat dulu. Kalau kamu sampai digigit sama Mama, baru telepon aku." Becanda Alex.


"Apaan sih, Mas." Ayna jadi tersenyum sambil menepuk manja pundak Alex.


Pria itu mengulurkan tangan dan dengan cepat sang istri menyalami tangan Alex. Tak lupa juga Alex menkecup kening dan kedua pipi Ayna.


Ayna melambaikan tangan pada mobil yang perlahan melaju.


"Ayna..."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2